Menjadi Pribadi yang Positif dan Ceria dalam Setiap Kondisi, untuk dapat Menikmati Hidup dan Bergembira Bersama

By SHIETRA - September 08, 2019


No matter what you’re going through, there is a light at the end of the tunnel and it may seem hard to get it. But, you can do it and just keep working towards it and you will find the positive side of things.” (Demi Lovato)
Dijual perhiasan emas imitasi impor cantik berkualitas KWANG EARRING, Toko Online JakartaSemua pohon besar, bermula dari sebutir biji benih yang kemudian bertumbuh menjadi pohon kecil sebelum kemudian bertumbuh menjadi pohon yang besar bahkan menjelma raksasa. Sama halnya dengan mereka yang mampu mencapai puncak kesuksesan dalam karirnya, mereka pun selalu memulai langkah pertamanya sebagai sekecil biji benih yang tampak ringkih, tidak berdaya, dan “tidak berarti”.
Bila mereka dapat menjadi besar dan sukses atau berhasil dalam usaha yang mereka bangun dan besarkan hingga menjelma usaha raksasa, maka kita pun bisa melakukan hal yang sama, yakni : TERUS BERTUMBUH dan “tidak berjalan di tempat”.
Yang KWANG sebut terakhir itulah yang menjadi kunci rahasianya, yakni terus bertumbuh (keep going). Sekalipun pada mulanya semua adalah benih yang kecil dan tanpa memiliki nama yang tenar, namun ketika seseorang memutuskan untuk berhenti bertumbuh, berhenti meraih impian dan cita-cita, maka artinya benih itu tidak akan tumbuh secara optimal, dihentikan dan terhenti oleh lemahnya daya juang dan semangat bertumbuh diri kita sendiri. Itulah derajat kualitas karakter yang membedakan antara satu orang dan orang-orang lainnya, yang pada gilirannya membedakan level keberhasilan mereka itu sendiri—sekalipun pada asal mulanya sama-sama hanya sekecil benih berupa “biji” yang tidak lebih besar dari sebuah biji mangga.
An entire sea of water can’t sink a ship, unless it gets inside the ship. Similarly, the negativity of the world can’t put you down unless you allow it to get inside you.” (Goi Nasu)
Kita sendiri yang paling berhak untuk memutuskan, akan menyerah atau terus melangkah maju dan bertumbuh, apapun suka dan duka yang akan harus kita hadapi dan tempuh sepanjang perjalanan “pertumbuhan” diri tersebut.
Kita pasti akan menemui alasan untuk berhenti dan berjumpa rintangan maupun tentangan hingga tantangan yang menggoda kita untuk menyerah. Namun, pada gilirannya pilihan ada di tangan kita sendiri.
Untuk itu, kita perlu belajar untuk mengambil tanggung jawab, hidup, serta nasib kita ke dalam genggaman tangan kita sendiri, dan kita sendiri pula yang memutuskan akan melangkah ataukah berhenti melangkah. Kita sendiri pula yang memutuskan, kita akan menjadi siapa dan sukses atau tidaknya. Karenanya, menjadi penting untuk mengambil tanggung jawab atas hidup kita sendiri, atas suka dan duka kita sendiri.
Kita pun akan menjumpai orang-orang atau hal-hal yang tidak akan berhenti mengecilkan hati kita, atau bahkan dengan senang hati menjatuhkan kita alias senang melihat kita jatuh dan menyerah.
Namun demikian, sekalipun tidak kurang-kurangnya berbagai hal yang mengecilkan hati tersebut, kita pun tetap memiliki “daya pilihan bebas” (kehendak bebas) untuk cukup berfokus pada apa yang dapat kita kerjakan—alih-alih berfokus dan menghabiskan perhatian untuk memikirkan apa yang tidak kita miliki atau apa yang tidak mampu kita lakukan.
Itulah kekuatan dibalik kemampuan untuk menetapkan fokus, yakni semudah membatasi pilihan objek fokus perhatian kita, dari hal-hal yang mengecilkan hati menjadi hal-hal yang membesarkan hati agar kita tidak patah semangat dan tetap merasa berdaya sekalipun menemui sejumlah kegagalan secara bertubi. Semangat adalah sumber energi yang dapat kita gali dari dalam diri kita sendiri. KWANG menyebutnya sebagai, “semangat berdaya”.
The way to get started is to quit talking and begin doing.” (Walt Disney)
Bermimpi adalah bebas, kita tidak harus membayar untuk memiliki impian dan bermimpi—tidak juga harus meminta izin dari orang lain untuk bermimpi. Karenanya, bermimpi untuk menjadi sukses adalah hak setiap orang dan personal sifatnya, meski tidak semua orang yang berani untuk bermimpi dan memimpikan kesuksesan. Benar sekali, bahkan ada tipe seseorang yang takut untuk sukses, sama seperti ketika mereka takut jika mengalami kegagalan dan kejatuhan.
Banyak hal, baik didalam maupun diluar diri kita yang terus saja membuat diri kita berkecil hati dan memupuskan cita-cita kita semasa kecil. Ketika beranjak dewasa, kita mulai berkompromi terhadap impian dan mimpi-mimpi kita, memilih untuk melupakannya dan menjalankan hidup bagai menunggu waktu berlalu, mengikuti arus dan membiarkan arus itu yang membawa kita kemana dan menuju ke suatu tempat tanpa daya. Perubahan menjadi demikian menakutkan dan seolah tidak mampu diprediksi arah tujuannya.
Ada saatnya, kita harus berhenti untuk menjadi pemimpi, dan mulai bangun / bangkit dari kursi empuk kita, dan mulai menyingsingkan lengan baju untuk mulai mengeksekusi segala rencana, project, goals, dan berbagai impian kita, sekalipun harus kita bayar lewat cucuran keringat dan air mata kita.
Terlampau banyak berbicara, akan membuat kita menjadi seorang pengeluh, pencari banyak pembenaran diri dan justifikasi, dan berhenti sampai disitu, untuk kemudian menyerah pasrah pada hidupnya sendiri, dan mulai menarik diri dari impiannya yang kian merasa menjauh darinya—meski senyatanya ia sendiri yang menjauh dari segala impiannya dengan bersikap pasif.
A goal is dream with deadline.” (Napoleon Hill)
Menjadi seorang pecundang, kalah, dan jatuh, bukanlah sebuah aib. Semua maestro, pada mulanya juga mengalami berbagai kegagalan, rintangan, kerugian, kekalahan, hinaan, pelecehan, caci maki, diremehkan, bahkan usaha bisnisnya mengalami kejatuhan yang telak penuh linangan air mata.
Namun, kegagalan janganlah dibiarkan berakhir sebagai kegagalan. Kita harus terus mencoba dan berupaya sampai kita menemukan ramuan khas pribadi kita sendiri untuk menuju suatu tujuan, untuk mencapai keberhasilan. Apa jadinya bila Thomas Alfa Edison setelah mengalami kegagalan sebanyak seribu kali eksperimen, lalu menyerah?
Menetapkan sebuah “deadline”, dapat menjadi sebuah pelecut bagi diri kita sendiri oleh diri kita sendiri, yang mendorong kita untuk segera bekerja secara serius dan tekun, tanpa banyak membuat alasan untuk menunda-nunda. Kegagalan pun pada gilirannya bukan menjadi alasan untuk terus berupaya sampai mencapai keberhasilan—alih-alih demikian, kegagalan justru menjadi proses pembelajaran dan pendewasaan.
Deadline” yang telah kita tetapkan, membuat kita mampu membuat komitmen pada diri kita sendiri, tanpa lagi selalu mengandalkan kompromi yang sering menjadi kebiasaan kita untuk ber-nego dengan diri kita sendiri : kapan kita harus mulai bergerak dan beranjak menuju tujuan kita.
Dengan kata lain, disiplin diri menjadi faktor penting yang perlu kita biasakan dan tetapkan oleh dan untuk diri kita sendiri. Bila sukar membuat kebiasaan disiplin diri yang baru, maka menetapkan “deadline” dapat menjadi solusi cerdas.
Kegagalan bukanlah akhir dari segalanya, mungkin itulah ispirasi yang paling akurat dari sebuah kisah berikut, sebagaimana ditulis oleh Tom Kaden dalam artikel singkatnya pada buku “Chicken Soup for the Soul : Kekuatan Berpikir Positif—101 Kisah Inspiratif tentang Mengubah Hidup dengan Berpikir Positif”, Editor Jack Canfield dkk., versi terjemahan Indonesia oleh Penerbit Gramedia Pustaka Utama, Jakarta, Cetakan ke-14 November 2018, sebagai berikut:
TERSINGKAP
 “Sementara kita mengajari anak-anak kita semua hal tentang hidup, mereka pun mengajari kita tentang apa hidup itu.”  (Angela Schwindt)
Kini rasanya aku sudah bersikap positif. Semula aku tidak selalu begitu. Tinggal di sebuah loteng di rumah saudara ipar di bulan Juli tanpa AC dan hanya punya satu kamar ukuran dobel untuk keluarga yang terdiri atas empat orang bisa membuatmu menampilkan dirimu yang terburuk.
Aku ingat satu malam secara khusus, pada tanggal 12 Juli. Waktu menunjukkan pukul 02.00 dan suhu mencapai 40 derajat lebih. Keringat mengucur ke dahiku—dan bukan hanya karena suhu itu lebih panas daripada sauna di loteng—tetapi karena aku sedang merasa kesal.
Sebelumnya di hari itu aku mendapat kabar bahwa aku tidak mendapatkan pekerjaan yang kulamar. Itu artinya sudah dalam tiga pekerjaan berturut-turut aku tersisihkan sebagai salah satu dari dua kandidat terakhir—kalah di tahap akhir.
Teman-teman dan keluarga terus saja mengatakan bahwa mereka “memahami” karena mereka pun pernah mengalami yang serupa. Apakah mereka benar-benar paham dan benarkah mereka pernah mengalami yang sama? Pernahkah mereka merasakan karpet yang sedang kita pijak tiba-tiba ditarik? Segala sesuatu yang membuat nyaman: pekerjaan, kesehatan, rumah, mobil, jaminan masa depan—LENYAP!
Kendati begitu gerah, aku menarik selimut untuk menutupi kepalaku dan meringkuk tubuhku membentuk bola. Air mata mulai mengalir di wajahku, membasahi bantalku yang sudah basah.
Aku merasa begitu terkucilkan, kendati aku tidur bersama di kasur bersama istriku, putriku yang berusia tiga tahun, dan putraku yang berusia setahun. Aku mulai meninju bantalku dan tiada henti memikirkan apa yang akan kulakukan selanjutnya.
Aku tak ingat berapa lama aku berbaring dalam posisi itu sambil menyembunyikan air mataku dari keluargaku, tetapi aku ingat saat itu serasa akan selama-lamanya. Aku terus saja dalam posisi itu selama mungkin karena posisi itu membuatku merasa aman dan terjamin dari dunia di sekelilingku.
Itulah momen-momen paling gelap dalam hidupku. Sebagai seorang laki-laki, aku tidak bisa membayangkan keadaan yang lebih buruk ketimbang perasaan tidak bisa memenuhi kewajiban, perasaan bahwa bahkan diri sendiri pun tidak bisa kau tanggung, apalagi keluargamu!
Aku meraih bantal lain yang menutupi kepalaku dan bersembunyi lebih dalam lagi dari ‘dunia nyata’ di luar sana. Pastilah aku sudah jatuh tertidur karena aku terbangun oleh cahaya di celah dua bantal. Aku mendengar burung berceloteh di luar di jendela loteng. Aku lalu berbalik karena masih belum punya tenaga atau stamina emosi untuk menyisihkan selimut.
Lalu kudengar suara tertawa. Kedua anakku sedang bermain saling menggelitik di kasur kecil di sebelahku. Mereka berdiri dan mulai melompat-lompat sambil tersenyum dan tertawa-tawa dan tak peduli sebagaimana biasa anak-anak.
Atau, bisakah orang dewasa seperti itu? Kedua anak itu meraih dua bantal dan mulai memukuliku dengan bantal dan tidak berhenti sampai aku mengambil bantal juga dan membalasnya.
Aku tidak bisa! Aku tidak bisa menghadapi satu hari lagi ‘di luar sana’ sehingga aku berpura-pura masih tidur. Satu pukulan lagi mengenai pinggangku.
“Daddy!”
“Daddy!”
“Bangunlah!”
Setelah beberapa menit mencoba menyembunyikan perasaan malu, kecewa, dan patah semangatku, anak-anakku mulai melarik selimutku dan tidak mau berhenti sampai melihat wajahku. Mereka menarik semakin keras dan semakin keras. Aku menarik semakin keras lagi supaya tetap berada dalam perlindungan kepompong kecilku.
Aku mendengar lebih banyak lagi suara tawa. Anak-anakku mengira mereka sedang bermain adu tarik selimut yang seru. Tidakkah mereka tahu bahwa Daddy ini seorang pecundang?
Mereka menarik selimutku semakin keras sampai akhirnya aku melhat cahaya makin terang. Mereka semakin seru terkekeh-kekeh. Akhirnya aku menyerah. Anak-anakku menang, tetapi mereka tidak saja memenangkan permainan adu tarik selimut itu.
Mereka menang, karena berhasil mengingatkan aku bahwa mereka tak peduli apakah aku punya pekerjaan atau tidak, mereka tak peduli seberapa banyak uang yang kumiliki, dan mereka tak peduli di mana kami tidur. Mereka hanya tahu ada kegembiraan yang dapat mereka nikmati.
Jika orang ingin belajar bersikap positif, cobalah habiskan waktu bersama anak-anak atau cucu kita. perhatikanlah bahwa kegembiraan mereka tidak bergantung pada suasana di luar.
Perhatikan bagaimana mereka mencintai tanpa keterikatan. Perhatikan betapa lepasnya mereka dan bahkan pengalaman paling remah dan tak penting pun dapat membuat mereka begitu gembira.
Berkat anak-anakku ini, aku kini dapat belajar untuk terus bersikap positif bahkan ketika kehidupan sedang membebani.
Ketika kita mampu menikmati proses yang sedang kita jalani, baik itu momen-momen kejatuhan kita, momen-momen ketika kita merasa letih dan berkecil hati, namun terus melanjutkan langkah, itulah definisi dari sebuah KESUKSESAN dalam menjalani hidup kita sendiri, bukan definisi kesuksesan hidup milik orang lain.
Karena KWANG EARRINGS adalah teman terbaik mu! 😊

  • Share:

You Might Also Like

0 comments

Untuk memesan Asesoris Perhiasan Imitasi Impor Berkualitas KWANG EARRINGS. baik eceran maupun dengan grosiran, silahkan kirimkan pemesanan Anda (Mohon cantumkan link url asesoris yang dipesan untuk kami pastikan ketersediaan stok produk). Tidak ada minimum pembelian jumlah item secara eceran, Bagi yang membeli secara grosir, mendapat diskon khusus. namun disertai ongkos kirim kurir JNE dari Jakarta, Indonesia:
- instagram dengan ID kwang_earrings
- email, telepon ataupun chatting online via Google Hangout : kwang.earrings@gmail.com
- LINE : RIANASHIETRA
- WhatsApp : (+62) 0817-4924-150.
- Juga Follow kami di Facebook: kwang_earrings

Syarat & Ketentuan:
- kerusakan dalam proses pengiriman, diluar tanggung jawab kami selaku penjual / supplier.
- tidak disertakan garansi, karena produk yang kami kirimkan dipastikan dalam kondisi baik dan utuh saat proses pengepakan dan pengiriman ke alamat pembeli.
- produk yang telah dipesan dan dikirimkan, tidak dapat dibatalkan ataupun ditukar.
- jika pelanggan puas atas layanan dan produk kami, mohon kesediaannya untuk dipromosikan ke rekan-rekan dan kerabat.

KWANG EARRINGS mengucapkan terimakasih atas kunjungan serta pembeliannya. Kami senang dapat membantu para wanita untuk tampil cantik dan manarik, dimana dan kapan pun berada, berapa pun usianya (tanpa batasan umur).
Berjiwa muda dan tampil belia, adalah keajaiban yang dapat dibantu oleh asesoris yang menawan sekaligus memikat. Kami senang dapat menyediakan pilihan perhiasan imitasi yang terjangkau namun tetap memperhatikan kualitas produk yang kami tawarkan secara eceran maupun grosiran.

Kami tunggu pesanan Anda, akan kami kirimkan pesanan Anda dengan hati yang penuh kehangatan untuk Anda atau untuk buah hati dan keluarga yang Anda kasihi.
Peluk dan Cium Erat!

Khusus untuk keperluan pemesanan barang dari Thailand, pemesanan dompet impor souvenir resepsi pertunangan / perkawinan, maupun untuk jasa PRIVATE TOUR GUIDE LEADER FREELANCE RIANA di Thailand, contact person:
- WhatsApp : (Thailand prefiks +66) 977-146-077;
- email, telepon, atau chatting online via Google Hangout : kwang.earrings@gmail.com
- LINE : RIANASHIETRA

TESTIMONI PEMBELI

TESTIMONI PEMBELI
Klik Gambar untuk Melihat TESTIMONI Pembeli Produk KWANG EARRINGS