Yuk Berkenalan dengan Kode Genetik Manusia, GENOM

By SHIETRA - Maret 24, 2019

Apa itu Genetik?
Seperti Apa itu Kode Genetik dan Bagaimana Cara Bekerjanya Gen pada Manusia?
Dijual perhiasan emas imitasi impor keren berkualitas KWANG EARRING, Toko Online Jakarta
Istilah Kode Genetik, tentunya sudah tidak asing lagi bagi sobat KWANG. Namun apa itu Genetik dan bagaimana Kode Gen tersebut bekerja pada tubuh dan pikiran manusia? Bila tubuh diumpamakan Mesin Komputer sebagai perangkat keras (hardware), maka Kode Genetik diibatkan sebagai perangkat lunak (software).
Ilmu pengetahuan paling canggih dan paling berkemabng saat abad ini adalah ilmu nano-teknologi, dan tentunya berbagai penemuan mengejutkan tentang Kode Genetik manusia yang telah berhasil dipetakan dalam “GENOM PROJECT”. Namun bagaimana Kode Genetik dapat menentukan nasib kita, ras manusia dan para makhluk hidup lainnya, tidak terkecuali sobat KWANG?
Kita sering mendengar atau membaca terminologi saintifik seperti DNA. Padahal, Kode Genetik manusia lebih banyak diperankan fungsinya oleh RNA. Ilmu kedokteran konvensional dan ilmu psikologi banyak digemparkan oleh berbagai penemuan berharga Kode Genetik mansuia, yang mana banyak penyakit dan penyimpangan perilaku yang sukar dijelaskan sebelumnya, kini lebih dapat dipahami.
Terdapat sebuah ulasan menarik dari Matt Ridley dalam bukunya berjudul GENOME : The Autobiography of A Species in 23 Chapters (GENOM : Kisah Spesies Manusia dalam 23 Bab), tahun pertama kali terbit 1999, Alih Bahasa : Alex Tri Kantjono W., Penerbit PT. Gramedia Pustaka Utama, Cetakan Kedua, November 2005, Jakarta. Yuk kita berkenalan dengan Kode Genetik kita sendrii. Terungkap fakta-fakta kode genetik kita, para manusia, dengan uraian sebagai berikut:
Jika DNA diumpamakan sebagai Roma, maka RNA adalah Yunani. Jika DNA diumpamakan sebagai Virgil, maka RNA adalah Homer. Jadi “sang kata” itu adalah RNA. RNA meninggalkan lima jejak kecil yang menunjukkan bahwa ia hadir lebih dahulu daripada baik protein maupun DNA.
Bahkan sekarang, unsur-unsur pembentuk DNA dibuat dengan cara mengubah unsur-unsur pembentuk RNA bukan melalui cara lebih langsung. Begitupula, huruf T pada DNA dibuat dari huruf U pada RNA.
Banyak enzim modern, meskipun terbuat dari protein, bergantung pada molekul-molekul kecil RNA agar dapat bekerja dengan baik. Selain itu, RNA, tidak seperti DNA dan protein, dapat menyalin diri sendiri tanpa bantuan: asalkan bahan-bahan yang tepat sudah ada, RNA akan merajut semuanya menjadi sebuah pesan.
Apabila Anda dapat memandang ke dalam sel, fungsi-fungsinya yang paling primitif dan paling mendasar memerlukan kehadiran RNA. Pesan dari gen, yang dibuat dari RNA, diambil oleh sebuah enzim yang bergantung pada RNA.
Selanjutnya, pesan itu diterjemahkan oleh ribosom, sebuah mesin yang mengandung RNA, dan asam-asam amino yang diperlukan untuk translasi pesan dari gen itu diambil dan dibawa oleh sebuah molekul RNA kecil.
Akan tetapi, lebih dari semua itu, RNA—tidak seperti DNA—dapat bertindak sebagai katalisator, dapat menguraikan atau menggabungkan molekul-molekul lain termasuk RNA-RNA sendiri.
RNA dapat memotong-motong molekul, menyambung ujung-ujung molekul-molekul, membuat building block sendiri, termasuk memperpanjang rantai RNA. Molekul ini bahkan dapat bekerja pada diri sendiri, memotong sebagian teksnya, kemudian menyambung ujung-ujung potongannya kembali.
Pertemuan sifat-sifat sangat istimewa pada RNA ini dalam tahun 1980-an, oleh Thomas Cech dan Sidney Altman, telah mengubah pemahaman kita tentang awal kehidupan. Sekarang tampaknya menjadi mungkin bahwa gen yang pertama, “ur-gene”, adalah gabungan replikator-katalisator, sebuah ‘kata’ yang dapat mengonsumsi bahan kimia di sekitarnya untuk membuat duplikat dirinya sendiri.
Gen itu mungkin sekali terbuat dari RNA. Dengan berulang kali memilih molekul-molekul RNA secara acak dalam tabung percobaan berdasarkan kemampuannya mengkatalisis reaksi, kita dapat menghadirkan proses evolusi RNA dari awal—atau dengan kata lain mengulang proses awal terjadinya kehidupan.
Dari salah satu hasil yang paling menghebohkan adalah bahwa RNA sintesis ini sering diakhiri dengan sepenggal teks RNA yang ketika dibaca sangat mirip dengan sebagian teks pada sebuah gen RNA ribosom misalnya gen 5S pada kromosom 1.
Kembali ke zaman sebelum dinosaurus pertama muncul, sebelum ikan pertama, sebelum cacing pertama, sebelum tumbuhan pertama, sebelum jamur pertama, sebelum bakteri pertama, dunia pastilah hanya dihuni oleh RNA—yakni sekitar empat miliar tahun lampau, tidak lama setelah planet bumi ini terbentuk dan ketika jagat raya sendiri baru berumur sepuluh miliar tahun.
Kita tidak tahu bagaimana tampang “organisme ribosom” ini. Kita tidak tahu persis cara mereka bertahan hidup. Kita tidak tahu apa yang sudah ada sebelum mereka. Kita hanya dapat memastikan hanya mereka pernah ada, dari petunjuk-petunjuk seputar peran RNA yang masih bertahan dalam makhluk-makhluk hidup dewaasa ini.
Organisme ribosom ini mengalami sebuah masalah besar. RNA bukan zat yang stabil, artinya, zat ini akan mengurai dalam beberapa jam. Apabila organisme ini berada di tempat yang pantas, atau mencoba tumbuh terlalu besar, mereka harus menghadapi sesuatu yang oleh ahli genetika disebut bencana kekeliruanpelapukan pesan secara cepat dalam gen-gen.
Salah satu di antaranya, melalui cara coba-coba dan setelah berulang kali salah, akhirnya menemukan versi RNA baru yang lebih tangguh yang disebut DNA, juga sebuah sistem untuk membuat salinan RNA dari DNA, termasuk sebuah mesin yang akan kita sebut proto-proto-ribosom merajut salinan-salinan genetik menjadi satu, tiga huruf demi tiga huruf, cepat tetapi cermat.
Tiap tiga huruf tadi diberi tanda dengan sebuah label sehingga lebih mudah ditemukan oleh proto-ribosom, label yang terbuat dari asam amino. Belakangan, label-label itu menjadi satu membentuk protein-protein dan kata yang terdiri atas tiga huruf tadi menjadi semacam kode untuk protein—yakni kode genetik itu sendiri.
Justru kitalah yang telah mempertahankan ciri-ciri molekul primitif dari para Luca ini dalam sel-sel kita; atau dengan kata lain, bakteri jauh lebih tinggi berevolusi daripada manusia.
Cerita yang melawan arus ini didukung oleh “fosil-fosil” molekuler—yakni serpihan kecil RNA yang berkeliaran di dalam inti sel kita, mengerjakan hal-hal tidak perlu seperti saling merekatkan diri ke luar gen menjadi RNA pemandu, RNA lengkung, RNA inti kecil, RNA butir inti kecil, dan intron yang mampu menyambung-nyambungkan sendiri.
Bakteri tidak memiliki semua tadi, dan lebih mudah untuk percaya bahwa mereka membuang semua itu ketimbang bahwa kita mengambil semuanya tanpa tujuan dan manfaat yang jelas. (Yang mungkin mengejutkan, ilmu pengetahuan semestinya menangani teori-teori sederhana sebagai sesuatu yang lebih masuk akal daripada teori-teori kompleks, kecuali jika ada alasan untuk berpendapat sebaliknya; prinsip yang dalam logika disebut Occam’s razor.)
Bakteri men-drop RNA-RNA lama ketika mereka menginvasi tempat-tempat panas seperti sumber air panas atau batuan-batuan di perut bumi dengan temperatur bisa mencapai 170 derajat Celsius—guna meminimumkan kesalahan akibat panas, sehingga proses kehidupan menjadi lebih sederhana.
Setelah men-drop RNA, bakteri menemukan bahwa ada mesin seluler baru yang lebih praktis, membuat mereka lebih mampu bersaing pada lingkungan yang terdiri atas makhluk parasitis dan pemakan bangkai-sampah, yang kecepatan berbiaknya menguntungkan.
Kita, manusia, (justru) masih mempertahankan RNA-RNA lama itu, tidak memakainya, tetapi tidak pernah membuangnya ke luar dari tubuh. Tidak seperti dunia bakteri yang sangat kompetitif, kita—termasuk semua hewan, tumbuhan, dan jamur—tidak pernah masuk ke situasi persaingan seganas itu sampai perlu menyederhanakan diri supaya lebih gesit.
Tampaknya kita lebih suka hidup sebagai makhluk kompleks, dengan gen sebanyak-banyaknya, daripada menyederhanakan diri, yang harus dibayar dengan melepaskan sejumlah kenikmatan.
Spesies manusia bukan puncak evolusi. Evolusi tidak mempunyai puncak, dan yang disebut kemajuan evolusioner tidak pernah ada. Seleksi alam hanyalah proses ketika bentuk-bentuk kehidupan berubah guna menyesuaikan diri dengan segudang peluang yang disediakan oleh lingkungan sekitar dan oleh bentuk-bentuk kehidupan lain.
Bakteri penghirup asap hitam, yang hidup dalam lubang-lubang sumber belerang di dasar Lautan Atlantik dan diturunkan dari sekumpulan bakteri yang berleluhur sama dengan leluhur kita tidak lama setelah kemunculan Luca, ternyata jauh lebih berkembang daripada nasib seorang kerani bank, misalnya, sekurangnya pada tingkat genetik. Mengingat masa generasinya yang lebih pendek, makhluk itu memiliki lebih banyak waktu untuk menyempurnakan gen-gennya.
Obsesi buku ini dengan kondisi salah satu spesies, spesies manusia, tidak mengatakan apa pun tentang pentingnya spesies ini. Tentu saja manusia memang unik. Mereka sungguh mesin biologis paling penting di planet ini. Akan tetapi kompleksitas bukan segalanya, dan tujuan evolusi bukan itu.
Setiap spesies di planet ini unik. Bahkan keunikan seperti komoditas yang berlimpah. Kendati pun demikian, saya sengaja berusaha meneliti keunikan manusia dalam bab ini, guna menyingkap penyebab kekhasan kita sebagai salah satu spesies. Maafkan kalau sebagai manusia saya terlalu mementingkan kelompok sendiri.
Kisah tentang primata tak berbulu asal Afrika yang belakangan ini menjadi terlalu banyak hanyalah sebuah catatan kaki dalam sejarah kehidupan, tetapi dalam sejarah primata tak berbulu kisah yang sama menjadi sentral. Apa tepatnya kekhasan spesies ini?
Secara ekologi manusia adalah sebuah sukses. Mereka barangkali hewan besar yang paling berlimpah di seluruh planet. Seluruhnya hampir enam miliar, yang kalau ditumpuk bisa setara dengan sekitar 300 juta ton biomassa.
Satu-satunya hewan besar yang menyaingi atau melebihi jumlah ini adalah hewan yang telah kita jinakkan—sapi, ayam, dan biri-biri—atau hewan yang bergantung pada habitat buatan manusia: misalnya burung gereja dan tikus.
Kebalikannya, gorila gunung di dunia mungkin tidak sampai seribu ekor dan bahkan sebelum kita mulai membantai mereka dan mengerosi habitat mereka, jumlah keseluruhan mereka mungkin tidak lebih dari sepuluh kali jumlah sekarang.
Selain itu, spesies manusia telah membuktikan kemampuan yang menakjubkan untuk menaklukkan habitat-habitat berbeda, dingin atau panas, kering atau basah, dataran tinggi atau rendah, kepulauan atau gurun.
Spesies besar lain yang dapat ditemukan di semua benua kecuali Antartika mungkin hanya berkik, burung hantu lumbung, dan camar merah; namun mereka tidak pernah keluar dari habitat tertentu.
Tidak perlu diragukan bahwa sukses ekologis spesies manusia ini terpaksa dibayar mahal sekali, dan tanpa kearifan dalam waktu dekat akan ada bencana besar yang menghadang. Sesungguhnyalah, sebagai spesies yang sukses kita pesimis sekali soal masa mendatang. Walaupun, untuk saat ini kita memang sukses.
Sementara itu, ada kebenaran yang tidak dapat dipungkiri, yakni bahwa kita berasal dari serangkaian panjang kegagalan. Kita primata, yang hampir punah empat puluh lima juta tahun silam ketika bersaing dengan binatang penggerek yang rancangan tubuhnya lebih baik.
Kita berkaki empat, kelompok binatang merayap yang hampir punah 360 juta tahun silam ketika bersaing dengan ikan bersirip keras yang rancangannya lebih baik.
Kita tetrapoda sinapsida, sebuah kelompok reptil yang hampir punah dua ratus juta tahun silam ketika bersaing dengan dinosaurus yang rancannya lebih baik.
Kita chordata, salah satu filum yang dengan susah payah berhasil lolos dari zaman Kambrium lima ratus juta tahun silam ketika bersaing dengan antropoda yang giginya tertanam kuat. Sukses ekologis kita terhitung prestasi yang luar biasa, mengingat di atas kertas leluhur kita justru paling rentan.
Selama empat miliar tahun sejak Luca, Last Universe Common Ancestor, sang kata atau RNA makin terampil dalam membangun yang oleh Richard Dawkins disebut “mesin survival” : yakni kumpulan besar, berdaging yang dikenal sebagai tubuh, yang terampil membalik entropi secara lokal sehingga replikasi gen di dalamnya pun lebih baik.
Mereka melakukannya melalui sebuah proses coba-coba yang serius dan tidak tanggung-tanggung, yang juga dikenal sebagai seleksi alami. Triliunan tubuh baru kemudian terbentuk, teruji dan mampu berkembang-biak asalkan mampu memenuhi syarat-syarat bertahan hidup yang makin lama makin berat dan ketat.
Mula-mula, ini hanya sekadar efisiensi kimiawi: tubuh terbaik terbangun atas sel-sel yang telah menemukan cara untuk mengubah bahan-bahan kimia lain menjadi DNA dan protein.
Fase ini berlangsung selama kira-kira tiga miliar tahun dan ini membuat seolah-olah kehidupan di bumi, tanpa peduli apa pun yang terjadi di planet lain, sarat dengan peperangan antara berbagai galur amoeba. Tiga miliar tahun semasa hidup triliunan triliun makhluk bersel tunggal, masing-masing bereproduksi namun mati selang beberapa hari kemudian dalam proses coba-coba besar-besaran itu.
Kendati pun demikian kehidupan tidak berakhir. Kira-kira satu miliar tahun yang lalu, dengan sangat tiba-tiba, hadirlah sebuah tatanan dunia baru, dengan kemunculan tubuh-tubuh lebih besar, bersel banyak, makhluk-makhluk besar yang jumlah seolah-olah meledak.
Hanya dalam sekedipan mata geologis (yang disebut ledakan Kambrium atau Cambrium explosion, mungkin hanya berlangsung sekitar sepuluh atau dua puluh juta tahun), tiba-tiba muncul sejumlah besar makhluk jauh lebih kompleks: trilobit dengan panjang hampir 30 cm yang berenang melejit-lejit; cacing-cacing berlendir yang lebih panjang lagi; ganggang hampir setengah meter yang berenang mengalun-alun. Makhluk bersel tunggal masih mendominasi, tetapi bentuk-bentuk kehidupan besar dan lebih kaku yang memiliki mesin-mesin survival raksasa ini segera membentuk kelompok besar mereka sendiri.
Dan anehnya, tubuh-tubuh bersel banyak tadi mengalami kemajuan yang seperti serba kebetulan. Walaupun kadang-kadang mengalami pengurangan jumlah besar-besaran akibat meteorit yang menghujami bumi dari ruang angkasa, yang malangnya cenderung memusnahkan bentuk-bentuk kehidupan lebih besar dan lebih kompleks, ada pula kecenderungan lain yang lebih mudah dipahami. Makin lama keberadaan suatu hewan, makin kompleks struktur sebagian dari mereka.
Secara khusus, otak jenis hewan paling berotak makin lama makin besar pada turunan-turunan berikutnya: otak terbesar di zaman Paleozoik lebih kecil daripada yang terbesar di zaman mesozoik, yang lebih kecil daripada yang paling besar di zaman Kenozoic, ...;
Tidak ada sedikit pun pada penampilan simpanse yang tampak sembilan puluh delapan persen mirip saya. Sungguhkah begitu? Dibandingkan dengan apa? Jika Anda membuat dua model tikus dari bahan Plasticene (semacam plastik yang mudah dibentuk) kemudian mengubah yang satu menjadi seekor simpanse dan lain menjadi manusia, sebagian besar perubahan yang Anda buat akan sama. Jika Anda membuat dua model amoeba dari bahan Plasticene kemudian mengubah yang satu menjadi seekor simpanse dan yang lain menjadi manusia, hampir semua perubahan yang Anda perlukan akan sama.
Keduanya akan memerlukan tiga puluh dua buah gigi, kulit yang kering, tulang belakang dan tiga tulang kecil di bagian tengah telinga. Dari perspektif seekor amoeba, atau dari sebuah telur yang telah dibuahi, simpanse dan manusia sembilan puluh delapan persen sama.
Tidak ada tulang dalam tumbuh simpanse yang tidak saya miliki. Tidak ada bahan kimia (yang telah kita kenal) dalam otak simpanse yang tidak dapat ditemukan dalam otak manusia. Tidak ada bagian dalam sistem kekebalan, dalam sistem pencernaan, dalam sistem peredaran darah, dalam sistem kelenjar getah bening, atau dalam sistem saraf (yang telah kita ketahui) yang kita miliki tetapi tidak dimiliki oleh simpanse, atau sebaliknya.
Bahkan, tidak ada lobus pada otak simpanse yang tidak ada pada otak kita. Dalam upaya terakhir dan mati-matian untuk membela spesiesnya dari teori bahwa mereka turunan ungka, pakar astronomi zaman Victoria, Sir Richard Owen, pernah mengatakan bahwa hipokampus minor adalah lobus otak yang hanya ada pada otak manusia, maka pastilah itu tempat bersemayamnya otak dan bukti bahwa kita ciptaan Allah paling sempurna.
Ia tidak dapat menemukan hipokampus minor dalam otak gorila yang baru dibawa dari Kongo oleh petualang Paul du Chaillu. Thomas Henry Huxley yang berang menanggapi bahwa hipokampus minor sungguh ada pada ungka. “Tidak, tidak ada,” bantah Owen. “Ada,” jawab Hexley.
Dalam waktu singkat, pada tahun 1861, “soal hipokampus” menjadi masalah hangat di seantero London zaman Victoria, sampai diangkat dalam pentas komedi berjudul ‘Punch’ dan dalam novel Charles Kingsley, ‘The Water Babies’.
Pokok gagasan Huxley—yang bergaung keras sampai ke zaman modern—lebih dari sekadar anatomi: “Saya bukannya bersikeras menumpukan martabat Manusia pada makhluk berjari ini, kaki panjang, atau secara tidak langsung mengatakan bahwa kita kalah andaikata ungka mempunyai hipokampus minor. Sebaliknya, saya hanya berusaha meniadakan kebanggaan berlebihan yang tidak perlu ini.” Dalam kenyataan, Huxley memang benar.
Bagaimana pun, saat ini baru kurang dari 300.000 generasi manusia sejak leluhur bersama kedua spesies ini hidup di Afrika bagian tenagh. Jika Anda menggandeng tangan ibu Anda, dan ia menggandeng tangan ibunya, kemudian nenek Anda menggandeng ibunya, dan seterusnya, barisan itu hanya akan memagari jalan antara New Yord dan Washington sebelum Anda berpegangan tangan dengan ‘the missing link’—sesama leluhur kita dengan simpanse.
Lima juta tahun adalah waktu yang lama, tetapi evolusi bekerja tidak dalam tahun melainkan dalam generasi. Bakteri dapat menghasilkan generasi sebanyak yang sama hanya dalam dua puluh lima tahun.
Bagaimanakah wujud mata rantai yang hilang ini? dengan mengais-ngais catatan fosil leluhur langsung manusia, ilmuan secara menakjubkan mulai semakin banyak tahu. Gambaran yang paling dekat dengan makhluk itu barangkali adalah kerangka manusia-kera yang disebut Ardipithecus dari kurun waktu hanya lebih sedikit dari empat juta tahun silam.
Walaupun ada ilmuan yang berspekulasi bahwa Ardipithecus telah memangsa ‘the missing link’, rasanya itu mustahil: makhluk tersebut memiliki tulang panggul yang dirancang terutama untuk berjalan tegak; memodifikasi itu kembali ke rancangan tulang panggul macam gorila dalam garis keturunan simpanse; pastilah sangat tidak mungkin.
Kita perlu menemukan fosil berusia beberapa juta tahun lebih tua untuk meyakinkan tampang kita sewaktu menjadi leluhur bersama manusia dan simpanse.
Akan tetapi, dari Ardipithecus, kita dapat menebak, bagaimana kira-kira tampang sang mata rantai yang hilang: otaknya mungkin lebih kecil daripada otak simpanse modern. Tubuhnya setidaknya sama gesit ketika berjalan dengan dua kaki seperti simpanse modern. Makanannya pun barangkali sama dengan pada simpanse modern: kebanyakan buah-buahan dan sayuran. Kaum prianya atau lebih tepat para jantannya, berperawakan cukup lebih besar dibanding para betina.
Genertika Mendel kurang lebih sama dengan geometri Euclides ketika berupa memahami bentuk permulaan sebatang pohon jati. Kecuali Anda cukup sial sehingga memiliki kondisi genetik yang langka dan serius, dan kebanyakan kita tidak demikian, dampak gen pada kehidupan kita bersifat gradual, parsial, campur-campur dan sebagainya.
Anda tidak tinggi sekali atau kerdil sekali, tetapi seperti kacang percobaan Mendel, kebanyakan Anda berada di antara keduanya. Anda tidak keriput atau licin bak pualam, tetapi di antara kedua esktrem itu. Ini bukan sesuatu yang mengejutkan sekali, karena kendati teorinya telah diajarkan, tidak ada gunanya membayangkan air sebagai sebuah kumpulan bola-bola bilyar kecil yang disebut atom, maka kita juga tidak harus membayangkan tubuh sebagai produk gen tunggal yang tidak terkait dengan apa pun.
Sebagaimana cerita dari kaum tua-tua kita, sifat yang diturunkan agak mirip dengan gado-gado. Pada wajah Anda mungkin ada raut yang diturunkan dari pihak ayah, tetapi unsur dari pihak ibu juga ada, namun Anda tidak harus sama dengan adik atau kakak Anda—ada sesuatu yang unik pada penampilan Anda sendiri.
Selamat datang ke pleiotropi dan pluralisme. Tampang atau penampilan Anda tidak dipengaruhi oleh satu gen yang khusus mengurusi tampang, tetapi oleh banyak gen, juga oleh faktor-faktor bukan genetik, terutama mode dan kehendak bebas di antaranya.
Kromosom 5 sebuah tempat yang bagus untuk mulai mengobok-obok kolam genetika dengan mencoba membangun gambaran yang sedikit lebih rumit, sedikit lebih tersamar dan sedikit lebih kelabu daripada yang sejauh ini telah saya paparkan.
Akan tetapi saya belum akan mengajak Anda terlalu jauh ke kawasan ini. Segalanya harus tahap demi tahap, maka saya akan masih berbincang seputar penyakit, walaupun tidak begitu hitam-putih dan tidak harus penyakit “genetik”.
Kromosom 5 adalah tempat kedudukan beberapa gen yang dicurigai sebagai “gen asma”. Namun segala sesuatu tentang mereka mencanangkan pleiotropi—istilah teknis untuk banyak karakteristik yang dimunculkan oleh banyak gen.
Asma telah terbukti mustahil dilacak sampai ke gen tertentu. Asma secara mentah-mentah menolak untuk disederhanakan. Asma tetap sesuatu yang umum bagi banyak orang. Hampir semua orang mempunyai asma... ; mengapa asma menyerang orang tertentu tetapi tidak menyerang orang lain.
Paling banter gen ini hanya memegang peran kecil dalam keseluruhan cerita, yang dapat diberlakukan pada sekelompok kecil tertentu atau mempunyai pengaruh yang dapat dengan mudah dikalahkan oleh faktor-faktor lain.
Yang terbaik bagi Anda adalah membiasakan diri terhadap ketidakpastian macam ini. Makin dalam kita masuk ke dalam genom, mungkin akan makin besar ketidakpastian itu. Kondisi serba kelabu, penyebab yang bervariasi dan taksiran yang samar-samar bukan sesuatu yang asing dalam sistem ini.
ini bukan karena yang pernah saya katakan bab-bab terdahulu tentang pewarisan partikulat yang sederhana salah besar, tetapi karena unsur sederhana yang tumpuk bersama unsur-unsur sederhana lain tetap menghasilkan kerumitan.
Genom sama rumit dan sama tidak pasti dengan kehidupan biasa, karena genom memang kehidupan yang biasa. Ini bisa dianggap melegakan. Determinisme, kendati sederhana, entah dalam soal genetika atau lingkungan, berpeluang mendatangkan rasa tertekan pada mereka yang lebih mengutamakan kehendak bebas (the free will).
Cerita tentang eugenika akan disisakan untuk salah satu bab di belakang, tetapi tidak begitu mengherankan bila cerita tentang uji kecerdasan ini telah menyebabkan sebagaian besar ilmuan, terutama dari ilmu-ilmu sosial, sangat tidak percaya kepada uji-uji IQ.
Ketika bandul sedang berayun menjauhi rasisme dan eugenika beberapa saat menjelang Perang Dunia Kedua, pandangan yang sama tentang kecerdasan yang diturunkan menjadi hampir seperti ditabukan. Orang-orang macam Yerkes dan Goddard telah mengabaikan sama sekali pengaruh lingkungan terhadap kemampuan.
Lebih konyol lagi, mereka telah menguji orang-orang tidak berbahasa Inggris menggunakan soal-soal berbahasa Inggris dan menguji orang-orang buta huruf dengan uji-uji yang mengharuskan mereka memegang pensil untuk pertama kalinya.
Keyakinan mereka terhadap kecerdasan turunan terlalu berlebihan sehingga belakangan para kritikus secara umum menyatakan bahwa semuanya tidak benar.
Bagaimanapun, manusia mempunyai kemampuan belajar. Tingkat kecerdasan mereka dapat dipengaruhi oleh pendidikan sehingga barangkali psikologi harus dimulai dari pengandaian tidak ada unsur turunan sama sekali dalam kecerdasan: semuanya menyangkut masalah pelatihan.
Sains berusaha maju dengan menegakkan hipotesis-hipotesis kemudian menguji semua itu bertujuan untuk mencari kekeliruan. Akan tetapi dalam kenyataan tidak selalu demikian.
Sebagaimana para determinis genetik tahun 1920-an yang selalu mencari penegasan atas gagasan-gagasan mereka dan tidak pernah mencari bukti-bukti menjatuhkan, begitu pula para determinis lingkungan tahun 1960-an selalu mencari bukti-bukti yang mendukung dan menutup mata terhadap bukti-bukti yang menentang, ketika seharusnya mereka aktif mencari bukti-bukti tersebut.
Yang menjadi paradoks, inilah sisi sains di mana seorang “pakar” biasanya lebih keliru dibanding orang awam. Orang biasa selalu tahu bahwa pendidikan penting, tetapi mereka juga selalu percaya bahwa sebagian kemampuan adalah bawaan. Para pakarlah yang pada hakekatnya telah menempatkan diri pada posisi-posisi ekstrem dan tak masuk akal pada ujung spektrum.
Perbedaan antara kepribadian saudara kembar yang dipisahkan dan diasuh oleh dua keluarga yang terpisah, hampir tidak terdeteksi ketika dua puluh tahun kemudian mereka saling dipertemukan kembali. Alih-alih menunjukkan pengaruh kuat pengasuhan untuk membentuk pikiran, studi itu justru membuktikan kebalikannya: kekuatan naluri.
Kendati dimulai oleh para penganut determinisme untuk pengaruh lingkungan, studi terhadap anak-anak kembar yang dibesarkan terpisah selanjutnya dipakai pula oleh para ilmuwan di kubu yang berseberangan, khususnya oleh Thomas Bouchard dari University of Minnesota.
Dimulai pada tahun 1979, ia mengumpulkan pasangan-pasangan kembar terpisah dari seluruh dunia dan mempersatukan mereka kembali sekalian menguji kepribadian dan IQ mereka. Sementara itu, studi-studi lain memusatkan perhatian pada pembandingan IQ orang-orang diadopsi dengan IQ orang tua adopsi, IQ orang tua kandung juga dengan saudara kandung mereka.
Ketika semua studi itu disatukan, sehingga menghasilkan uji IQ yang mencakup puluhan ribu orang, tabelnya akan tampak sebagai berikut. Dalam tiap kasus angka yang dicantumkan adalah persentase korelasi, korelasi seratus persen menunjukkan kesamaan sempurna sedangkan nol persen menunjukkan perbedaan acak.
- Orang yang sama di uji dua kali = 87.
- Kembar identik dibesarkan bersama = 86.
- Kembar identik dibesarkan terpisah = 76.
- Kembar fraternal dibesarkan bersama = 55.
- Saudara kandung = 47.
- Orang tua dan anak-anak tinggal serumah = 40.
- Orang tua dan anak-anak tinggal terpisah = 31.
- Anak adopsi tinggal serumah = 0.
- Orang lain yang tinggal terpisah = 0.
Tidak mengherankan bila korelasi tertinggi terjadi antara kembar identik yang dibesarkan bersama-sama. Dengan gen dari sumber yang sama, dikandung dalam rahim yang sama dan dibesarkan dalam keluarga yang sama.
Tujuan utama ilmu sosial abad kedua puluh adalah melacak bagaimana perilaku kita dipengaruhi oleh lingkungan sosial; sebaliknya, kini kita dapat membalik sasaran tersebut dengan melacak bagaimana lingkungan sosial dipengaruhi oleh naluri sosial bawaan.
Jadi, kenyataan bahwa semua orang tersenyum ketika bahagia dan cemberut ketika khawatir, atau bahwa pria dari semua budaya merasa bahwa ciri-ciri kemudaan merupakan daya tarik seksuil bagi wanita, mungkin semuanya adalah ekspresi naluri, bukan budaya.
Atau universalnya hubungan cinta romantis dan keyakinan religius barangkali menyiratkan bahwa ini lebih dipengaruhi oleh naluri ketimbang oleh tradisi. Budaya, menurut hipotesis Tooby dan Cosmides, adalah produk yang muncul dari dalam tiap individu bukan sebaliknya.
Selain itu, salah besar sekali jika orang memperlawankan bawaan dengan pengasuhan, karena semua yang dipelajari bergantung pada kemampuan bawaan untuk belajar, juga kendala bawaan terhadap yang harus dipelajari.
Sebagai contoh, jauh lebih mudah mengajari seekor kera (juga manusia) takut kepada ular dibanding mengajarinya takut kepada bunga. Akan tetapi Anda tetap harus mengajarkannya. Takut kepada ular adalah salah satu naluri yang harus dipelajari.
Kata “evolusioner” dalam psikologi evolusioner tidak terlalu merujuk kepada minat terhadap keturunan yang mengalami modifikasi, juga tidak kepada proses seleksi alam sendiri—yang kendati menarik, semua tadi belum dapat diamati untuk kaitannya dengan pikiran manusia, karena prosesnya terlalu lambat—akan tetapi merujuk kepada pokok ketiga dalam paradigma Darwin: konsep adaptasi. Organ biologis yang kompleks dapat menjalani proses rekayasa terbalik untuk mengurai tujuan perancangannya, sebagaiamna proses yang sama diterapkan kepada mesin-mesin canggih.
Ada suatu wilayah kecil yang tampaknya merupakan pindahan baru dari kromosom X, yakni yang disebut daerah pseudo-autosom, dan di situlah letak gen sangat penting, gen SRY. Gen ini memulai serangkaian peristiwa yang bertujuan memaskulinkan janin. Jarang ada satu gen tunggal memiliki kekuasaan sebesar itu. Walaupun hanya menghidupkan satu saklar, banyak kejadian selanjutnya yang berawal dari situ.
Alat kelamin menumbuhkan penis dan testis, bentuk dan struktur tubuh berubah dari perempuan (jenis kelamin default dalam spesies kita, tetapi tidak demikian pada burung dan kupu-kupu), dan berbagai hormon mulai bekerja pada otak.
Beberapa tahun yang lalu, di sebuah jurnal ilmiah berjudul ‘Science’, ada satu ilustrasi jenaka yang menggambarkan peta kromosom Y. Gambar itu, menurut pengakuan yang membuatnya, menunjukkan lokasi gen-gen tertentu untuk perilaku-perilaku khas pria, misalnya senang memindah-mindah saluran televisi, kemampuan mengingat dan menceritakan lelucon, minat terhadap halaman olahraga di surat kabar, ketagihan film-film pembunuhan dan kekerasan, dan ketidakmampuan mengungkapkan kasih sayang atau perhatian lewat telepon.
Lelucon itu lucu, namun, hanya karena kita semua tahu bahwa pria sering seperti itu, dan karena itu jauh dari memperolokkan gagasan bahwa kebiasaan-kebiasaan tersebut ditentukan secara genetik, lelucon tersebut malahan memperkuat gagasan yang sama.
Satu-satunya yang salah pada diagram itu adalah bahwa perilaku pria bukan berasal dari gen-gen khusus untuk masing-masing sifat, melainkan dari maskulinisasi umum terhadap otak oleh hormon-hormon seperti testoteron yang mengakibatkan kecenderungan berperilaku seperti itu di lingkungan modern.
Jadi, dari satu sisi, banyak kebiasaan maskulin merupakan produk-produk gen SRY sendiri, yang menjadi pemicu berlangsungnya serangkaian kejadian yang mengarah ke maskulinisasi otak serta tubuh.
Gen SRY adalah gen yang istimewa. Urutannya sangat konsisten pada semua pria: tidak ada mutasi titik sama sekali (yaitu, tidak ada perbedaan pengejaan satu huruf pun). Dalam pengertian tersebut, SRY merupakan gen bebas variasi yang nyaris sama sekali tidak berubah sejak leluhur.
Kromosom 8 : Mementingkan Diri Sendiri. Richard Dawkins dalam ‘The Selfish Gene’: “Kita pada hakekatnya mesin-mesin survival—wahana-wahana macam robot yang diprogram secara membuta untuk melestarikan molekul-molekul egois bernama gen. Inilah kebenaran yang masih membuat saya terpana.”
Buku petunjuk pemakaian yang disertakan pada perlatan baru kadang-kadang bisa membuat frustasi. Buku itu sering tidak menyediakan informasi yang justru paling diperlukan, selain mengharuskan Anda mengambil jalan memutar sampai kelelahan dan putus asa.
Akan tetapi masih untung jika buku petunjuk itu tidak disisipi lima lembar iklan atau instruksi panjang lebar soal cara mengadu ikan Lou Han. Untung pula tidak ada sisipan lima kopi instruksi lengkap tentang cara membuat mesin yang akan berfungsi membuat salinan perangkat instruksi yang sama.
Selain itu masih ada satu keuntungan lain, yakni petunjuk yang harus Anda baca tidak terpecah-pecah menjadi dua puluh tujuh paragraf berbeda diselingi sejumlah halaman berisi informasi sampah sedemikian sehingga mendapatkan petunjuk asli pun sebuah pekerjaan sangat berat.
Namun begitulah gambaran paling tepat tentang gen retinoblastoma manusia dan, sejauh yang kami ketahui, ini gen yang khusus manusia: terdiri atas dua puluh tujuh paragraf ringkas informasi bermakna yang diselang-seling dengan dua puluh enam halaman panjang tulisan lain.
Ingat bahwa gen adalah untaian DNA yang menginformasikan resep untuk protein. Akan tetapi sembilan puluh tujuh persen genom kita tidak seluruhnya berisi gen sebenarnya. Selain gen-gen sebenarnya, seluruh genom terdiri atas sekumpulan himpunan wujud yang asing yang berturut-turut disebut pseudogen, retropseudogen, satelit, minisatelit, mikrosatelit, transposon, retrotransposon: yang secara kolektif dikenal sebagai “DNA sampah”, atau kadang-kadang, barangkali lebih tepat, disebut “DNA egois”.
Sebagian gen ini memiliki kekhususan, tetapi kebanyakan betul-betul hanya kumpulan DNA yang tidak pernah diterjemahkan ke dalam bahasa protein. Karena kisah tentang kumpulan ini dituturkan sehabis pembicaraan kita soal konflik seksuil dalam bab yang lalu, bab ini akan kita khususkan untuk DNA sampah.
Untungnya ini sebuah tempat yang bagus untuk mengisahkan cerita mereka karena saya sungguh tidak mempunyai sesuatu yang lebih khusus tentang kromosom 8. Itu tidak berarti bahwa ini kromosom yang membosankan, atau bahwa gen di dalamnya hanya sedikit, namun memang tidak ada satu pun gen pada kromosom 8 yang cukup menarik perhatian saya. (Untuk ukurannya, kromosom 8 cukup dapat diabaikan, dan ini salah satu kromosom yang paling tidak terpetakan.)
DNA sampah terdapat pada setiap kromosom. Namun, ironisnya, DNA sampah adalah bagian pertama pada genom manusia yang telah menemukan penerapan praktis dan nyata dalam kehidupan sehari-hari manusia. DNA sampah inilah yang dipakai untuk sidik jari DNA.
Gen adalah resep untuk protein. Akan tetapi tidak semua resep protein adalah resep yang dikehendaki. Resep protein paling umum di seluruh genom manusia adalah resep protein yang disebut reverse transcriptase. Gen pembuat reverse transcriptase tidak mempunyai kegunaan sama sekali bagi manusia. Andaikata setiap gen ini lewat sulap dapat dibuang dari genom seseorang pada saat pembuahan, kesehatan, umur, dan kebahagiaan orang bersangkutan alih-alih memburuk justru akan menjadi lebih baik.
Reverse transcriptase penting sekali bagi parasit tertentu. Enzim ini merupakan bagian yang berguna sekali pada genom virus AIDS: salah satu penyebab paling penting untuk kemampuannya menginfeksi dan membunuh korban-korbannya.
Sebaliknya, bagi manusia, gen pembuatnya merupakan gangguan bahkan ancaman. Namun ini salah satu gen paling umum dalam seluruh genom. Ada beberapa ratus salinan gen ini, atau barangkali ribuan, yang tersebar di seluruh kromosom manusia.
Ini kenyataan yang sangat memprihatinkan, sama seperti mendengar kabar bahwa kegunaan sebagian besar mobil adalah untuk membantu penjahat melarikan diri. Mengapa gen-gen itu ada di sana?
Tentang ini ada sebuah petunjuk dari reverse transcriptase. Enzim ini mengambil salinan RNA sebuah gen, menyalinnya kembali menjadi DNA kemudian memasukkan salinan itu ke dalam genom. Enzim ini semacam tiket pulang untuk sebuah salinan gen.
Dengan cara inilah virus AIDS dapat memasukkan salinan genomnya sendiri ke dalam DNA tuan rumah tanpa diketahui oleh siapa pun, mengurusi dan dengan efisien membuat salinan sebanyak-banyaknya.
Sebagian besar salinan gen reverse transcriptase dalam genom manusia berada di sana karena ditaruh oleh retrovirus-retrovirus (retrovirus adalah jenis virus yang teksnya RNA) yang sudah dikenal, yang entah sudah lama berada di sana atau relatif masih baru.
Ada beberapa ribu genom virus hampir lengkap yang terintegrasi dalam genom manusia, sebagian besar di antaranya sekarang dalam keadaan tidak aktif atau kehilangan salah satu gen penting. Human endegenous retroviruses atau Hervs ini, mencapai 1,3 % dari seluruh genom. Kedengarannya tidak banyak, tetapi asal satu saja bahwa gen yang “benar” pun hanya 3%.
Jika menurut Anda menjadi turunan kera sangat tidak bergensi, pertimbangkanlah bahwa itu masih jauh lebih baik daripada mengaku bahwa Anda turunan virus.
Akan tetapi mengapa para perantara itu tetap ada? Sebuah genom virus dapat meniadakan sebagian besar gen virus dan hanya mempertahankan keberadaan gen-gen reverse transcriptase. Selanjutnya parasit yang ringan dan gesit ini dapat melepaskan bisnis kotornya, yakni berpindah-pindah dari satu orang ke orang lain melalui ludah atau hubungan seksuil, dan sebaliknya hanya pindah dari generasi ke generasi dalam genom korban-korbannya. Parasit yang betul-betul genetik.
Akibatnya, tiap gen Alu barangkali suatu “pseudogen” (bakal jadi gen benar atau gen tak sempurna) atau gen semu. Pseudogen, sesuai analogi terdahulu, boleh diandaikan kapal-kapal karatan yang karam karena bocor-bocor di bawah garis air akibat berbagai mutasi besar lalu terbenam. Sekarang semuanya tenggelam di dasar lautan genom, makin lama makin berkarat (terus mengalami mutasi) sampai belakangan tidak lagi menunjukkan kemiripan dengan gen asal mereka.
Sebagai contoh, ada sebuah gen tanpa karakteristik tertentu pada kromosom 9, yang, jika Anda ambil salinannya dan setelah itu memeriksa seluruh genom untuk mencari rangkaian menyerupai gen ini, Anda akan menemukan yang Anda cari pada empat belas lokasi di sebelas kromosom: yakni empat belas kapal hantu yang telah tenggelam. Mereka semua salinan yang sangat berlebihan yang, masing-masing telah mengalami mutasi dan tidak digunakan lagi.
Hal serupa mungkin juga dialami oleh gen-gen paling fungsional—artinya, untuk setiap gen yang aktif, selalu ada beberapa salinan rongsokan di tempat lain dalam genom.
Yang menarik seputar kelompok empat belas yang khas ini adalah bahwa mereka tidak hanya terdapat pada manusia, namun juga pada monyet. Ada tiga gen semua manusia yang “tenggelam” setelah perpisahan antara monyet Dunia lama dan monyet Dunia Baru. Artinya, kata para ilmuan yang belum sembuh dari terkejut, mereka dibebas-tugaskan dari fungsi seabgai penyandi “baru” sekitar tiga puluh lima juta tahun silam.
Genom penuh dengan sampah, bahkan boleh disebut dijejali dengan rangkaian-rangkaian huruf yang egois dan parasit sama halnya virus-virus pada komputer, dan keberadaan mereka semata-mata hanya karena kemudahan mereka membuat duplikat.
Genom kita sarat dengan rangkaian huruf digital dan peringatan soal “selai”. Kira-kira tiga puluh lima persen DNA manusia terdiri atas bermacam-macam DNA egois, yang berarti membuat upaya mereplikasi gen-gen kita memerlukan tiga puluh lima persen energi lebih banyak daripada semestinya. Genom kita betul-betul sangat memerlukan kehadiran “pasukan cacing”.
Tidak seorang pun menduga demikian. Tidak seorang pun meramalkan bahwa ketika kita membaca sandi untuk kehidupan ini kita akan menemukan buku ini penuh sesak dengan contoh-contoh ulah egois yang hampir tidak terkendali.
Namun kita terpaksa meramalkan demikian, karena setiap tingkap kehidupan yang berbeda mempunyai parasit tersendiri. Dalam usus hewan ada cacing, dalam darah cacing ada bakteri, dan sel bakteri ada virus. Mengapa tidak ada retrotransposon dalam gen-gen mereka?
Selain itu, pertengahan 1970-an adalah fajar bagi para spesialis biologi evolusioner, terutama mereka yang tertarik pada masalah perilaku, bahwa evolusi melalui seleksi alam bukan semata-mata soal persaingan antar spesies, bukan semata-mata soal persaingan antar kelompok, juga bukan sekadar persaingan antar individu, melainkan soal persaingan antar gen menggunakan individu-individu dan kadang-kadang masyarakat sebagai kendaraan sementara mereka.
Ketika dihadapkan pada pilihan antara hidup yang aman, nyaman, umur panjang, atau hidup dengan resiko, melelahkan, memiliki keturunan dengan menghadang bahaya, hampir semua hewan (sesungguhnya tumbuhan juga) memilih yang belakangan. Mereka memilih mengecilkan peluang hidup mereka dengan imbalan memiliki keturunan. Sesungguhnyalah, tubuh mereka dirancang dengan masa penggantian yang terencana, disebut proses penuaan, yang menyebabkan masing-masing melapuk setelah mencapai usia perkembangan-biakan—bahkan ada yang langsung mati seusai melaksanakan tugas ini, misalnya pada cumi atau salmon Pasifik.
Tidak satu pun informasi di atas menjadi bermakna kecuali Anda memandang tubuh sebagai sebuah kendaraan bagi gen-gen, sebagai alat yang digunakan oleh gen-gen untuk persaingan tiada henti di antara mereka.
Upaya bertahan hidup bagi tubuh adalah sasaran sekunder dibanding sasaran yang lebih penting yakni dimulainya sebuah generasi baru. Jika gen termasuk “pengganda yang egois” dan bagi mereka tubuh adalah kendaraan (dalam terminologi Richard Dawkins yang kontroversial) untuk membuang sampah, tidak terlalu mengherankan jika ada sebagian gen melakukan penggandaan mereka tanpa membangun tubuh sendiri.
Juga tidak usah heran bila menemukan bahwa genom, seperti tubuh, adalah habitat-habitat yang merasa puas dengan versi kompetisi dan ko-operasi ekologi mereka sendiri. Sesungguhnyalah, pada tahun 1970-an untuk pertama kalinya evolusi menjadi masalah genetik.
Untuk menjelaskan kenyataan bahwa genom mengandung begitu banyak daerah tanpa gen benar, dua pasang ilmuwan mengusulkan pada tahun 1980 bahwa daerah-daerah ini penuh dengan urutan egois yang masing-masing hanya bertujuan bertahan hidup di dalam genom.
“Upaya mencari penjelasan lain,” kata mereka, “mungkin membuktikan bahwa mereka steril atau tidak mempunyai kegunaan apa pun.” Ketika mengeluarkan pandangan tersebut, banyak celaan yang terpaksa mereka telan.
Para penggumul genetika kala itu masih terkungkung dalam pola pikir bahwa sesuatu yang terdapat dalam genom manusia pastilah mempunyai tugas melayani manusia, bukan malang-melintang sekehendak hati sendiri. Gen hanya resep pembuat protein. tidak ada gunanya membayangkan mereka sebagai sesuatu yang memiliki tujuan atau cita-cita.
Akan tetapi usulan tersebut akhirnya secara menakjubkan telah dibenarkan. Gen sungguh mempunyai perilaku seolah-olah mereka mempunyai tujuan masing-masing, bukan secara sadar melainkan belajar dari pengalaman masa lalu: gen yang berperilaku seperti ini berkembang dengan subur, tidak seperti gen yang tidak demikian.
Sebuah penggalan DNA egois tidak hanya seperti penumpang, dengan kehadiran hanya untuk menambah ukuran genom dan karena itu biaya energinya diperhitungkan sekalian dengan biaya menyalin genom. Penggalan atau segmen macam itu juga ancaman terhadap integritas gen.
Karena DNA egois memiliki kebiasaan melompat-lompat dari lokasi satu ke lokasi lain, atau mengirimkan salinannya ke lokasi baru, tidak jarang mereka atau salinannya mendarat di tengah-tengah gen fungsional, mengacaukan gen-gen itu sampai sulit dikenali, dan setelah itu melompat lagi sehingga terjadi mutasi berbalik kembali.
Peristiwa inilah yang memungkinkan transposon ditemukan, sekitar akhir 1940-an, oleh Barbara McClintock, seorang penggumul genetika berwawasan jauh ke depan yang semula tidak diperhitungkan orang (ia akhirnya dianugerahi hadiah Nobel pada tahun 1983). Menurut pengamatannya, mutasi-mutasi pada warna biji jagung terjadi dengan pola yang hanya dapat diterangkan melalui proses mutasi akibat melompat-lompatnya DNA egois ke dan ke luar dari gen-gen pigmen.
Pada manusia, LINE-1 dan Alu telah menyebabkan berbagai mutasi akibat pendaratannya di tengah-tengah bermacam-macam gen. Mereka telah menyebabkan hemofilia, misalnya, dengan mendarat di gen yang mengatur penggumpalan darah.
Akan tetapi, untuk alasan yang belum dipahami dengan baik, sebagai salah satu spesies kita tidak terlalu dipusingkan oleh parasit-parasit DNA dibanding spesies-spesies lain. Kira-kira hanya 1 per 700 mutasi pada manusia disebabkan oleh “gen-gen pelompat”, sementara pada tikus hampir satu per sepuluh mutasi disebabkan oleh gen-gen dengan hobi macam itu.
Bahaya yang dapat ditimbulkan oleh gen-gen pelompat secara dramatis digambarkan oleh sebuah eksperimen yang terhitung alami pada tahun 1950-an terhadap lalat buah kecil, Drosphila. Lalat buah merupakan hewan paling disukai oleh para pengamat genetika untuk percobaan-percobaan mereka.
Spesies yang mereka pelajari, Drosophila melangogaster, telah disebar ke seluruh dunia untuk dibiakkan di berbagai laboratorium. Lalat ini sering kabur dan bertemu dengan spesies lalat buah lain yang penduduk asli.
Salah satu spesies ini, Drosophila willistoni, membawa sebuah gen pelompat yang disebut unsur P (P element). Entah bagaimana sekitar tahun 1950, di suatu tempat di Amerika Selatan, barangkali lewat seekor kutu penghisap darah, gen pelompat dari Drosophila willistoni masuk ke dalam tubuh Drosophila melanogister. Sejak itu unsur P menyebar pesat seperti kebakaran hutan, maka sebagian besar lalat buah memiliki unsur P, walau pun mereka bukan lalat buah yang dikumpulkan dari hutan sebelum 1950 dan sejak itu disimpan dalam isolasi.
Unsur P adalah sepenggal DNA egois yang menunjukkan kehadiran dengan memotong gen-gen yang dicemplunginya. Berangsur-angsur, gen-gen lain dalam genom lalat buah membangun serangan balasan, mencari cara menekan kebiasaan melompat unsur-unsur P.
Baru setelah itu unsur-unsur P berubah menjadi penumpang-penumpang biasa. (Salah satu kekhawatiran besar sehubungan dengan ini adalah sesuatu yang disebut “xeno-transplants” dari organ-organ babi atau babun yang berpeluang mengembangkan sebuah bentuk baru gen pelompat yang bisa pindah ke spesies kita, seperti unsur P pada lalat buah.)
Manusia tidak memiliki gen pelompat yang segalak unsur P, setidaknya untuk sementara ini. Akan tetapi sebuah unsur serupa, yang disebut ‘sleeping beauty’, telah ditemukan pada ikan salmon. Ketika dimasukkan ke dalam sel-sel manusia di laboratorium, unsur tersebut menunjukkan kemampuan cut-and-paste.
Dan yang mirip dengan penyebaran unsur P agaknya terjadi pada satu di antara sembilan unsur Alu manusia. Masing-masing menyebar ke seluruh spesies, menyusup di antara gen-gen sampai ada gen-gen lain yang sama-sama berkepentingan menekannya, dan setelah itu unsur tersebut menjadi tenang dan kembali ke kondisi istirahat.
Yang kita lihat pada genom manusia sekarang bukan infeksi parasitik yang berkembang dengan cepat, tetapi kista-kista pasif peninggalan parasit-parasit masa silam, yang masing-masing pernah menyebar dengan cepat sampai genom menemukan cara untuk meredam mereka, tetapi tidak mengenyahkan mereka. (Hingga menyerupai kapal-kapal raksasa karatan yang karam di tengah samudera genom.)
Dalam hal ini (juga dalam banyak hal lain) kita tampaknya lebih beruntung dibanding lalat buah. Kita tampaknya mempunyai sebuah mekanisme umum untuk meredam DNA egois, sekurangnya jika Anda mempercayai sebuah teori baru yang masih kontroversial.
Mekanisme peredaman ini disebut metilasi sitosin. Sitosin di sini merujuk ke huruf C dalam kode genetik. Metilasi (yang secara harafiah berarti menempelkan gugus metil yang terdiri atas atom-atom karbon dan hidrogen) terhadap sitosin membuatnya tidak ditranskripsi.
Sebagian besar genom menghabiskan sebagian besar waktu dalam kondisi termetilasi atau terblokade, atau setidaknya sebagian besar promotor gen (bagian awal gen transkripsi dimulai).
Secara umum diandaikan bahwa metilasi berfungsi menonaktifkan gen-gen yang tidak diperlukan dalam jaringan-jaringan tertentu, itu sebabnya otak berbeda dari liver, yang selanjutnya berbeda dari kulit dan sebagainya.
Siapa yang menyangka, bila kode genetik manusia banyak berisi atau disisipi kode-kode “sampah” yang tidak ada faedah, bahkan berisi kode yang merugikan diri kita sendiri menyerupai “Kuda Troya” yang menyusup dengan diam-diam secara tersamar namun kemudian menginfeksi dan menginvasi secara masif Kode Genetik tuan rumah, atau bahkan berisi segudang kode genetik yang sangat berbahaya yang hanya merugikan diri ia yang membawa kode genetik tersebut sepanjang hidupnya atau bahkan diwarisi kepada generasi penerusnya untuk kemudian diwarisi kepada generasi berikutnya dan seterusnya, lengkap dengan segala mutasi yang penuh ketidakpastian, tanpa dapat dihindari.
Tidak terbayangkan pula bila kemudian penetahuan atas Kode Genetik yang telah berhasil “dipetakan” demikian, melahirkan teknik rekayasa genetik pada manusia yang seperti telah lama dipraktikkan lewat rekayasa genetik tanaman budidaya dan tanaman pangan seperti tumbuhan kapas, jagung, dsb. 🚀🚫🚧
Kita tidak pernah—atau setidaknya belum—tahu seperti apa ancaman yang tersembunyi dibalik sebuah rekayasa genetika demikian, atau mungkin tersembunyi potensi untuk memperbaiki berbagai cacat genetik akibat keturunan dari silsilah keluarga yang memiliki kode genetik bermasalah demikian. ⌛⌚
Namun yang jelas, wanita dari sejak zaman dahulu hingga kini, suka memakai pernak-pernik perhiasan. Pria suka tampil maskulin, dan kaum wanita suka tampil cantik. Mungkin itu juga adalah naluri yang bersumber dari genetik. ☘☸
So, buat kaum gadis-gadis yang ingin tampil cantik, segera pesan koleksi perhiasan emas imitasi impor KWANG EARRINGS sekarang juga. Karena KWANG EARRINGS adalah teman terbaik mu! 😊

  • Share:

You Might Also Like

0 comments

Untuk memesan Asesoris Perhiasan Imitasi Impor Berkualitas KWANG EARRINGS. baik eceran maupun dengan grosiran, silahkan kirimkan pemesanan Anda (Mohon cantumkan link url asesoris yang dipesan untuk kami pastikan ketersediaan stok produk). Tidak ada minimum pembelian jumlah item secara eceran, Bagi yang membeli secara grosir, mendapat diskon khusus. namun disertai ongkos kirim kurir JNE dari Jakarta, Indonesia:
- instagram dengan ID kwang_earrings
- email, telepon ataupun chatting online via Google Hangout : kwang.earrings@gmail.com
- LINE : RIANASHIETRA
- WhatsApp : (+62) 0817-4924-150.
- Juga Follow kami di Facebook: kwang_earrings

Syarat & Ketentuan:
- kerusakan dalam proses pengiriman, diluar tanggung jawab kami selaku penjual / supplier.
- tidak disertakan garansi, karena produk yang kami kirimkan dipastikan dalam kondisi baik dan utuh saat proses pengepakan dan pengiriman ke alamat pembeli.
- produk yang telah dipesan dan dikirimkan, tidak dapat dibatalkan ataupun ditukar.
- jika pelanggan puas atas layanan dan produk kami, mohon kesediaannya untuk dipromosikan ke rekan-rekan dan kerabat.

KWANG EARRINGS mengucapkan terimakasih atas kunjungan serta pembeliannya. Kami senang dapat membantu para wanita untuk tampil cantik dan manarik, dimana dan kapan pun berada, berapa pun usianya (tanpa batasan umur).
Berjiwa muda dan tampil belia, adalah keajaiban yang dapat dibantu oleh asesoris yang menawan sekaligus memikat. Kami senang dapat menyediakan pilihan perhiasan imitasi yang terjangkau namun tetap memperhatikan kualitas produk yang kami tawarkan secara eceran maupun grosiran.

Kami tunggu pesanan Anda, akan kami kirimkan pesanan Anda dengan hati yang penuh kehangatan untuk Anda atau untuk buah hati dan keluarga yang Anda kasihi.
Peluk dan Cium Erat!

Khusus untuk keperluan pemesanan barang dari Thailand, pemesanan dompet impor souvenir resepsi pertunangan / perkawinan, maupun untuk jasa PRIVATE TOUR GUIDE LEADER FREELANCE RIANA di Thailand, contact person:
- WhatsApp : (Thailand prefiks +66) 977-146-077;
- email, telepon, atau chatting online via Google Hangout : kwang.earrings@gmail.com
- LINE : RIANASHIETRA

TESTIMONI PEMBELI

TESTIMONI PEMBELI
Klik Gambar untuk Melihat TESTIMONI Pembeli Produk KWANG EARRINGS