KEKUATAN PEMBELI / KONSUMEN, Customer Power

By SHIETRA - Juni 27, 2019

Dijual perhiasan emas imitasi impor cantik berkualitas KWANG EARRING, Toko Online JakartaAda yang namanya “people power”, yakni kedaulatan rakyat dengan cara tidak memberikan suara bagi Partai Politik yang dinilai korup dan tidak memiliki keberpihakan secara nyata dan tidak jujur bagi rakyat. Dengan begitu, Partai Politik yang kerap kali melukai nurani rakyat demikian yang banyak diwarnai kadernya yang terlibat tindak pidana korupsi, akan “gulung tikar” secara sendirinya.
Begitupula untuk organisasi-organisasi radikal berbasis agama tertentu, cukuplah kita tidak menjadi anggota dan tidak menjadi simpatisan ataupun donatur bagi Organisasi Massa (Ormas) demikian. Maka, secara sendirinya, Ormas berhaluan ideologi radikal demikian, akan “mati” secara sendirinya.
KWANG sendiri kerap merasa jengkel, mendapati trotoar jalanan di Jakarta di-“okupasi” oleh para pedagang kaki lima, sehingga pejalan kaki harus terpaksa mengalah dan terus saja mengalah, dengan terpaksa berjalan di bahu jalan bersenggolan dengan kendaraan motor roda dua maupun roda empat.
Jika protes dan mengkritik si pedagang kaki lima yang berjualan di trotoar, maka justru para pedagang kaki lima tersebut yang akan bersikap lebih galak daripada para pejalan kaki yang menjadi korbannya.
Alhasil, dalam hati pastilah banyak pejalan kaki yang menyumpahi si penghalang jalan—setiap hari diberikan doa yang buruk bagi si pelapak liar. Bagaimana bisa maju dalam berdagang, jika setiap hari mendapat kutukan dari warga pejalan kaki?
Tidak ada yang melarang mereka berjualan dan mencari nafkah, namun bukan artinya itu menjadi justifikasi untuk berjualan di sembarang tempat. Semua orang ingin berjualan di tempat yang strategis, namun bukan artinya dengan besikap tidak tertib dan merugikan pejalan kaki dan warga negara lainnya.
Berdaganglah secara etis dan tertib, tanpa merugikan warga negara lainnya. Sikap curang tidak bersedia membayar sewa di ruko seperti pedagang lainnya, namun bersikap “mau enaknya saja” dengan menggelar lapak di trotoar, adalah cara-cara curang (berusaha yang tidak sehat) yang tergolong egoistik dan arogan.
KWANG juga sering memiliki pengalaman, ketika berjalan menyeberangi jalan di atas jembatan pengeberangan orang (JPO), ternyata penulis yang berpikir akan merasa aman menyeberangi jalan dengan menaiki JPO, mendapati pengendara bermotor melajukan motornya hingga ke atas JPO dan menerjang pejalan kaki sampai-sampai KWANG harus meloncat dan menghindari terjangan pengendara bermotor roda dua yang melaju di atas JPO yang hanya diperuntukkan untuk pejalan kaki tersebut.
Pernah juga diberitakan, seorang pejalan kaki yang protes pada seorang pengendara bermotor roda dua yang justru melaju di atas trotoar, namun ternyata si pengendara motor lebih galak dan bahkan memaki si pejalan kaki, seolah justru si pejalan kaki yang tidak berhak menggunakan trotoar, seolah trotoar ialah digunakan untuk pengendara motor untuk melaju.
Kejadian demikian juga pernah KWANG alami sendiri secara pribadi, pengendara bermotor roda dua lebih galak ketimbang KWANG selaku pejalan kaki di trotoar. Tidak jarang juga KWANG hanya terpaku bisu, karena para pengendara bermotor roda dua secara berjemaah menyerobot trotoar yang semestinya menjadi hak pejalan kaki, untuk melintas ataupun untuk memarkirkan kendaraan bermotornya, sehingga praktis menghalangi jalan bagi pejalan kaki yang tidak ada lagi trotoar untuk pejalan kaki berjalan dengan aman dan tenang selain harus turun ke bahu jalan berjibaku dengan pengendara bermotor dengan resiko sewaktu-waktu dapat tersenggol atau bahkan tertabrak.
Ada lokasi-lokasi yang sangat tidak etis dan tidak patut dijadikan tempat mangkal ojek ataupun parkir kendaraan, terutama jalan-jalan umum seperti persimpangan maupun perempatan, karena akan menyerupai “bottle neck” yang bahkan bisa menjadi sangat berbahaya bila salah satu bagian jalan tidak rata dan kondisi jalan perempatan tersebut sangat sempit sehingga akibat dipakai sebagai tempat parkir oleh pengendara, hanya menyisakan satu jalur untuk keluar-masuk.
Semua itu terjadi di sebuah kota bernama Jakarta, kota metropolitan ibukota Negara Indonesia yang menjadi potret budaya dan perilaku watak masyarakat Indonesia. Pepatah menyebutkan, untuk mengetahui perangai dan karakter watak suatu bangsa, lihatlah kondisi para pengguna jalan rayanya, sebagai cerminan miniatur karakter bangsanya, terutama perilaku dan ulah-ulah para pengendara bermotor. Tampaknya pepatah demikian sangat relevan untuk Indonesia.
Apakah si pengendara bermotor, tidak malu, karena tentulah menjadi pejalan kaki masih jauh lebih sukar kondisinya ketimbang menaiki kendaraan bermotor yang dapat tiba ke tempat tujuan lebih cepat, lebih nyaman, dan lebih berkuasa atas jalan yang sudah memiliki lebar badan jalan yang demikian lebar ketimbang lebar trotoar bagi pejalan kaki.
Seorang pejalan kaki menemui banyak resiko di jalan, mulai dari bersiteru dengan pengendara bermotor, panas tersengat terik matahari, terkena guyuran hujan, harus waspada terkena ranting pohon yang tajam dan berbahaya bagi keselamatan mata dan kulit wajah, becek lagi, meletihkan, dan memakan waktu yang cukup lama untuk bisa tiba di tempat tujuan.
Kembali ke persoalan pedagang kaki lima (PKL) maupun pelapak liar, sebenarnya kita dapat memberi sanksi dengan menggunakan apa yang disebut sebagai “kekuatan konsumen” (consumers power), yakni semudah tidak membeli produk-produk yang dijajakan oleh para pelapak liar maupun PKL yang berjualan dengan menyerobot hak pejalan kaki demikian.
Masalahnya ialah, masyarakat Indonesia terutama Jakarta, sangat tidak kompak dalam menyatakan sikapnya. Betapa tidak, katanya NKRI harga mati, namun tetap saja organisasi massa radikal yang intoleran, masih berkeliaran dibawah permukaan maupun yang jelas-jelas beroperasi di tempat umum hingga di berbagai lembaga pendidikan karena sang guru telah terpapar paham radikal yang kini hendak meradikalkan juga para peserta didiknya.
Sama halnya, para pedagang kaki lima dan pelapak liar tersebut dapat terus berada di tempat-tempat strategis yang tidak semestinya, karena merupakan trotoar hak bagi umum dan pejalan kaki, tidak lain karena mereka mendapatkan pembeli, di mana masyarakat tetap membeli meski mereka tahu si penjual berjualan di tempat yang tidak semestinya—dan secara tidak langsung merugikan pedagang yang tertib dengan berjualan di dalam toko atau menyewa stand di pusat berbelanjaan maupun ruko.
Guna menertibkan pedagang liar, pertama-tama kita perlu menertibkan dahulu para masyarakat kita agar tidak menjadi konsumen yang secara tidak langsung mendukung para pedagang liar demikian. Jika tiada pembeli, maka dapat dipastikan si PKL ataupun pelapak liar tersebut, akan menyingkir dari tempat tersebut secara sendirinya tidak lama kemudian—tidak pergi saat ada razina Satpol PP, dan kembali lagi melapak di tempat semula saat warga masyarakat tanpa perlindungan aparatur penegak hukum.
Penegakan hukum maupun penertiban di Jakarta, kurang optimal, karena tidak membentuk efek jera bagi para pelaku dan pelanggar. Seyogianya, penertiban membuat pelakunya / pelanggarnya benar-benar menjadi jera dan kapok untuk berdagang dan berjualan secara liar di trotoar ataupun di bahu jalan demikian, yakni dengan cara menggerebek secara dadakan menyita barang jualan mereka tanpa boleh ditebus terlebih dikembalikan.
Terdengar keras dan seolah tidak manusiawi, namun demi kepentingan umum yang lebih luas, hukum harus bersikap tegas dan keras, karena para pedagang liar tersebut tahu betul bahwa mereka sedang sengaja melanggar ketertiban dan merenggut hak pejalan kaki.
KWANG kerap tidak habis pikir. Berdagang di trotoar, jelas memakan hak para pejalan kaki, jalan maupun trotoar tersebut adalah milik umum, sehingga tidak semestinya direnggut hanya demi “perut” seorang atau beberapa orang kalangan pelapak liar.
Bagaimana bila si pejalan kaki yang terpaksa berjalan di bahu jalan, kemudian tertabrak, dan keluarganya menjadi tidak bisa makan karena yang selama ini mencari nafkah ternyata tertabrak dan cedera saat berjalan kaki? Maukah para pelapak liar demikian memikirkan keselamatan orang lain selain kepentingan dirinya sendiri?
Bila dalam sehari ada seribu pejalan kaki yang melintas namun langkah mereka terhambat oleh keberadaan pelapak liar demikian, maka dalam setahun ada 365 ribu dosa yang dibuat oleh si pelapak liar setiap tahunnya.
Apakah mereka tidak takut, harga yang harus mereka bayar setelah di alam baka karena menghambat jalan milik umum? Bila berbicara konteks hukum karma, balasannya ialah tidak lain dihambatnya / terjegalnya setiap langkah maupun jalan yang akan ditempuh oleh si pelapak liar di kehidupan mendatangnya, sebanyak jumlah orang-orang yang haknya telah ia langgar saat melapak secara liar.
Di Jakarta juga memiliki fenomena “memakan bahu” jalan untuk hal yang lebih tidak etis, yakni pemilik kendaraan roda dua maupun roda empat yang tidak memiliki garasi yang cukup pada kediamannya, namun membeli satu atau lebih kendaraan roda empat, sehingga yang pada gilirannya menjadi tempat parkir kendaraan mereka ialah pada bahu jalan milik umuma—atau bahkan halaman rumah milik orang lain.
Alhasil, para warga setempat yang menjadi korbannya, karena lebar total jalan menjadi berkurang, hingga kerap menyukarkan akses keluar-masuk bagi warga setempat daerah tersebut maupun bagi pengguna jalan pelintas. Tidak sedikit KWANG menjumpai kekecewaan para pemilik rumah, yang kesal karena kerap pemilik kendaraan lainnya menjadikan halaman depan rumah mereka seolah sebagai “tempat parkir” umum secara ilegal.
Sehingga pernah sekali waktu KWANG lihat sendiri, dipasang spanduk yang besar, berisi teguran bagi mereka-mereka pemilik mobil namun tidak memiliki garasi di rumah yang selama ini menjadikan halaman rumah orang lain justru sebagai “garasi” untuk memarkir kendaraan secara ilegal—yang tentunya juga tanpa seizin pemilik halaman rumah.
Menutupi jalan milik publik (milik umum) demi kepentingan segelintir pihak, sama artinya merampok hak banyak orang. Mereka yang budiman, tidak akan pernah menggunakan cara-cara yang menutup jalan milik orang lain, justru akan membuka jalan bagi banyak orang.
Sama seperti perhiasan emas, yang bermula dari penggalian tambang yang merusak lingkungan. Membeli perhiasan emas, sama artinya tidak turut menjaga kelestarian lingkungan. Perhiasan imitasi masih lebih ramah lingkungan. Karena KWANG EARRINGS adalah teman terbaik mu! 😊

  • Share:

You Might Also Like

0 comments

Untuk memesan Asesoris Perhiasan Imitasi Impor Berkualitas KWANG EARRINGS. baik eceran maupun dengan grosiran, silahkan kirimkan pemesanan Anda (Mohon cantumkan link url asesoris yang dipesan untuk kami pastikan ketersediaan stok produk). Tidak ada minimum pembelian jumlah item secara eceran, Bagi yang membeli secara grosir, mendapat diskon khusus. namun disertai ongkos kirim kurir JNE dari Jakarta, Indonesia:
- instagram dengan ID kwang_earrings
- email, telepon ataupun chatting online via Google Hangout : kwang.earrings@gmail.com
- LINE : rianashietra
- WhatsApp : (+62) 0817-4924-150.
- Juga Follow kami di Facebook: kwang_earrings

Syarat & Ketentuan:
- kerusakan dalam proses pengiriman, diluar tanggung jawab kami selaku penjual / supplier.
- tidak disertakan garansi, karena produk yang kami kirimkan dipastikan dalam kondisi baik dan utuh saat proses pengepakan dan pengiriman ke alamat pembeli.
- produk yang telah dipesan dan dikirimkan, tidak dapat dibatalkan ataupun ditukar.
- jika pelanggan puas atas layanan dan produk kami, mohon kesediaannya untuk dipromosikan ke rekan-rekan dan kerabat.

KWANG EARRINGS mengucapkan terimakasih atas kunjungan serta pembeliannya. Kami senang dapat membantu para wanita untuk tampil cantik dan manarik, dimana dan kapan pun berada, berapa pun usianya (tanpa batasan umur).
Berjiwa muda dan tampil belia, adalah keajaiban yang dapat dibantu oleh asesoris yang menawan sekaligus memikat. Kami senang dapat menyediakan pilihan perhiasan imitasi yang terjangkau namun tetap memperhatikan kualitas produk yang kami tawarkan secara eceran maupun grosiran.

Kami tunggu pesanan Anda, akan kami kirimkan pesanan Anda dengan hati yang penuh kehangatan untuk Anda atau untuk buah hati dan keluarga yang Anda kasihi.
Peluk dan Cium Erat!

TESTIMONI PEMBELI

TESTIMONI PEMBELI
Klik Gambar untuk Melihat TESTIMONI Pembeli Produk KWANG EARRINGS