Mengubah Kebiasaan, artinya Mengubah Nasib. Kebiasaan yang Baik, Hidup yang SUKSES

By SHIETRA - Juli 28, 2019

“Engkau tidak akan dapat mengubah kehidupan dirimu hingga engkau mengubah sesuatu yang engkau lakukan sehari-harinya. Rahasia dari kesuksesan yang dapat engkau raih, terletak pada rutinitas di keseharian dirimu.”
(John C. Maxwell)
Percaya pada diri, potensi diri, dan kepada kebaikan hati diri kita sendiri, apapun kata orang lain terhadap kita, CITRA DIRI YANG POSITIFFenomena saat kini, yang cukup membuat cemas, tidak sedikit generasi muda kita yang tidak lagi memiliki stamina untuk membaca buku, meski seharian penuh mereka ternyata sanggup melihat layar handphone dan mengetik di papan ketik mini di layar handphone mereka.
Menurunnya kemampuan membaca kaum muda dewasa ini, tidak luput dari budaya literasi yang bergeser dari pembacaan buku menuju pembacaan layar kaca digital pada perangkat gadget seperti handphone, dimana proses membaca menjadi hanya sebatas dan sesempit artikel-artikel pendek di dunia maya internet yang sifatnya segmental dan parsial, tidak utuh dan holistik layaknya membaca buku atau paling tidak eBook.
Kemauan untuk hanya membaca secara singkat dan pendek-pendek semata, disinyalir / ditengarai oleh sikap pragmatis yang hanya menghendaki pembacaan bacaan pendek, sehingga alhasil substansi pengetahuan yang didapatkan hanya “di kulitnya” semata, tidak utuh, atau bahkan dibiaskan oleh penafsiran sendiri pembacanya tanpa mendalaminya lebih dalam lagi.
Bila kebiasaan demikian terus dibiarkan berlanjut menggantikan budaya membaca buku, dikhawatirkan kelak satu generasi mendatang, tidak ada lagi anak muda yang mampu bertahan membaca satu buku utuh hingga habis, semua hanya dijadikan koleksi yang memenuhi pajangan rak buku yang dipenuhi debu menempel. Membeli buku mahal-mahal untuk hanya dikoleksi, bukankah sangat disayangkan?
Hingga saat kini, oleh karena itu, menyadari pentingnya budaya baca buku, KWANG tetap mempertahankan kebiasaan membaca buku setiap harinya. Orang-orang besar yang sukses dalam hidup dan karir mereka, dikenal sebagai orang-orang yang gemar mempertahankan kebiasaan membaca setiap harinya. Sebutlah Bill Gates sang pendiri Microsoft yang termasyur itu, dalam 1 tahun membaca habis 52 buku, alias 1 minggu 1 buku dilahap oleh Bill Gates.
Ketika komitmen membaca dibiasakan, maka itu akan menjadi kebiasaan dan “habit” dari diri kita sendiri yang tidak lagi perlu dipaksakan untuk dilakoni di keseharian ketika semua itu telah menjadi bagian dari kebiasaan diri kita. Justru, ketika suatu hari tidak membaca, rasanya ada yang kurang—itulah tepatnya yang dimaksud dengan telah “mendarah daging”.
Kekhawatiran gegar budaya menghilangnya kemampuan membaca buku, bukan tanpa alasan. Untuk itu KWANG akan mencuplik kisah berikut ini yang KWANG harapkan mampu membangkitkan semangat Sobat untuk tetap membiasakan budaya membaca buku, setidaknya eBook setiap harinya.
Buku setebal apapun, bila dicicil paling tidak 10 halaman setiap harinya, maka buku setebal 300 halaman pun akan habis dalam 1 bulan, sehingga kita jangan menyerah sebelum memulainya semata karena melihat tebalnya halaman buku tersebut.
Menurut Bpk. Hery Shietra, salah seorang penulis buku yang sudah menulis ribuan artikel dan belasan buku bertema hukum, disebutkan bahwa yang terlebih sukar bukanlah membaca buku, namun menulis sebuah buku.
Yuk mari kita mulai kisah dongeng nyata ini. Alkisah, California dikenal selama bertahun-tahun sebagai surga dunia bagi burung pelikan (pelican, burung semacam angsa yang bewarna pink). Kota yang berada di pesisir barat Amerika ini menjadi habitat bagi burung berparuh panjang seiring dengan banyaknya perusahaan pengalengan ikan di daerah Monterey. Burung-burung pelikan terus berdatangan dalam jumlah yang tidak sedikit ke daerah itu sehingga warga sekitar menyebutnya sebagai surga bagi burung pelikan.
Burung-burung pelikan itu bermigrasi ke wilayah itu bukanlah tanpa sebab. Berdirinya perusahaan pengalengan ikan kerap memanjakan burung-burung pelikan mendapatkan ikan segar sisa yang tidak lolos sortir para pekerja industri ikan kalengan. Para nelayan menyortir ikan berkualitas bagus untuk pabrik, dan ikan yang tidak layak dikonsumsi konsumen disisihkan, dan itulah yang menjadi santapan para burung-burung pemalas yang hanya cukup mengais-ngais ongkokan ikan yang sudah tidak berdaya di tepi pantai untuk makan.
Tidaklah heran bila burung-burung itu bahkan bermigrasi besar-besaran untuk dapat makan ikan dengan sangat mudah tanpa harus bersusah payah berburu ikan di lautan. (Ternyata burung belikan dapat berkomunikasi dengan sesama burung pelikan, buktinya mereka dapat mengajak eksodus besar-besaran kaumnya demi pesta ikan ini.)
Namun, tidak ada pesta yang tidak usai. Seiring berjalannya waktu, ikan-ikan di sepanjang pantai California mengalami penurunan populasi akibat eskploitasi besar-besaran selama ini. Hal demikian tentu saja berdampak terhadap perusahaan pengalengan ikan yang berada di daerah itu. Perlahan namun pasti, kondisi itu membuat perusahaan-perusahaan pengalengan ikan gulung tikar.
Kenyataan pahit tersebut logis berakibat fatal dan berimbas pada nasib burung-burung pelikan yang selama ini telah menjadi sangat bergantung pada ikan-ikan sisa sortiran yang dibuang oleh perusahaan pengalengan di daerah sekitar.
Masalah besar pada burung-burung itu kini menganga di depan mata. Bencana kelaparan telah menanti mereka yang selama ini dimanjakan dengan ikan sisa perusahaan pengalengan.
Sekalipun burung pelikan merupakan burung yang piawai dalam menangkap ikan di lautan, namun karena selama ini mereka dengan mudahnya mendapatkan ikan dari perusahaan pengalengan tanpa harus dipaksa bersusah payah mengakibatkan sirnanya kemampuan burung-burung itu untuk berburu di alam bebas.
Paruh yang semakin lebar ditambah dengan postur tubuh yang semakin gempal, alhasil membuat burung-burung pelikan itu kehilangan minat berburu, tidak jauh berbeda seperti burung-burung pemakan bangkai yang hanya pasif bermalas-malasan menantikan sisa ikan yang dibuang oleh perusahaan pengalengan ikan.
Kenyataan tragis itu menarik perhatian para peneliti pemerhati lingkungan hidup untuk mencari solusi jalan keluar bagi krisis pangan burung pelikan di daerah tersebut. Para peneliti kemudian bergegas mendatangkan burung-burung pelikan liar dari wilayah lain yang tengah mereka teliti mengenai kemampuan dalam berburu makanan di alam liar.
Dengan didatangkannya tamu baru tersebut di wilayah si pelikan pemalas, ternyata tidaklah sia-sia karena berbuah manis, karena mampu membangkitkan motivasi serta semangat juang burung-burung pelikan yang sebelumnya telah patah semangat untuk bertahan hidup, kini terpanggil untuk ikut terbang bergerombol berburu ikan di laut lepas—keterampilan yang sebelumnya telah mereka lupakan kini telah mereka kuasai kembali seiring bertambahnya kepercayaan diri mereka untuk berburu makanan sendiri. Pepatah mengatakan, kebiasaan buruk mampu menulari. Namun, kebiasaan baik juga memiliki keajiban yang sama.
Setelah dilakukan observasi selama beberapa waktu lamanya, akhirnya para peneliti lingkungan hidup dapat bernafas lega, karena mendapati bahwa upaya mereka membawa hasil positif menyelamatkan burung-burung pelikan itu dari bencana kelaparan massal.
Burung-burung pelikan pemalas yang nyaris punah karena kelaparan dalam kisah di atas, merupakan cerminan betapa sebuah kebiasaan ternyata dapat menyerupai “penjara” dalam kehidupan. Kebiasaan yang kurang sehat dapat membawa petaka besar dalam kehidupan seperti contoh kisah burung-burung pelikan di atas.
Tidak berbeda dengan kita sebagai manusia yang juga makhluk yang lebih memilih untuk melakukan kebiasaan rutin sehari-hari yang menyenangkan dan menjauhi hal yang menyakitkan seperti latihan dan kerja keras. Bukankah pepatah sudah mengingatkan: Berakit-rakit ke hulu, berenang-renang ke tepian. Bersakit-sakit dahulu, bersenang-senang kemudian? Sehingga, mengapa prosesnya harus dibalik?
Kita adalah apa yang kita lakukan secara berulang-ulang. Kesuksesan bukanlah sebuah aksi, namun sebuah kebiasaan itu sendiri.
(Aristoteles)
Kemampuan dan daya tahan untuk membaca buku, dapat dilatih, yang merupakan hasil dari pembelajaran dan latihan yang perlu dibiasakan akan terbiasa. Bila tidak dibiasakan mulai dari sekarang, bagaimana dapat menjadi terbiasa? Practice makes perfect, begitu pepatah mengatakan.
Untuk menjadi gambaran betapa hebatnya suatu kemampuan yang terlatih, hasil dari latihan yang konsisten dan berkesinambungan, kisah berikut ini dapat menjadi inspirasi untuk kita bersama.
Adegan menghentikan atau menangkap peluru yang dilontarkan dari moncong sebuah senapan api yang ditembakkan dalam sebuah adegan film, sudah sering kita saksikan di layar kaca film-film fiksi. Namun, siapa menyangka, kemampuan untuk mengejar kecepatan peluru, ternyata betul-betul mampu dikuasai oleh seorang manusia.
Isao Machii, nama orang yang telah menjadi “perfect” sebagai hasil dari latihan sepanjang hidupnya, adalah salah satu nama yang patut disebutkan di sini. Sebagai seorang samurai, dirinya mampu memperlihatkan kemahirannya membelah peluru yang melaju dari moncong senapan api yang memiliki kecepatan melesat mencapai 200 mil/jam atau ekuivalen dengan 320 km/jam dari jarak 70 meter. Tidak main-main!
Pertunjukkan nyata tersebut dilakukan Isao Machii sebagai tanggapan atas tantangan dari seorang produsen film. Tantangan sang produser film bukanlah tanpa alasan logis, karena secara logika tidak mungkin mata manusia yang diyakini penuh keterbatasan mampu melihat laju proyektil peluru yang kecil dalam kecepatan tinggi, sekaligus membelah peluru itu, dua tuntutan yang tampaknya mustahil dicapai.
Sang pembuat film kemudian menggunakan peralatan serta memasang kamera berkecepatan tinggi yang canggih guna menangkap setiap momen gerakan demi gerakan yang dilakukan Isao agar dapat menganalisa aksinya dalam playback gerakan lambat secara detail.
Hasil rekaman video yang didapat sangat mencengangkan, dimana terlihat dalam putaran ulang rekaman dalam gerakan lambat, Isao tampak mencabut pedang dari dalam sarungnya kemudian dengan sekejap membelah peluru menjadi dua. Apa yang dilakukan oleh Isao Machii memang sangat mencengangkan.
Siapa pun yang melihat keterampilannya dalam seni berpedang, mengomentari bahwa Isao Matchii benar-benar luar biasa, tanpa mau menyadari proses panjang yang telah ditempuh sang maestro sebelum memperoleh keterampilan mengagumkan demikian.
Akan tetapi, jauh sebelum ia mampu melakukan hal itu, ia memulai mengasah keterampilan pedangnya sejak ia masih sangat belia. Dibutuhkan komitmen panjang mengasah keterampilan lewat latihan demi latihan yang tidak kenal letih sepanjang hidupnya, itulah tepatnya yang perlu kita mulai ketahui dan pahami.
Keterampilan tidak turun dari langit, tapi hasil perolehan dari keringat dan jirih payah sepanjang hayat. Kabar baiknya, ispirasi kisah tokoh-tokoh besar tersebut membawa pesan bagi kita, bahwa kita pun dapat menjadi seorang maestro, sepanjang kita memiliki visi misi dan komitmen yang konsisten dalam berlatih dan mengasah keterampilan.
Segala sesuatu akan berat dan sukar pada permulaannya, memang selalu demikian dan adalah hal yang wajar, namun bukan berarti kita sudah menyerah sebelum memulai langkah pertama. Ibarat roket yang terbang ke angkasa, dibutuhkan tenaga ekstra untuk dapat melesat ke udara.
Namun, kabar baiknya, sekali kita sudah berada di atas, kita terbang tinggi dan menjadi bagian dari mereka yang telah terlebih dahulu berada di atas “langit”. Karena KWANG EARRINGS adalah teman terbaik mu! 😊

  • Share:

You Might Also Like

0 comments

Untuk memesan Asesoris Perhiasan Imitasi Impor Berkualitas KWANG EARRINGS. baik eceran maupun dengan grosiran, silahkan kirimkan pemesanan Anda (Mohon cantumkan link url asesoris yang dipesan untuk kami pastikan ketersediaan stok produk). Tidak ada minimum pembelian jumlah item secara eceran, Bagi yang membeli secara grosir, mendapat diskon khusus. namun disertai ongkos kirim kurir JNE dari Jakarta, Indonesia:
- instagram dengan ID kwang_earrings
- email, telepon ataupun chatting online via Google Hangout : kwang.earrings@gmail.com
- LINE : RIANASHIETRA
- WhatsApp : (+62) 0817-4924-150.
- Juga Follow kami di Facebook: kwang_earrings

Syarat & Ketentuan:
- kerusakan dalam proses pengiriman, diluar tanggung jawab kami selaku penjual / supplier.
- tidak disertakan garansi, karena produk yang kami kirimkan dipastikan dalam kondisi baik dan utuh saat proses pengepakan dan pengiriman ke alamat pembeli.
- produk yang telah dipesan dan dikirimkan, tidak dapat dibatalkan ataupun ditukar.
- jika pelanggan puas atas layanan dan produk kami, mohon kesediaannya untuk dipromosikan ke rekan-rekan dan kerabat.

KWANG EARRINGS mengucapkan terimakasih atas kunjungan serta pembeliannya. Kami senang dapat membantu para wanita untuk tampil cantik dan manarik, dimana dan kapan pun berada, berapa pun usianya (tanpa batasan umur).
Berjiwa muda dan tampil belia, adalah keajaiban yang dapat dibantu oleh asesoris yang menawan sekaligus memikat. Kami senang dapat menyediakan pilihan perhiasan imitasi yang terjangkau namun tetap memperhatikan kualitas produk yang kami tawarkan secara eceran maupun grosiran.

Kami tunggu pesanan Anda, akan kami kirimkan pesanan Anda dengan hati yang penuh kehangatan untuk Anda atau untuk buah hati dan keluarga yang Anda kasihi.
Peluk dan Cium Erat!

Khusus untuk keperluan pemesanan dompet impor souvenir resepsi pertunangan / perkawinan, maupun untuk jasa PRIVATE TOUR GUIDE LEADER FREELANCE RIANA di Thailand, contact person:
- WhatsApp : (Thailand prefiks +66) 977-146-077;
- email, telepon, atau chatting online via Google Hangout : kwang.earrings@gmail.com
- LINE : RIANASHIETRA

TESTIMONI PEMBELI

TESTIMONI PEMBELI
Klik Gambar untuk Melihat TESTIMONI Pembeli Produk KWANG EARRINGS