Keterbatasan Bukanlah sebuah Alasan untuk Menarik Diri, Keterbatasan Justru Membuka Kesempatan Baru

By SHIETRA - Juni 04, 2019

Keterbatasan Bukanlah sebuah Alasan untuk Menarik Diri, Keterbatasan Justru Membuka Kesempatan BaruSemua orang mengetahui bahwa Negara Singapura adalah sebuah negara yang kecil. Namun, semua orang juga mengetahui dan mengakui, Negara Singapura adalah negara yang besar dari segi reputasi keunggulan penyediaan barang maupun jasa, kekuatan ekonomi, pertahanan, ketertiban, hingga berbagai aspek komersiel dan perdagangan.
Apa yang membuat Negara Singapura berbeda dari negara-negara lainnya seperti Indonesia yang memiliki berbagai sumber daya alam melimpah ruah lengkap dengan bonus demografinya, namun justru tertinggal dari negara “kecil” seperti Singapura?
KWANG akan memulai bahasan ini, dari segi pelayanan jasa medis di Singapura. Kalangan penyedia jasa medis di Singapura, tahu betul serta paham betul, bahwa mereka perlu membangun suatu reputasi di tengah-tengah keterbatasan mereka akan lahan pertanahan negara mereka yang memang sangatlah terbatas.
Karena itulah, para penyedia jasa medis di Negara Singapura merasa adanya dorongan untuk survive di tengah kancah persaingan global dengan meningkatkan serta mempertahankan reputasi mutu layanan medis mereka sehingga diakui oleh kalangan pasien dari mancanegara agar percaya dan bersedia bahkan merasa adanya keperluan untuk berobat atau sekadar mengecek kesehatan para pasien dari luar Negara Singapura.
Dimulai dari konsistensi layanan, keseriusan dalam diagnosa, kepastian dari segi biaya yang sangat sensitif diperhatikan betul oleh keluarga pasien, hingga praktik pelayanan media yang memang prima dan optimal penuh keterbukaan dan kejujuran.
Para penyedia jasa medik di Singapura paham dan menyadari betul, bahwa mereka tidak dapat bermain-main dalam membangun dan mempertahankan reputasi layanan medis di negara mereka, di tengah-tengah segala keterbatasan lahan negara mereka.
Kita beralih pada sektor pariwisata. Penanggung-jawab pariwisata di Singapura tampaknya juga memahami betul, bahwa negara mereka memiliki masalah utama yakni keterbatasan lahan daratan negara mereka yang memang sangat “terbatas”. Bagaimana caranya, menggaet pengunjung mancanegara untuk mau berkunjung dan berwisata ke negara “kecil” demikian?
Untuk itulah mereka menjadi bersungguh-sungguh dalam mempersiapkan dan menggarap faktor pariwisata di negeri mereka, layaknya promosi dan berbagai strategi untuk mempopulerkan negara mereka di mata para turisme global, di tengah-tengah keterbatasan lahan mereka. Hal serupa juga diterapkan oleh negara-negara dengan daratan “kecil” seperti Jepang dan Korea yakni dengan memanfaatkan infiltrasi budaya yang mereka ekspor ke negara-negara tetangga seperti ke Indonesia yang sangat menggemari manga / komik, anime, hingga lagu-lagu bergenre K-pop.
Dari segi infrastruktur, otoritas tata ruang kota di Singapura menyadari betul, bahwa mereka harus menghadapi dan menyikapi keterbatasan mereka perihal luasan daratan yang dapat dikelola. Apakah keterbatasan demikian menjadi hambatan yang membuat frustasi seperti yang terjadi di Jakarta?
Untuk itulah mereka bersungguh-sungguh, serius, serta menggarap dengan penuh perhatian dan kehati-hatian setiap jengkal sumber daya tanah yang mereka miliki agar optimal dan berdaya guna, tanpa ada satu inci bidang tanah pun yang disia-siakan.
Dari segi hukum, penegak hukum di Singapura memahami dan menyadari betul, bahwa mereka tidak dapat bermain-main terlebih mentolelir segala pelanggaran hukum apapun di negeri mereka, bahkan bagi turis asing sekalipun, dan sekalipun itu pelanggaran sederhana seperti membuang ludah sembarangan, maka akan ditindak secara tegas dan konsisten—demi reputasi mereka di kancah global sebagai negara yang tertib serta adanya jaminan kepastian hukum bagi investor maupun bagi penduduk lokal maupun asing.
Pemerintah Singapura tidak ingin, dikenal di mata pergaulan global sebagai negara yang “kecil” tapi tidak becus menegakkan hukum dan ketertiban. Di tengah segala keterbatasan itulah, segala keajaiban Singapura, Jepang, dan Korea tercipta, lewat tangan-tangan ajaib dan terampil para pemimpin dan warga negara mereka sendiri yang memang dapat saling bekerja sama di tengah kesadaran akan keterbatasan adn jati diri bangsa mereka.
Bandingkan antara Singapura dan Jakarta, dari segi transportasi, rasanya kontras sekali. Pemerintah Jakarta merasa bahwa Indonesia bukanlah hanya Jakarta di mata turis mancanegara, karena ada Bali yang dijadikan tumpuan utama serta sebagai “pengalihan isu”—karena itulah Pemerintah Jakarta kerap terlena, lupa akan tugasnya, meremehkan dan menyepelekan bahkan dengan sembarangan mengatur tata ruang maupun urusan transportasi kotanya sehingga kini dikenal cukup semrawut dan berpolusi udara tinggi yang tidak ramah terhadap penduduknya sendiri dimana para pedagang kaki lima serta pengendara motor roda dua kerap merampas hak pejalan kaki atas trotoar.
Tampaknya penyusun kebijakan di Indonesia cukup merasa berbangga diri, disebut sebagai bangsa agraris karena tanahnya yang luas dan subur, disebut sebagai bangsa maritim karena garis pantainya sangat panjang dan kaya akan sumber daya laut serta perairannya. Namun lihatkan kini, apa yang dapat kita banggakan selain terus-menerus menjadi importir bahan pangan, hingga soal urusan importasi garam yang tidak pernah selesai dan seakan menjadi lagu lama yang terus diputar ulang.
Sungguh ironis dan siapa yang akan menyangka, negara besar yang sempat menjadi negara “macan Asia” ini kini begitu terluka dan sekaligus “ompong melompong”, bergantung pada negara-negara tetangga seperti pasokan bahan pangan dari China, dukungan teknis dari Jepang, bergantung secara ekonomi dari Singapura dan negara-negara Asean maupun negara-negara Eropa dan Amerika.
Terkadang, keterbatasan dapat mendesak optimalisasi potensi diri ketika kita menyadari dan mau mengakui segenap keterbatasan yang ada, menghadapinya, dan mengatasinya. Bukan justru terlena akan istilah-istilah seperti “bonus demografi”, negara maritim, atau negara agraris yang tidak pernah berdaya dan berdikari (berdiri di atas kaki sendiri).
Adalah suatu keanehan, negara “sekaya” Indonesia tidak mampu berswasembada pangan—justru kini didikte kalangan importir dan tengkulak, pada gilirannya iklim investasi dan persaingan usaha maupun harga-harga di pasaran menjadi tidak terkendali, cenderung tanpa adanya tawaran kepastian hukum bagi warga lokal maupun asing.
Belum lagi kita bicara perihal masalah kriminalitas dan masalah penyakit sosial lainnya, sangat kontras membandingkan kota besar seperti Jakarta menghadapi wajah negara “kecil” seperti Singapura.
Begitupula dari segi kreatifitas dan inovasi para warganya, ternyata luasan wilayah tidak berkorelasi linear dengan tingkat intelektual dan kemakmuran dan keberadaban suatu bangsa dari suatu negara. Pemerintah Singapura mewadahi segala inovasi dan kreativitas, karena itulah warganya menghormati pemerintahnya, yang pada gilirannya turut bergotong-royong membangun bersama negara mereka sebagai stakeholder.
Keterbatasan dapat melahirkan keseriusan, komitmen, desakan untuk survive (mencoba selamat dan dan terus bertahan) di tengah segala keterbatasan tersebut, dedikasi, ketekunan, terobosan, hingga pengabdian bagi keselamatan dan kemakmuran negara “kecil” mereka.
Negara yang “kecil”, namun ketika dibangun bersama oleh warga mereka yang sama-sama menyadari betul keterbatasan lahan negara mereka sebagai kodrat yang harus mereka hadapi dan lalui, membuat negara-negara “kecil” tumbuh menjadi negara-negara adidaya. Kecil-kecil namun “menggigit”.
Sama halnya dengan gadis-gadis yang ingin tampil manis dan memikat, namun dengan dana serba terbatas, tentu haruslah memutar otak agar dapat tampil cantik namun dapat terus survive di tengah-tengah keterbatasan budget untuk membeli perhiasan.
Keterbatasan budget membuat kita tidak mampu menjangkau asesoris perhiasan emas ataupun intan asli yang harganya luar biasa mahal. Pilihan hanya bisa dijatuhkan pada perhiasan emas ataupun intan imitasi. Tentu saja perhiasan imitasi berbeda dengan perhiasan emas / intan asli.
Namun karena itu jugalah, berbagai produsen perhiasan imitasi telah lama merasakan adanya kebutuhan untuk berinovasi ditengah segala keterbatasan perhiasan emas / intan imitasi.
Kini, sebagaimana dapat kita lihat sendiri perkembangannya, salah satunya berbagai perhiasan emas / intan imitasi impor KWANG EARRINGS, perhiasan imitasi juga kini tampil sama cerahnya, memiliki tekstur yang halus, corak yang detail, tampilan penuh warna memikat, desain yang apik dan elegan hingga modis, hingga pilihan model yang beragam dan penuh kreatifitas.
Perlahan namun pasti, kepopuleran perhiasan imitasi dapat mendekati atau bahkan melampaui kepopuleran perhiasan emas / intan asli. Sama seperti para pedagang e-commerce yang menyadari betul keterbatasan dana mereka untuk menyewa lapak tempat berjualan di pusat-pusat pertokoan dan peritelan, kini menjamur berbagai toko online yang menawarkan produk kepada konsumen tanpa lagi terbatas oleh sekat ruang maupun waktu—sesuatu yang dahulu kala adalah mustahil, kini menjadi niscaya.
Begitupula dengan fenomena kian sepinya pengunjung toko emas dan perhiasan intan asli, dimana para konsumennya mulai perlahan-lahan beralih kepada alternatif perhiasan imitasi impor yang lebih terjangkau, dengan bahan yang nyaman dikenakan dan tampilan yang tidak kalah modis dengan perhiasan emas / intan asli.
Selalu ada sisi positif di tengah segala keterbatasan. Keterbatasan kadang dapat mendorong timbulnya kreativitas, kemauan dan keberaniaan untuk bereksplorasi terhadap hal-hal baru, daya juang, semangat untuk membangun, dan berbagai inovasi yang mengagumkan hingga mengejutkan. Keterbatasan bukanlah alasan bagi kita untuk menyerah ataupun bersikap pasrah. Belajarlah dari Negara Singapura.
Untung ada KWANG EARRINGS, kini setiap gadis dapat setiap saat dan setiap waktu tampil cantik menawan hati, dengan harga terjangkau. Karena KWANG EARRINGS adalah teman terbaik mu! 😊

  • Share:

You Might Also Like

0 comments

Untuk memesan Asesoris Perhiasan Imitasi Impor Berkualitas KWANG EARRINGS. silahkan kirimkan pemesanan Anda (Mohon cantumkan link url asesoris yang dipesan untuk kami pastikan ketersediaan stok produk. Tidak ada minimum pembelian jumlah item, namun disertai ongkos kirim kurir JNE dari Jakarta, Indonesia):
- instagram dengan ID kwang_earrings
- email, telepon ataupun chatting online via Google Hangout : kwang.earrings@gmail.com
- LINE : rianashietra
- WhatsApp : (+62) 0817-4924-150.
- Juga Follow kami di Facebook: kwang_earrings

Syarat & Ketentuan:
- kerusakan dalam proses pengiriman, diluar tanggung jawab kami.
- tidak disertakan garansi, karena produk yang kami kirimkan dipastikan dalam kondisi baik dan utuh saat proses pengepakan dan pengiriman ke alamat pembeli.
- produk yang telah dipesan dan dikirimkan, tidak dapat dibatalkan ataupun ditukar.
- jika pelanggan puas atas layanan dan produk kami, mohon kesediaannya untuk dipromosikan ke rekan-rekan dan kerabat.

KWANG EARRINGS mengucapkan terimakasih atas kunjungan serta pembeliannya. Kami senang dapat membantu para wanita untuk tampil cantik dan manarik, dimana dan kapan pun berada, berapa pun usianya (tanpa batasan umur).
Berjiwa muda dan tampil belia, adalah keajaiban yang dapat dibantu oleh asesoris yang menawan sekaligus memikat. Kami senang dapat menyediakan pilihan perhiasan imitasi yang terjangkau namun tetap memperhatikan kualitas produk yang kami tawarkan.

Kami tunggu pesanan Anda, akan kami kirimkan pesanan Anda dengan hati yang penuh kehangatan untuk Anda atau untuk wanita yang Anda kasihi.
Peluk dan Cium Erat!

TESTIMONI PEMBELI

TESTIMONI PEMBELI
Klik Gambar untuk Melihat TESTIMONI Pembeli Produk KWANG EARRINGS

Ingin Berwisata ke Thailand TANPA Agen Tour Bersama Keluarga Anda?

Ingin Berwisata ke Thailand TANPA Agen Tour Bersama Keluarga Anda?
Disediakan Jasa TOUR GUIDE Freelance Thailand (Menguasai 4 bahasa). Klik Gambar untuk Detail Layanan Tour Leader Riana

HIGHLIGH ITEM

Dijual Anting yang Membuatmu Menjadi Superstar

Niche : ANTING Harga : Rp. 35.000,-.