The Power of EGP-CC, Emang Gue Pikirin, Cuih Cuih!

By SHIETRA - Juli 19, 2019

Action is the mother of hope.”
(Pablo Neruda, penyair)
Membangun Kesuksesan Bukan Pekerjaan Satu Malam, Namun Bertahap dan Komitmen Konsistensi Disiplin DiriSebagai sesama pebisnis mandiri “jualan (produk / barang lewat media) online”, tentunya KWANG paham sekali dengan berbagai stigma kurang sedap yang harus didengarkan oleh para pelaku pengusaha “jualan online”, mulai dari sebutan sebagai “pengangguran yang hanya duduk di balik meja dan komputer”, “tidak bekerja”, hingga “kurang pergaulan”.
Itulah yang kerap dilontarkan oleh para tetangga yang setiap harinya tidak melihat kita bermacet-macetan di jalanan seperti layaknya pekerja kantoran yang “keringatan” itu. Sementara kita hanya duduk manis di rumah. Namun biarkanlah, anggap saja itu ejekan orang-orang yang bersikap “iri” terhadap kemampuan kita bekerja dan mencari nafkah secara “cerdas” alih-alih bekerja “dengkul”.
Namun untuk apa juga sih, kita musti bermacet-macetan di jalan, seolah jalanan dan jalan raya itu belum cukup macet dan belum cukup penuh sesak oleh pengendara kendaraan bermotor yang menderita di perjalanan pulang-pergi rumah-kantor setiap harinya?
Belum lagi bicara faktor kesehatan yang memburuk akibat berjam-jam terpapar polusi udara para komuter tersebut di jalanan, setiap harinya, disamping biaya bensin dan transportasi yang tidak sedikit tentunya, terlebih resiko kecelakaan berlalu-lintas yang dapat merenggut nyawa.
Untuk apa juga segala pengeluaran berbiaya tinggi maupun pemborosan waktu demikian, bila kemajuan teknologi internet telah menawarkan banyak sekali keuntungan untuk dimanfaatkan oleh kita bersama?
Kini, zaman sudah berubah. Bukan lagi kerja keras bermacet-macetan, tapi “kerja cerdas”. Untuk apa juga ada kemajuan teknologi bila tidak dimanfaatkan secara optimal dan tepat guna.
Mereka yang berpikir bahwa teknologi adalah agen kejahatan, maka itu sama kolotnya dengan mereka yang mengatakan bahwa pisau adalah alat yang jahat karena dapat melukai. Teknologi menjadi baik di tangan orang-orang yang menggunakannya secara baik.
Dahulu kala, saat-saat masih zaman konvensional, mereka yang bisa meraih sukses seolah hanya bisa dijumpai dan dijangkau oleh para pemilik toko dan kios di pusat perbelanjaan. Kini, berbagai kios dan pusat perbelanjaan yang tersebar di ibukota, kian sepi oleh pengunjung, oleh sebab para konsumen dan peminatnya telah berpindah hati kepada “toko online”—tidak perlu bermacet-macetan membeli barang, cukup memesan lewat satu sentuhan pada gadget, maka barang pesanan pun tiba di tempat.
Tren perilaku konsumen pun telah berubah oleh kemajuan teknologi, maka perilaku pengusaha pun harus turut berubah dan mengikuti tren pasar yang diakomodasi oleh kemajuan teknologi internet.
So, untuk apa juga sibuk membuang waktu dan biaya untuk menyewa ruko, toko, atau kios dan istilah lainnya, serta membuang waktu di jalan untuk pulang dan pergi, yang seolah menjadi ritual di keseharian?
Zaman sudah berkembang pesat, jauh lebih canggih lewat bantuan kemajuan teknologi berupa jaringan internet, yang mempertemukan antara penjual dan pembeli tanpa lagi dibatasi oleh batasan sekat ruang maupun waktu.
Hari gini, masih berpanas-panasan dan bermacet-macetan di jalan? Hari gini, masih offline? Hari gini, masih “kampungan”? Orang kampung saja sekarang ini sudah canggih dan keren, online semua.
"Kita tidak tahu apa yang dibawa masa depan, tetapi kita tahu bahwa kita harus bertindak."
(Friedrich Duerrenmatt)
Bisnis OFFLINE Vs. Bisnis ONLINE.
Di tengah persaingan bisnis yang kian ketat, luas lahan tempat usaha yang kian terbatas, membuat saat kini memulai bisnis dengan modal terbatas, menjadi tampak hampir mustahil—namun itu adalah mindset pebisnis konvensional yang menjadi sifat dari pelaku usaha OFFLINE. Mereka yang tidak mengikuti kemajuan zaman, akan tertinggal di belakang.
Selalu ada pelopor dalam setiap bidang usaha, disertai para inovator. Namun mereka yang bersikap kaku dan tidak dinamis, siap-siap saja “gigit jari” dan tertinggal jauh di belakang dan tidak lagi mampu berkompetisi karena pangsa pasar pastilah telah berpindah ke lain hati.
Sebaliknya, bagi pelaku usaha ONLINE, apapun masih mungkin dapat terjadi. Tidak ada batasan sama sekali untuk memulai merintis dan menjalankan usaha. Kini dunia menjelma demikian borderless, benar-benar tanpa sekat ruang dan waktu.
Siapa, kapan, dan dimana pun, kini kita dapat memulai bisnis kita sendiri secara berdaya dan sekalipun dengan sumber daya yang serba terbatas. Mereka yang dahulu, semulanya bukanlah siapa-siapa, kini dapat menjadi dikenal luas oleh mereka dari berbagai penjuru kota, bahkan hingga dari penjuru dunia.
Pebisnis “dadakan” berjamuran sepanjang tahunnya, namun tetap saja integritas yang akan membuat mereka bertahan, selebihnya akan kembali tersisihkan. Kemajuan teknologi hanya menawarkan pintu gerbang pembuka untuk memulai usaha. Selebihnya ialah komitmen sang pelaku usaha itu sendiri.
Jangan pernah meremehkan terlebih merendahkan martabat mereka, para pelaku usaha yang berbisnis secara online. Sudah banyak entrepreneur start-up muda yang berhasil dan maju dalam bisnis online yang dirintis olehnya. Bila ada yang meremehkan, inilah argumentasi dari KWANG yang bisa Sobat coba terapkan:
Yang paling tahu tentang kita, adalah diri ktia sendiri. Yang penting kita tahu siapa diri kita sendiri, sementara apa yang menjadi komentar dari orang lain tentang diri kita, tidaklah penting. Jika ada yang bilang kurang pergaulan, di rumah aja, yang penting kan kita tidak korupsi, bisa jualan online. Belum tentu juga yang komentar buruk tentang kita, merupakan pekerja kantoran yang tidak korupsi terhadap kantor tempatnya bekerja.
Jaman sudah demikian canggihnya, untuk apa juga kemana-mana musti ketemu tatap-muka bermacet-macetan di jalan? Bersosialisasi pun dapat dilakukan lewat medium internet, ada online, jangan kampungan mirip orang udik yang harus berjalan puluhan kilometer hanya untuk bertegur sapa.
Jika tetangga yang mengkritik kita mengatakan, jika betul bahwa teman kita banyak, suruh mereka ke sini. Jawablah: Sori ya, teman saya bukan preman, juga bukan tukang pukul bayaran, jadi buat apa juga menyutuh teman saya jadi preman tukang pukul. Banyak orang bergaul di luar sana, tapi kerjanya menipu, korupsi, atau bahkan “makan gaji buta”, mending jualan online, bergaul online tapi sehat dan tak bikin hoax ataupun fitnah gini-gitu seperti yang bisa juga terjadi di dunia tatap muka, bukan cuma di internet. Ada email, udah ngak zaman itu kartu pos.
Untuk apa juga menunggu seharian berpanas-panas di pinggir jalan menunggu penumpang dengan menjadi ojek konvensional, jika bisa menjadi ojek online yang bisa langsung mengetahui calon penumpang yang membutuhkan dan langsung menjemputnya? Kini hanya lalat-lalat dan nyamuk saja yang menemani para driver ojek konvensional.
Akhir kata, hendaknya kita selalu bersemangat, karena saat kini, di era yang serba menawarkan kemungkinan ini, segala hal dapat saja terjadi. Tidak ada batasan kemungkinan apapun kecuali batasan yang kita buat sendiri.
Kini, kreativitas menjadi pintu gerbang paling awal merintis karir. Selebihnya, biarkan kemajuan teknologi yang bekerja, sentuhan integritas serta kejujuran usaha, dan sedikit ramuan karma baik yang berbuah tepat pada waktunya.


Namun mengapa juga sih, orang Indonesia begitu mementingkan jumlah (kuantitas) teman, ketimbang kualitas pertemanan? Banyaknya teman, selama ini hanya untuk menjadi ajang pamer "Gue punya banyak teman!" Seorang sahabat sejati, itu bagaikan hanya satu diantara setumpuk orang-orang di sekitar ktia yang mengaku sebagai teman.

Cobalah sesekali lakukan riset, tanya Mbah Google, ternyata orang dengan sedikit teman cenderung lebih bahagia dalam hidupnya--karena dirinya cenderung pemilih dalam pertemanan, hanya berteman dengan teman-teman yang berkualitas. Lingkungan pergaulan, jika tidak diwaspadai, dapat juga berpengaruh terhadap watak seseorang.

Lebih baik waktu yang ada, sumber daya yang terbatas ini, digunakan untuk berinteraksi secara mendalam dengan diri kita sendiri seperti bermeditasi, atau untuk hal-hal yang positif dan produktif seperti membangun karir dan belajar keterampilan baru, ketimbang membuang waktu dengan omongan "omong kosong" dalam suatu perkumpulan.

Kita harus bersikap memilih-milih dalam pergaulan, hanya bergaul dengan orang-orang bijak dan orang-orang sukses. Kualitas, bukan mengejar kuantitas. Lebih baik hanya memiliki 1 orang teman yang sepadan, daripada berteman dengan 1000 berandal yang justru akan menarik kita pada pusaran dunia gelap mereka. Buku-buku mengajarkan, seekor anak elang yang bergaul dengan anak ayam, akan tumbuh menjadi seekor ayam berbulu elang.

Seorang gembong mafia, bisa jadi memiliki jaringan anggota dan pertemanan yang luas dari berbagai kalangan serta latar-belakang. Namun, para mafia tersebut sangatlah miskin dalam hal pertemanan yang baik dan sehat, karena diri mereka selama ini dikelilingi hanya oleh teman-teman sesama berandal yang justru membuat dirinya semakin terbenam dalam dunia gelap dan kejahatan.

Pola pikir masyarakat penduduk Jakarta ternyata juga masih tergolong primitif. Betapa tidak, pekerja freelance yang bekerja di rumah, dikatakan oleh para tetangga sebagai "pengangguran". Seolah, yang namanya bekerja itu harus belepotan keringat berdesakan keluar rumah dengan kendaraan umum, atau harus bermacet-macetan dengan motor ataupun mobil. Padahal, laporan terbaru tahun 2019 menyebutkan bahwa Jakarta menjadi kota nomor 1 di dunia yang paling tinggi kadar polusi udaranya.

Bekerja di rumah, di zaman yang sudah ada instrumen internet seperti sekarang ini, mengapa masih bermental "primitif" seperti ketika zaman masih belum mengenal dunia digital dan online dimana komunikasi tidak harus saling bertatap-muka secara fisik? Bekerja di rumah justru bisa membantu program pengurangan "global warming".

Apakah tidak boleh, bila kita menjadi seorang penulis, seorang programmer, atau profesi lainnya yang bekerja di rumah? Bukankah yang terpenting tidak mencari nafkah dengan mencuri ataupun menipu, terlebih korupsi? Sebetulnya sama saja seperti omongan orang "kurang waras" (meski tinggal di kota besar seperti Jakarta, namun bermental "kampungan") yang mengatakan bahwa dirinya bisa tetap hidup sekalipun tidak ada pohon di dunia ini--dia pikir dirinya menghirup asap karbon CO2 untuk bisa hidup? Jangankah menghargai dan berterimakasih pada pohon atas oksigen yang dihirupnya setiap hari, dirinya justru akan mengutuk dedaunan pohon yang berguguran dan berserakan di jalan.

"There is no growth without pain and conflict. There is no loss which cannot lead to gain."
(Pincus)
Demikian sharing singkat ini KWANG bagikan bagi para Sobat. Semoga dapat menjadi inspirasi dan terus bersemangat, tanpa pernah putus asa untuk merintis bisnis pribadi. Yang terpenting, kita tidak mengemis, tidak menipu, dan juga tidak korupsi dalam mencari nafkah untuk keluarga kita. Karena KWANG EARRINGS adalah teman terbaik mu! 😊

  • Share:

You Might Also Like

0 comments

Untuk memesan Asesoris Perhiasan Imitasi Impor Berkualitas KWANG EARRINGS. baik eceran maupun dengan grosiran, silahkan kirimkan pemesanan Anda (Mohon cantumkan link url asesoris yang dipesan untuk kami pastikan ketersediaan stok produk). Tidak ada minimum pembelian jumlah item secara eceran, Bagi yang membeli secara grosir, mendapat diskon khusus. namun disertai ongkos kirim kurir JNE dari Jakarta, Indonesia:
- instagram dengan ID kwang_earrings
- email, telepon ataupun chatting online via Google Hangout : kwang.earrings@gmail.com
- LINE : RIANASHIETRA
- WhatsApp : (+62) 0817-4924-150.
- Juga Follow kami di Facebook: kwang_earrings

Syarat & Ketentuan:
- kerusakan dalam proses pengiriman, diluar tanggung jawab kami selaku penjual / supplier.
- tidak disertakan garansi, karena produk yang kami kirimkan dipastikan dalam kondisi baik dan utuh saat proses pengepakan dan pengiriman ke alamat pembeli.
- produk yang telah dipesan dan dikirimkan, tidak dapat dibatalkan ataupun ditukar.
- jika pelanggan puas atas layanan dan produk kami, mohon kesediaannya untuk dipromosikan ke rekan-rekan dan kerabat.

KWANG EARRINGS mengucapkan terimakasih atas kunjungan serta pembeliannya. Kami senang dapat membantu para wanita untuk tampil cantik dan manarik, dimana dan kapan pun berada, berapa pun usianya (tanpa batasan umur).
Berjiwa muda dan tampil belia, adalah keajaiban yang dapat dibantu oleh asesoris yang menawan sekaligus memikat. Kami senang dapat menyediakan pilihan perhiasan imitasi yang terjangkau namun tetap memperhatikan kualitas produk yang kami tawarkan secara eceran maupun grosiran.

Kami tunggu pesanan Anda, akan kami kirimkan pesanan Anda dengan hati yang penuh kehangatan untuk Anda atau untuk buah hati dan keluarga yang Anda kasihi.
Peluk dan Cium Erat!

Khusus untuk keperluan pemesanan dompet impor souvenir resepsi pertunangan / perkawinan, maupun untuk jasa PRIVATE TOUR GUIDE LEADER FREELANCE RIANA di Thailand, contact person:
- WhatsApp : (Thailand prefiks +66) 977-146-077;
- email, telepon, atau chatting online via Google Hangout : kwang.earrings@gmail.com
- LINE : RIANASHIETRA

TESTIMONI PEMBELI

TESTIMONI PEMBELI
Klik Gambar untuk Melihat TESTIMONI Pembeli Produk KWANG EARRINGS