The Power of Negative Thinking, Kelebihan Berpikir Negatif

By SHIETRA - Juni 08, 2019

The Power of Negative Thinking, Kelebihan Berpikir NegatifHidup ini memang bagaikan paradoks. Biasanya kita sering mendengar nasehat agar kita selalu berpikir secara positif, memiliki banyak teman, dsb. Namun, apakah selalu benar demikian? Ataukah, semua itu adalah mitos yang sama-sama bersifat “sudut ekstrim” yang bersifat tidak moderat? 😈😇😉
Dalam kesempatan ini, KWANG akan mengajak para pembaca untuk menyelami dua paradoks besar, yakni perihal “negative thinking” serta kekuatan “TIDAK punya banyak teman”. Yuk kita cari tahu bersama.
Kita mulai dengan manfaat berpikiran “negatif”. Yup, KWANG tidak salah dalam menuliskannya, kali ini kita akan menggali lebih dalam manfaat dari berpikir secara negatif. Kita mulai saja.
Jika manfaat berpikir “positif”, tentu kita sudah tahu dan sering mendengar atau membacanya. Tapi adakah manfaat berpikir secara kebalikan darinya, yakni berpikir “negatif”? Ternyata ada juga manfaat positif dibalik berpikir “negatif”, berikut rincian salah satunya.
Mungkinkah berpikiran secara negatif untuk mendapatkan hasil yang lebih positif? Selama ini kita selalu diberi tahu, berpikiran negatif akan membawa dampak yang tidak baik bagi diri kita. Para motivator terutama, sering mengumandangkan jargon-jargon bahwa pikiran negatif tidak akan membuat kita maju. Namun benarkah selamanya akan seperti itu?
Ternyata terdapat juga dua orang penulis buku yang meneliti dampak “positif” dari berpikiran “negatif” (paradoks), yakni: Todd Kashdan dan Robert Biswas-Dieners berjudul The Upside of Your Dark Side, serta Gabriele Oettigen dalam Rethinking Positive Thinking.
Mereka menjelaskan hal-hal apa saja yang terbilang baik, dari pikiran negatif yang muncul dari dalam diri kita. Mari kita bahas satu per satu.
Jika selama ini kita merasa bahagia, nyaman, hidup dalam mimpimu, maka kita tidak akan mendapat motivasi yang cukup untuk menyelesaikan segala sesuatunya, seperti yang disitir dari buku Oettigen "keadaan yang nyaman dan perilaku yang baik dapat menghilangkan secara cepat motivasi yang dibutuhkan untuk bergerak dan menyusun rencana.. bermimpi itu tidak melakukan apapun." The sense of urgency.
Buku Kashdan dan Biswas-Diener yang dikutip New York Magazine berjudul "Grumpy People Get the Details Right", sang penulis mencoba menyampaikan, "Pikiran negatif seperti kegelisahan dan curiga dapat menjadi alat penyaring kehati-hatian dalam pikiran dan mata untuk mendapatkan detil yang penting"
Mereka melakukan penelitian yang memperlihatkan bahwa "orang-orang yang depresi cenderung melihat segala sesuatunya lebih seksama / detil", terutama di ekspresi wajah.
Dalam berbagai penelitian, ditemukan bahwa orang-orang yang depresi itu tidak gampang percaya terhadap jaminan dan kepalsuan. Kadang-kadang orang-orang yang bahagia lebih mudah tertipu.
Mungkin kita tidak harus mencoba terlalu keras untuk selalu tersenyum. Kashdan dan Biswas-Diener menuliskan dalam dokumentasinya, "Sebuah alis berkerut atau kerutan, menjadi peringatan untuk orang lain supaya tidak mengganggu Anda." Itulah simbol warning yang diberikan oleh wajah kita.
Senada dengan itu, dalam buku berjudul The Upside of Your Dark Side, dalam bab keuntungan pikiran negatif di lingkungan kerja, "sedikit suasana negatif di lingkungan kerja bisa membuat orang dari yang mudah setuju menjadikan mereka lebih fokus untuk mengerjakan segala sesuatunya dengan benar." Bila Anda menghendaki “going on the track”, maka sesekali tinjau ulang isi pikiran Anda.
Penulis lainnya, Norem, menjelaskan apa yang begitu baik tentang gaya dia sebut defensive pessimism. Pendekatan ini membuat kita cenderung untuk membayangkan skenario terburuk ketika kamu memiliki sesuatu yang penting dalam bekerja (seperti presentasi). Bagaimana itu dapat menjadi hal yang baik?
Hal demikian mampu memotivasi kita untuk memperkirakan hal buruk yang bisa terjadi, serta membuat kita memikirkan strategi untuk meminimalisasi hal buruk yang mungkin dapat terjadi.
Mencegah selalu lebih baik daripada mengobati, bukankah begitu? Orang-orang yang melakukan ini, akhirnya mendapatkan hasil yang lebih baik daripada jika mereka tidak menggunakan strategi demikian, terutama bagi kalangan profesi terkait hukum dan perencanaan konstruksi maupun programmer keamanan dunia siber.
Dan yang tidak kalah telak, disebutkan bahwa “cinta yang romantis adalah intisari dari semua cinta, tapi bukan hal yang menakjubkan ketika mengetahui pasanganmu berbohong kepadamu”. Dalam kenyataannya, terkadang orang asing bisa menebak jika kamu sedang berbohong daripada pasanganmu sendiri.
Tidak selamanya berpikir negatif membawa dampak buruk, bahkan kita bisa mendapatkan manfaat jika mampu memanfaatkan dan mengendalikan si sosok pembisik tak kasat-mata, bernama negative thinking ini.
Betul bahwa negative thinking ini adspat membawa berdampak buruk bagi kehidupan dan aktivitas keseharian kita, contohnya pesimistis dengan kemampuan diri sendiri sehingga menyerah ditengah jalan, ragu-ragu untuk mengambil kesempatan yang langka, juga menguras emosi banyak orang di sekeliling kita, serta selalu melihat dari sisi yang negatif sehingga menyukarkan diri kita sendiri.
Pada gilirannya, mengakibatkan turunnya atau bahkan hilangnya semangat hidup kita sendiri, sehingga kita akan kesulitan untuk mencapai potensi optimal diri kita. Patah arang secara prematur, tentu menjadi mimpi buruk yang perlu kita sikapi secara arif.
Namun ketika kita mampu mengolah dan menggunakan seluruh logika berpikir logis kita, “negative thinking” justru disebutkan bisa jadi sebuah kelebihan tersendiri. Jadi, apakah itu “advantage” ataukah “disadvantage”, sangat bergantung pada konteksnya. Hal tersebut menyerupai pisau bermata dua.
Memanfaatkan negative thinking untuk tujuan langkah preventif, dinilai sebagai sebuah kekuatan. Mungkin sudah saatnya bagi kita untuk selalu memulai dengan berpikir secara negatif terlebih dahulu sebelum beraliha pada cara berpikir positif.
Berpikir negative tidak selalu harus dikonotasikan dengan bersikap pesimistis, namun hanya cukup sebatas memikirkan terjadinya kemungkinan terburuk sehingga kita sudah siap untuk menghadapinya dengan segala kemampuan dan antisipasi yang telah kita persiapkan dari jauh hari.
Semisal ketika kita dapat tawaran untuk menggarap proyek yang cukup kompleks dengan jangka waktu beberapa bulan, sebagai contoh, dalam kondisi tanpa team. Dengan berpikir secara negatif, kita akan menyadari bahwa waktu yang tersedia (deadline) sangatlah singkat.
Namun jangan berhenti sampai pemikiran tersebut, kita harus segera menyadarinya, dan beralih pada pemikiran positif yang berupa pencarian solusi.
Kita memulainya dengan berpikiran secara negatif terlebih dulu. Perlu kita petakan apa sakah kemungkinan terburuk dari tawaran proyek serta kondisi yang kita hadapi? Tentu kita bisa menyusun sendiri daftar rinciannya dalam selembar kertas, mulai dari hasil pengerjaan yang tidak mendetail, lolos beberapa hal terperinci, bisa jadi kelupaan beberapa elemen finishing, bahkan hingga harus bertanggung jawab bila proyek tidak selesai pada waktunya.
Dari berbagai kemungkinan terburuk yang telah kita kenali dan petakan, dengan itu kini kita menjadi memiliki penerawangan bagaimana cara mengatasi dan menghadapi kondisi kemungkinan terburuk yang mungkin dapat terjadi (langkah preventif), sebagai contoh: membuat blueprint yang paling rasional dan paling mungkin direalisasi, membuat perencanaan dan manajemen waktu yang ketat dan perlu ditaati oleh kita sendiri selama proses pengerjaan, mengurangi beberapa elemen yang tidak begitu diperlukan, fokus pada inti proyek, meminta klien agar menceritakan secara lebih mendetail apa yang mereka inginkan agar tidak harus mengerjakan proyek mulai dari awal karena kesalah-pahaman yang tidak perlu terjadi.
Setelah itu, buka diri kita, dan biarkan Positive thinking menghampiri diri ktia. Kita tetap perlu membentengi diri, jangan sampai negative thinking yang berlebihan menguasai dan memakan habis energi semangat kita.
Kini mari kita mulai memelajari manfaat dari hanya punya sedikit teman. Ternyata, dikelilingi banyak teman setiap harinya, belum tentu juga berfaedah bagi kebaikan diri kita.
Seseorang yang punya teman lebih sedikit, mungkin saja jauh lebih berbahagia dalam hidupnya, mengapa dan bagaimana bisa?
Bagi sebagian kalangan, terutama kalangan anak muda dan pebisnis, punya banyak teman / relasi, merupakan sebuah kebanggaan bahkan bisa disebut sebagai prestasi. Apalagi jika mereka berasal dari berbagai latar belakang, daerah, suku dan budaya, tentu membuat portofolio kita menjadi terkesan profesional dan “gaul”.
Pasti akan semakin menyenangkan ketika berbagi pengalaman di sosmed yang ramai dan riuh banyak teman penyikut setia, bermain dan hangout bersama hingga saling bertukar pikiran. Tidak akan pernah kesepian seorang diri. Ekstrovert banget deh!
Tidaklah kita dipungkiri, terdapat banyak manfaat yang akan didapatkan ketika memiliki banyak teman. Namun, ternyata ada juga yang justru nyaman dengan jumlah teman yang lebih sedikit. Apakah ini prinsip yang hanya “laku” untuk kalangan introvert?
Sebenarnya, kuantitas bukanlah tema utama dalam hal pertemanan. Paling utama tentunya perihal “kualitas” yang dimiliki oleh sang teman serta bagaimana mengisi pertemanan itu sendiri. Karena nyatanya banyak teman tak selalu menjamin kebahagiaan. Justru yang punya teman sedikit dianggap lebih bahagia.
Dibanding yang punya puluhan teman namun tak bisa saling mengerti, memiliki dua sahabat setia yang bisa saling memahami dianggap lebih berkualitas. Persahabatan yang dijalin lebih intim dan dekat layaknya keluarga. Ikatan batin juga lebih mudah tersambung sehingga bisa saling paham satu sama lain meski tak harus dikatakan lewat banyak kata-kata.
Semakin banyak teman yang kita miliki, maka semakin banyak waktu yang harus kita siap sediakan guna bersosialisasi dengan mereka. Semisal, harus menyediakan waktu setiap hari untuk rutin membalas di grup chatting untuk menjaga tali pertemanan, atau ikutan hangout bareng agar bisa terus eksis. Akibatnya waktu untuk dirimu sendiri terus berkurang.
Ada banyak teman, artinya harus siap repot-repot menghadiri undangan perkawinan, undangan reuni, undangan arisan, undangan pertemuan, undangan ngerumpi dan gosib bareng, hingga mengirim dan membalas ucapan selamat tahun baru. Itu pun jika ngumpul di warung, bagaimana jika di kafe yang harga minuman per gelasnya bisa membuat kantung saku kita menjerit?
Lalu kapan waktu untuk diri kita sendiri? Kapan kita bisa mengisi waktu luang untuk hobi kita sendiri? Kapan kita beristirahat seorang diri jauh dari keramaian dan hiruk-pikuk? Kapan kita mulai persahabatan dengan diri kita sendiri? Bisa menikmati banyak hal yang bersifat pribagi?
Tidaklah bermaksud melarang untuk sosialisasi. Namun seandainya kita punya sedikit teman, kualitas pemanfaatan waktu kita akan jauh lebih efektif. Baik untuk dirimu sendiri maupun ketika bersama sahabat.
Hidup akan terus berjalan ke depan dan berpindah-pindah, tak ada pesta yang tidak usai. Mungkin sekarang kamu bisa berkumpul bersama sahabat dan teman, namun suatu saat kita dan mereka semua akan menempuh jalan masing-masing. Ada yang pindah ke luar kota, meniti karir di luar daerah hingga menikah. Jika seperti itu, akan sulit mempertahankan persahabatan dan kedekatan.
Jika kita menghabiskan banyak waktu kita kepada seorang sahabat, namun ternyata sahabat tersebut berbalik menjadi musuh kita, tentunya kita akan menyesali segala pengorbanan waktu yang telah kita berikan bagi mereka. Mengapa kita tidak mulai mencoba menjadi teman yang baik bagi diri kita sendiri?
Apalagi jika temanmu sangat banyak, mustahil bisa menjaga kedekatan dengan semuanya. Jika jumlah teman karib kita terhitung hanya segelintir hitungan jari tangan, tentunya pastinya akan lebih mudah untuk terus melangsungkan komunikasi rutin dan berjumpa.
Dan yang tidak kalah penting, kita tidak harus merasa bersalah saat kita sedang benar-benar sibuk. Akan ada masanya ketika pekerjaan mengambil-alih sebagian besar waktu kita. Terutama ketika datang kesempatan untuk promosi jabatan yang mungkin tidak akan datang dua kali, atau ketika kita ingin mengembangkan karir atau belajar hal baru, kesibukan bisa dua kali lipat lebih banyak.
Jika teman kita banyak, akan sangat sulit untuk membagi waktu untuk setiap teman. Beruntung jika mereka mau mengerti kesibukanmu, jika tidak? Ingatlah, kegagalan terbesar seseorang adalah ketija ia berusaha untuk menyenangkan semua orang. Namun, menyenangkan beberapa teman kita yang hanya berjumlah hitungan jari tangan, tampaknya lebih rasional dan masuk diakal.
Akan lebih mudah jika teman kita sedikit, sebagai kesimpulannya. Membagi waktu juga lebih mudah dan fleksibel. Apalagi sahabat biasanya lebih mengerti dan memahami diri kita sehingga tak perlu khawatir ketika kesibukan tak bisa dihindari.
Hanya punya seedikit teman, terkadang menjadi hal yang harus kita syukuri. Kita mulai menjadi punya waktu untuk diri kita sendiri, untuk mengembangkan bakat, menyalurkan hobi, memulai aktivitas baru, menjelajahi dunia baru, dsb. Terlebih jika teman kita yang sedikit jumlahnya ini, bisa saling mengerti dan memahami satu sama lain. Kualitas, bukan kuantitas.
Sama halnya dengan kesan konotasi ketika kita mendengar istilah anting emas / intang “imitasi”, kesannya demikian negatif. Padahal, ternyata beragam keuntungan dan kelebihan nyata dari perhiasan imitasi ketimbang perhiasan emas / intan asli yang kadang membawa banyak masalah serta kendala.
Karena KWANG EARRINGS adalah teman terbaik mu! 😊
SUMBER REFERENSI disertai dengan beragam elaborasi penulis:
https:// keepo.me /business/7-dampak-positif-dari-negative-thinking/
https:// nusendra. com/post/manfaat-dari-berpikir-negatif/
https:// www.inovasee. com/teman-sedikit-jauh-lebih-bahagia-45761/

  • Share:

You Might Also Like

0 comments

Untuk memesan Asesoris Perhiasan Imitasi Impor Berkualitas KWANG EARRINGS. baik eceran maupun dengan grosiran, silahkan kirimkan pemesanan Anda (Mohon cantumkan link url asesoris yang dipesan untuk kami pastikan ketersediaan stok produk). Tidak ada minimum pembelian jumlah item secara eceran, Bagi yang membeli secara grosir, mendapat diskon khusus. namun disertai ongkos kirim kurir JNE dari Jakarta, Indonesia:
- instagram dengan ID kwang_earrings
- email, telepon ataupun chatting online via Google Hangout : kwang.earrings@gmail.com
- LINE : rianashietra
- WhatsApp : (+62) 0817-4924-150.
- Juga Follow kami di Facebook: kwang_earrings

Syarat & Ketentuan:
- kerusakan dalam proses pengiriman, diluar tanggung jawab kami selaku penjual / supplier.
- tidak disertakan garansi, karena produk yang kami kirimkan dipastikan dalam kondisi baik dan utuh saat proses pengepakan dan pengiriman ke alamat pembeli.
- produk yang telah dipesan dan dikirimkan, tidak dapat dibatalkan ataupun ditukar.
- jika pelanggan puas atas layanan dan produk kami, mohon kesediaannya untuk dipromosikan ke rekan-rekan dan kerabat.

KWANG EARRINGS mengucapkan terimakasih atas kunjungan serta pembeliannya. Kami senang dapat membantu para wanita untuk tampil cantik dan manarik, dimana dan kapan pun berada, berapa pun usianya (tanpa batasan umur).
Berjiwa muda dan tampil belia, adalah keajaiban yang dapat dibantu oleh asesoris yang menawan sekaligus memikat. Kami senang dapat menyediakan pilihan perhiasan imitasi yang terjangkau namun tetap memperhatikan kualitas produk yang kami tawarkan secara eceran maupun grosiran.

Kami tunggu pesanan Anda, akan kami kirimkan pesanan Anda dengan hati yang penuh kehangatan untuk Anda atau untuk buah hati dan keluarga yang Anda kasihi.
Peluk dan Cium Erat!

TESTIMONI PEMBELI

TESTIMONI PEMBELI
Klik Gambar untuk Melihat TESTIMONI Pembeli Produk KWANG EARRINGS