Obat Pereda Nyeri dapat Merusak Ginjal, Gagal Ginjal Mengancam Usia Produktif Mereka yang Gemar Mengkonsumsi Obat Pereda Nyeri

By SHIETRA - September 23, 2019

Obat Pereda Nyeri dapat Merusak Ginjal, Gagal Ginjal Mengancam Usia Produktif Mereka yang Gemar Mengkonsumsi Obat Pereda Nyeri

Merasakan sakit otot dan sendi, dapat diatasi banyak cara selain menggunakan obat kimia yang “instan”. Tidak ada obat ajaib, segala sesuatunya harus dibayar dengan konsekuensi sampingannya. Semakin instan meredakan nyeri, sudah sepatutnya kita bertanya sebagai bagian dari langkah antisipasi konsumen cerdas, apakah efek sampingnya bila dikonsumsi, terutama dalam jangka panjang?
Baru-baru ini diberitakan banyaknya dijumpai pasien gagal ginjal berusia masih muda belia, alias usia produktif menjadi tidak lagi produktif akibat bermasalah dengan ginjalnya sebagai “harga” yang harus dibayarkan karena kerap mengkonsumsi obat pereda nyeri yang dianggap sebagai “obat ajaib”. Menyesal sudah terlambat, lebih baik mengantisipasi sebelum segala sesuatunya tak bisa dipulihkan kembali.
Pada mulanya orangtua KWANG pernah diberi resep obat nyeri otot oleh dokter di sebuah Puskesmas, berupa obat bernama Ibuprofen. Terasa manjur saat dikonsumsi di rumah. Menjadi pertanyaan, jika obat bernama Ibuprofen ini kami beli lagi di apotek secara bebas tanpa resep dokter, apakah berbahaya? Apakah dan adakah efek samping obat “ajaib” satu ini?
Karena itulah, KWANG merasa penting untuk menyusun bahasan ini agar dapat kita waspadai bersama, dan mulai mengkonsumsi obat-obatan secara rasional.
Obat penurun panas adalah hal lumrah bagi orangtua yang memiliki balita, seringkali untuk kepentingan sang orangtua sendiri agar anaknya tidak rewel akibat demam. Namun orangtua mana yang akan perduli, bahwa ada dua ada dua jenis obat penurun panas untuk anak-anak yang beredar di pasaran, yakni paracetamol dan ibuprofen (dengan berbagai merek, dan berbagai harga).
Kedua obat tersebut termasuk dalam jenis analgesik dan antipiretik yang fungsinya melegakan sakit kepala dan demam. Perbedaannya adalah, paracetamol tidak termasuk dalam kategori obat NSAD (nosteroidal anti-inflammatory drugs), artinya tidak memiliki sifat antiradang, obat ini cukup ramah digunakan, resikonya tidak terlalu besar.
Berbeda dengan ibuprofen yang termasuk dalam NSAD, punya resiko yang lebih tinggi, terutama jika digunakan berlebih atau terlampau sering. Untuk efek samping, paracetamol bisa menyebabkan mual dan diare, sedangkan Ibuprofen memiliki efek samping sesak nafas kemudian lebih jauh lagi, bisa merusak ginjal.
Kelima, yang patut diingat adalah obat ini membantu meredakan nyeri atau membuat rileks anak, tetapi tidak menghilangkan sumber penyakit. Untuk menghilangkan sumber penyakit, konsultasikanlah ke dokter.
Pertanyaannya kemudian adalah bagaimana penggunaannya dan sebaiknya anak kita minum yang mana?
Pertama, kita harus pastikan bahwa anak kita tubuhnya panas bukan karena kurangnya cairan tubuh. Oleh karena itu kita coba dengan minum air putih terlebih dahulu. Jika panasnya tidak turun, kita cek dengan termometer. Jika panasnya tinggi, (biasanya di atas 38 derajat celcius) barulah boleh diberi obat penurun panas, sesuai petunjuk penggunaan obat.
Kedua, yang tak kalah penting, sebaiknya obat penurun panas diminum setelah setelah makan. Asupan ini penting untuk proses bekerjanya obat dalam tubuh.
Selanjutnya, jika panas tidak turun dalam dua hari, konsultasikan ke dokter. Ceritakan dengan sebenar-benarnya apa yang terjadi. Informasi kita berguna bagi dokter dalam melakukan analisa. Setelah itu ikuti sarannya.
Pertanyaan yang tersisa, adalah jika anak kita sakit dan suhu badannya panas, apakah boleh diberi ibuprofen? Bukankah ibuprofen gunanya juga merupakan obat menurunkan panas? Kalau saya pribadi tidak akan memberikan itu karena selama ini, dokter tidak pernah memberikan obat turun panas selain paracetamol untuk anak saya yang masih balita.
Obat analgesik biasa digunakan untuk meredakan atau bahkan menghilangkan rasa sakit. Beberapa obat bisa dibeli secara bebas tanpa membutuhkan resep, seperti aspirin, acetaminophen, ibuprofen, maupun naproxen sodium. Meski obat analgesik tak menimbulkan efek samping yang berbahaya saat digunakan dalam dosis yang tepat, beberapa kondisi bisa berefek sebaliknya pada kesehatan ginjal.
Misalnya saja, mengambil satu dosis atau kombinasi dari obat ini secara teratur dalam jangka panjang dapat meningkatkan risiko terjadinya masalah ginjal. Dan kebanyakan obat yang dapat menyebabkan kerusakan ginjal adalah obat yang hanya bisa dibuang melalui ginjal, itulah sebabnya ginjal bekerja melampaui kapasitasnya dan digempur setiap kali konsumsi mengkonsumsi obat-obatan tersebut.
Beberapa insiden terkait penggunaan obat penghilang rasa sakit, seperti aspirin, ibuprofen, dan naproxen dengan gagal ginjal akut pernah dilaporkan. Para pasien dalam kasus ini dilaporkan mengonsumsi obat penghilang rasa sakit dalam dosis tunggal atau kombinasi dalam jangka waktu paling lama 10 hari, tetapi memiliki faktor risiko seperti eritematosus sistemik lupus, usia lanjut, kondisi ginjal kronis, atau konsumsi alkohol.
Pasien membutuhkan tindakan darurat untuk membersihkan darah, namun umumnya fungsi ginjal akan kembali normal saat kondisi darurat berakhir. Lain cerita dengan masalah ginjal yang didapat karena mengonsumsi obat penghilang rasa sakit berkepanjangan, setiap hari selama beberapa tahun. Kondisi tersebut bisa membuat seseorang terkena nefropati analgesik, yaitu penyakit ginjal kronis yang disebabkan oleh obat, yang secara bertahap mengarah ke stadium akhir penyakit ginjal dan membutuhkan perawatan permanen.
Bahkan dibutuhkan transplantasi ginjal untuk mengembalikan fungsi ginjal. Obat penghilang rasa sakit yang menggabungkan dua atau lebih analgesik, misalnya aspirin dan acetaminophen yang digunakan bersama-sama dengan kafein atau kodein, adalah yang paling mungkin untuk merusak ginjal.
Campuran tersebut sering dijual sebagai bubuk atau puyer. Sedangkan penggunaan analgesik tunggal seperti aspirin saja, belum ditemukan kasus yang menyebabkan kerusakan ginjal [Catatan KWANG : penelitian tersebut masih harus dibuktikan kebenaran keamanan konsumsi analgesik tunggal].
Sehingga, pasien dengan kondisi yang berisiko meningkatkan gagal ginjal akut harus berkonsultasi terlebih dahulu dengan dokter sebelum mengambil obat apapun. Orang-orang yang mengambil obat penghilang rasa sakit secara teratur juga harus segera memeriksakan kondisi kesehatan ke dokter untuk memastikan tak ada masalah dengan ginjal. Dokter mungkin dapat merekomendasikan obat alternatif yang lebih aman bagi ginjal.
Fungsi obat memang untuk mengobati penyakit tertentu, namun banyak obat-obatan yang nyatanya dapat menyebabkan kerusakan ginjal atau bahkan gagal ginjal akut. Terlebih jika obat tersebut dikonsumsi dalam dosis tinggi atau secara terus menerus. 
Selain berfungsi sebagai penyaring darah dan menyingkirkan limbah tubuh, ginjal juga berperan dalam mengontrol tekanan darah, menstimulasi produksi sel darah merah, dan mengatur kadar elektrolit tubuh.
Gagal ginjal akut atau cedera ginjal akut sendiri adalah suatu kondisi di mana fungsi filtrasi ginjal menurun secara tiba-tiba atau cepat. Karena fungsi ginjal menyaring produk limbah dari darah, maka ginjal memainkan peran penting dalam menghilangkan banyak efek residu obat dari tubuh. Hal ini yang membuat ginjal rentan terhadap melemahnya fungsi kerja atau bahkan kerusakan akibat konsumsi obat.
Berikut ini beberapa obat yang bisa menyebabkan kerusakan ginjal jika tak digunakan dengan hati-hati:
1. Obat anti-inflamasi.
Obat NSAID (Non steroidal Anti Inflammatory Drugs) biasanya digunakan untuk mengobati demam, pembengkakan dan nyeri sendi. Salah satu cara kerja obat ini adalah dengan melebarkan pembuluh darah. Namun efeknya akan mengurangi aliran darah ke ginjal dan berpotensi menimbulkan kerusakan. NSAID juga bisa langsung melukai jaringan ginjal. Obat NSAID menjadi penyebab kerusakan ginjal adalah ibuprofen, celecoxib, naproxen dan indometasin.
Sebagian orang yang mengalami kerusakan ginjal akibat mengonsumsi obat NSAID tidak memiliki gejala, tapi saat dilakukan tes darah diketahui jika mereka memiliki kelainan pada fungsi ginjalnya. Sedangkan beberapa orang lainnya mengalami gejala dalam waktu 3 sampai 7 hari setelah mengonsumsi NSAID seperti jarang buang air kecil, demam, mual, muntah, kehilangan nafsu makan, adanya darah dalam urin, ruam, pembengkakan, rasa kantuk yang berlebihan dan kebingungan.
2. Obat tekanan darah
Obat tekanan darah dapat menyebabkan kerusakan ginjal dengan memperlambat fungsi ginjal dalam menyaring darah dengan menurunkan aliran darah ke ginjal.
Obat-obatan yang berkontribusi menyebabkan kerusakan ginjal termasuk enzim pengubah angiotensin – ACE inhibitor (seperti lisinopril, ramipril, captopril, enalapril) dan penghambat reseptor angiotensin – ARB (seperti candesartan, losartan dan olmesartan). Meski begitu, penggunaan obat ACE-inhibitor dan ARBs sebenarnya digunakan untuk melindungi ginjal dari efek diabetes yang merusak.
3. Antibiotik.
Antibiotik memang obat untuk melawan bakteri penyebab penyakit di dalam tubuh. Namun, ada antibiotik tertentu yang akan menyebabkan kerusakan ginjal. Beberapa obat ini akan memberikan efek samping ke ginjal lebih banyak dibanding yang lainnya seperti aminoglikosida, sefalosporin, amfoterisin B, bacitracin, dan vankomisin. Obat ini bisa merusak sel ginjal dengan cara memecah selaput yang mengelilinginya.
Gejala dari gagal ginjal akibat mengonsumsi antibiotik terlalu lama dalam dosis yang tinggi antara lain jarang buang air kecil, urine berwarna gelap, mudah memar dan nyeri otot. Karena beberapa antibiotik yang sudah disebutkan tadi berpotensi menyebabkan kerusakan ginjal, itu sebabnya dokter sering merekomendasikan pasiennya untuk menjalankan tes darah untuk mengetahui fungsi ginjal dan kadar obat dalam darah secara teratur.
Jadi, jika Anda memang sedang rutin mengonsumsi beberapa jenis obat yang sudah dijelaskan di atas, sebaiknya Anda rutin berkonsultasi ke dokter untuk meminimalisasi efek samping dari obat tersebut. Pasalnya dalam beberapa kasus, kerusakan pada ginjal memang masih bisa diperbaiki. Namun pada sebagian kasus lainnya terjadi kerusakan permanen dan pengobatannya hanya dengan melakukan transplantasi ginjal (cangkok ginjal).
Apakah Anda pernah menggunakan ibuprofen untuk mengatasi rasa nyeri Anda? Ibuprofen dikenal sebagai obat analgesik atau penghilang rasa sakit. Obat ini berfungsi untuk menghilangkan rasa sakit yang ringan hingga sedang, seperti sakit gigi atau nyeri saat haid.
Ketika Anda meminum ibuprofen, mungkin akan ada gejala atau tanda yang muncul akibat efek samping ibuprofen. Hal ini memang tidak selalu terjadi dan masing-masing individu mungkin akan mengalami gejala yang berbeda. Efek samping ibuprofen terbagi menjadi 3 kelompok yaitu efek samping yang sering terjadi, kurang umum terjadi, dan jarang terjadi.
Efek samping ibuprofen yang sering terjadi:
- Sakit dan nyeri pada perut,
- Heartburn atau sensasi panas di bagian dada akibat ada gangguan pada bagian pencernaan;
- Pusing;
- Mual;
- Muntah;
- Urin menjadi keruh;
- Kembung;
- Jarang kencing;
- Diare;
- Perut terasa sesak;
- Kulit gatal;
- Napas susah;
- Asam lambung naik;
- Kulit pucat;
- Ruam-ruam ada kulit;
- Bengkak pada bagian wajah, jari, kaki, dan tangan;
- Pernapasan saat istirahat terganggu;
- Berat badan meningkat;
- Kelelahan.
Adapun efek samping ibuprofen yang kurang umum,  yang masih mungkin Anda alami walaupun jarang, yaitu:
- Kram perut;
- Perut menjadi sangat sakit;
Efek samping ibuprofen yang jarang terjadi:
- Agitasi, yaitu perasaan gelisah yang berlebihan;
- Gusi berdarah;
- Kulit mengelupas;
- Tinja berdarah atau berwarna hitam;
- Nyeri dada;
- Timbul rasa panas dingin;
- Koma;
- Mulut kering;
- Urat pada leher melebar;
- Kelelahan yang ekstrim;
- Detak jantung tidak teratur;
- Demam menggigil;
- Sering BAK;
- Mengalami penipisan rambut;
- Kejang;
- Sakit tenggorokan;
- Pingsan;
- Nyeri dada kanan atas;
Pemakaian ibuprofen dalam jangka panjang akan menyebabkan beberapa kondisi serius, seperti anemia, stroke, serangan jantung, tekanan darah tinggi, gagal ginjal, bahkan tubuh tidak memiliki kemampuan lagi untuk menghasilkan sel darah.
Ibuprofen juga memiliki resiko jika overdosis dalam pemakaiannya. Dosis ibuprofen yang dianjurkan dalam satu hari untuk orang dewasa adalah 800 mg per hari. Ibuprofen yang dikonsumsi lebih dari ketentuan tersebut maka dapat mengakibatkan gejala berikut:
- Hilang kemampuan pendengaran;
- Detak jantung menjadi tidak teratur;
- Timbul rasa cemas;
- Telinga berdenging.
    Beberapa gejala lain juga dapat muncul apabila seseorang mengalami overdosis ibuprofen, yaitu
- Mata kering;
- Merasa sangat sedih dan putus asa;
- Nafsu makan berkurang;
- Tidak bersemangat;
- Mengalami depresi;
- Paranoid;
- Hidung tersumbat;
- Menjadi sangat sensitif;
- Susah tidur atau bahkan merasa mengantuk sepanjang hari.
Jika dirangkum, sering mengonsumsi obat-obatan, waspadalah karena dapat berisiko merusak ginjal, salah satunya antibiotik dan analgesik. Berikut 10 obat yang berisiko menyebabkan kerusakan ginjal, seperti dilansir Empowher.
1. Antibiotik, termasuk untuk jenis siprofloksasin, methicillin, vankomisin, dan sulfonamid.
2. Analgesik, termasuk acetominophen dan non-steroid anti-inflammatory (NSAID), seperti aspirin, ibuprofen, naproxen, dan lain-lain hanya tersedia dengan resep dokter.
3. COX-2 inhibitor, termasuk celecoxib (dengan merek Celebrex). Dua obat dalam kelas ini telah ditarik dari pasar karena toksisitas kardiovaskuler. Kemudian rofecoxib (dengan merek Vioxx), dan valdecoxib (dengan merek Bextra). Obat ini adalah kelas khusus dari NSAID yang dikembangkan untuk lebih aman bagi lambung, tetapi sayangnya memiliki risiko merusak ginjal.
4. Obat Nyeri ulu hati dan kembung, termasuk omeprazole (dengan merek Prilosec), lansoprazole (dengan merek Prevacid), pantoprazole (dengan merek Protonix), rabeprazole (dengan merek Rabecid, Aciphex), esomeprazole (dengan merek Nexium, Esotrex).
5. Obat antivirus, termasuk asiklovir (dengan merek Zovirax) digunakan untuk mengobati infeksi herpes, dan indinavir dan tenofovir, baik digunakan untuk mengobati HIV.
6. Obat tekanan darah tinggi, termasuk captopril (dengan merek Capoten).
7. Obat radang rematik, termasuk infliximab (dengan merek Remicade); klorokuin dan hydroxychloroquine, yang digunakan untuk mengobati malaria dan lupus, serta radang sendi. Jangan sampai, dengan maksud mengobati suatu penyakit tertentu, justru berujung dengan sakitnya organ tubuh yang lain.
8. Lithium, obat yang digunakan untuk mengobati gangguan bipolar.
9. Antikonvulsan, termasuk fenitoin (dengan merek Dilantin) dan trimethadione (dengan merek Tridione), digunakan untuk mengobati kejang dan kondisi lainnya.
10. Obat kemoterapi, termasuk interferon, pamidronat, cisplatin, carboplatin, cyclosporine, tacrolimus, kina, mitomycin C, bevacizumab; dan obat anti-tiroid, termasuk propylthiouracil.
Bagi sebagian pasien, obat pereda nyeri merupakan teman akrab kala mengalami sakit kepala, nyeri otot, hingga luka ringan. Tetapi pernahkah Anda diinformasikan secara cukup oleh pihak dokter, bahwa jika menggunakan obat pereda nyeri dalam jangka panjang dapat merusak ginjal? Itulah sebabnya, interaksi antara dokter dan pasien kita kurang cukup memadai.
Obat pereda nyeri termasuk ke dalam golongan obal analgetik. Contoh obat analgetik yang dijual secara bebas adalah paracetamol, ibuprofen dan aspirin. Karena dijual secara bebas tanpa dipersyaratkan resep dokter, karena itu kita sebagai bagian dari langkah konsumen cerdas, perlu untuk “melek” informasi.
Ketua Perhimpunan Nefrologi Indonesia, Dr. Dharmeizar, Sp.PD – KGH mengatakan bahwa sebaiknya hindari penggunaan obat-obatan analgetik dan obat rematik dalam jangka waktu lama, karena dapat menyebabkan kerusakan pada ginjal.
"Penggunaan obat-obatan (analgetik atau rematik) yang dijual bebas dan bukan atas anjuran dokter selama 1-2 tahun berturut-turut akan menyebabkan kerusakan pada ginjal," papar Dr. Dharmeizar.
"Jika seseorang hanya mengalami sakit kepala biasa maka sebaiknya beristirahat yang cukup. Istirahat merupakan cara awal untuk menghilangkan sakit kepala yang biasanya disebabkan oleh stres. Namun, jika ternyata sakit kepala terjadi secara terus-menerus maka periksalah ke dokter agar dapat ditangani dengan benar dan dosis yang sesuai" tutup  Dr. Dharmeizar.
Obat pereda nyeri seperti paracetamol ataupun ibuprofen yang begitu populer di tengah masyarakat kita, bisa kita temukan dengan mudah di warung atau apotik. Namun, ada beberapa obat pereda nyeri yang memang diatur dengan dosis yang ketat dan butuh resep dokter seperti obat anytinyeri golongan opiat. Penggunaan obat pereda nyeri dari berbagai jenis diatas tentunya memiliki efek samping jangka panjang jika terlalu sering dikonsumsi terlalu sering.
Pada skala ringan, efek samping yang mungkin bisa terjadi dari mengkonsumsi obat pereda nyeri adalah sakit perut, mual, muntah, disorientasi (linglung, bingung), sakit kepala, sampai penyakit sembelit atau diare.
Obat jenis NSAID bahkan memilki resiko efek samping yang mampu menyebabkan kaki dan lengan membengkak. Jika hal tersebut dibiarkan dan terus mengkonsumsi obat pereda nyeri, tentu tubuh akan merasakan efek kebal obat yang membuat Anda untuk menambahkan dosis minum obat lebih banyak dari biasanya. Sehingga Anda menjadi ketergantungan dengan obat. Pengobatan yang rasional, ialah selalu berupa kebijakan pengurangan dosis, bukan sebaliknya.
Tidak hanya itu, mengkonsumsi obat pereda nyeri dengan kurun waktu yang lama mampu meningkatkan resiko terlukanya lambung maupun usus halus hingga terjadi pendarahan dan infeksi di area rongga perut. Mengkonsumsi obat antinyeri secara jangka panjang terus-menerus pun mampu merusak hati serta gagal ginjal. Pada saat itulah, obat pereda nyeri sejatinya hanya memindahkan penyakit, bukan sebagai solusi.
Obat nyeri jenis ibuprofen, NSAID dan aspirin juga mampu meningkatkan tekanan darah Anda. Efek dari obat tersebut mampu merusak kinerja otot polis dinding pembuluh yang berakibat menghambatnya kemampuan pembuluh darah untuk melonggar dan mengerut.
Bukan tidak mungkin resiko tersumbatnya pembuluh darah bisa terjadi. Dalam kondisi yang lebih parah, ketergantungan obat pereda nyeri mampu menyebabkan Anda jatuh ke fase overdosis. Sebuah “lingkaran setan” selalu dimulai dari satu fase awal, yakni penggunaan obat-obatan secara tidak rasional.
Lantas, bagaimana cara mencegah ketergantungan obat?
Sejatinya, obat pereda nyeri hanya boleh digunakan ketika dibutuhkan saja, bukan untuk dikonsumsi dalam jangka waktu yang lama, terlebih dianggap seperti meminum suplemen makanan. Agar bisa terhindar dari bahaya efek sampingnya, maka penting untuk dperhatikan bahwa kita mengkonsumsi obat sesuai dengan dosis atau instruksi yang tertera pada kemasan produk. Antara obat dan suplemen, harus mampu kita bedakan. Obat dan suplemen, memiliki fungsi dan karakter yang saling berlainan.
Apabila dosis yang lebih tinggi sudah terasa sangat Anda perlukan, maka artinya obat tersebut sudah tidak efektif lagi untuk dikonsumsi dan Anda dilarang keras untuk meningkatkan dosisnya secara sembarangan. Ada baiknya Anda pergi ke dokter guna mendapatkan saran dan konsultasi tentang masalah nyeri Anda.
Wahyu Widyaningsih, M.Si., Apoteker dan Staf Pengajar Farmakologi dan Farmakoterapi di Fakultas Farmasi UAD, menyebutkan, “Nyeri” didefinisikan sebagai perasaan dan pengalaman emosional yang tidak menyenangkan yang terkait kerusakan jaringan. Penderita biasanya merasakan nyeri dalam bentuk sakit kepala, sakit gigi, sakit akibat terjatuh, sakit persendian, dll.
Untuk mengobati nyeri, golongan obat yang digunakan adalah obat analgetika. Analgetika adalah obat yang dipergunakan untuk menghilangkan rasa sakit, demam dan nyeri ringan. Obat analgetika banyak dijual sebagai obat bebas dan bebas terbatas yang mudah diperoleh di warung, toko obat ataupun apotik.
Obat analgetika mudah diperoleh tanpa resep. Obat analgetika tanpa resep biasanya digunakan untuk nyeri akut (pusing, sakit gigi) dan sering juga digunakan untuk terapi tambahan pada penyakit-penyakit kronik (rematik) yang diikuti rasa nyeri.
Ada beberapa kelas analgetik tanpa resep yang saat ini tersedia di pasaran, yaitu: golongan parasetamol, golongan salisilat contohnya aspirin/ asetilsalisilat, golongan fenamat contohnya asam mefenamat, antalgin dan golongan turunan asam propionat contohnya ibuprofen.
Jika digunakan dalam waktu singkat, obat-obat ini umumnya aman dan efektif. Tapi dengan banyaknya macam obat analgetik yang tersedia di pasaran, harus dipilih obat yang optimal untuk pasien dalam keadaan tertentu. Pemilihan tersebut harus mempertimbangkan keadaan pasien, penyakit dan obat lain yang diminum dalam waktu bersamaan, keamanan, efisiensi, harga, dan tak ketinggalan respons tubuh pasien terhadap terapi.
Obat analgetika non nark0tik bekerja dengan mekanisme menghambat biosintesis prostaglandin yaitu menghambat enzim siklooksigenase sehingga konversi asam arakhidonat menjadi PGG2 menjadi terganggu. Enzim siklooksigenase terdapat dalam 2 isoform yang disebut COX-1 dan COX-2. Secara garis besar COX-1 esensial dalam pemeliharaan berbagai fungsi dalam keadaan normal di berbagai jaringan khususnya ginjal, saluran cerna, dan trombosit.
Penggunaan obat analgetika dalam jangka waktu lama akan menyebabkan efek samping gangguan pada ginjal, saluran cerna trombosit. Di mukosa lambung aktivitas COX-1 menghasilkan prostasiklin yang bersifat protektif pada mukosa saluran cerna sehingga efek samping dari obat obat analgetika yang banyak terjadi adalah gangguan saluran cerna seperti mual, diare dan dispepsia.
Pada penderita tukak peptik obat-obat analgetika akan memperparah tukak peptiknya. Tromboksan A2 yang di sintesis trombosit oleh COX-1 menyebabkan agregasi trombosit vasokontriksi dan proliferasi otot polos. Sebaliknya prostasiklin PGL2 yang disintesis oleh COX-2 di endotel makro vasikuler melawan efek tersebut dan menyebabkan penghambatan agregasi trombosit.
Hal tersebut menyebabkan peningkatan resiko perdarahan. Penggunaan beberapa analgetika meningkatkan resiko perdarahan. Pada pasien dengan gangguan penggumpalan darah seperti hemofilia, trombositopenia, uremia dan sirosis harus menghindari pemakaian obat analgetika. Parasetamol umumnya masih merupakan pilihan yang aman untuk kondisi pasien dengan gangguan penggumpalan darah.
Salah satu yang harus dipertimbangkan dalam pemilihan analgetika adalah kondisi pasien. Kondisi pasien harus pertimbangkan antara lain gangguan ginjal karena dapat menyebakan gangguan keseimbangan elektrolit, kegagalan ginjal akut, gagal ginjal kronis, dan nephropati. Seseorang yang memiliki ginjal lemah, sama artinya mempercepat kerusakan ginjal dengan mengkonsumsi obat pereda nyeri.
Risiko ini lebih banyak dijumpai pada penggunaan obat nonsalisilat dalam jangka lama. Pasien dengan gangguan ginjal sangat dianjurkan untuk berhati-hati dalam penggunaan analgetika ini. Pada pasien diabetes umumnya mempunyai toleransi terhadap nyeri yang lebih rendah dibandingkan orang normal, sehingga mereka umumnya membutuhkan analgetika lebih banyak. Karena pasien diabetes umumnya juga berisiko tinggi terhadap penyakit ginjal fase terminal, penggunaan obat analgetika harus hati-hati dan dimonitor oleh dokter atau petugas kesehatan lainnya. Dengan kata lain, diabetes adalah faktor yang dapat mempercepat kerusakan fungsi ginjal.
Obat-obat analgetika dapat menyebabkan komplikasi saluran pencernaan seperti dispepsia, radang lambung, luka lambung, perdarahan lambung. Pasien yang berisiko tinggi adalah mereka yang punya riwayat gangguan lambung, yang berusia lebih dari 60 tahun, dan mereka yang menggunakan secara bersamaan obat-obat lain seperti kortikosteroid, antikoagulan dan nikotin. Parasetamol merupakan pilihan yang paling aman untuk pasien dengan gangguan saluran cerna.
Sebagai penutup dapat disimpulkan bahwa obat penghilang nyeri dapat diperoleh tanpa resep, tetapi diperlukan kehati-hatian dalam pemilihan analgetika yang tepat sesuai dengan kondisi pasien, demikian disampaikan oleh Wahyu Widyaningsih, M.Si., Apoteker.
Pengetahuan adalah dokter terbaik. Karena KWANG EARRINGS adalah teman terbaik mu! 😊
Sumber Rujukan:
https:// uad.ac. id/bijak-memilih-obat-penghilang-nyeri/
http:// suplemenstore. com/resiko-penyakit-jantung-dan-stroke-bisa-meningkat-jika-keseringan-minum-obat-pereda-nyeri/
https:// aura.tabloidbintang. com/kesehatan/read/62365/konsumsi-obat-pereda-nyeri-dalam-jangka-panjang-dapat-merusak-ginjal
https:// lifestyle.kompas. com/read/2016/02/11/144500523/Hati-hati.Salah.Konsumsi.Obat.Analgesik.Berisiko.Gagal.Ginjal
https:// hellosehat. com/hidup-sehat/tips-sehat/obat-penyebab-kerusakan-ginjal/
https:// hellosehat. com/hidup-sehat/tips-sehat/efek-samping-ibuprofen/
https:// lifestyle.okezone. com/read/2016/09/26/481/1498960/daftar-10-obat-yang-bahaya-untuk-ginjal
https:// www.kompasiana. com/ahmadimam/55724e20bd22bdb46bc21f8d/ketika-anak-sakit-diberi-paracetamol-atau-ibuprofen

  • Share:

You Might Also Like

0 comments

Untuk memesan Asesoris Perhiasan Imitasi Impor Berkualitas KWANG EARRINGS. baik eceran maupun dengan grosiran, silahkan kirimkan pemesanan Anda (Mohon cantumkan link url asesoris yang dipesan untuk kami pastikan ketersediaan stok produk). Tidak ada minimum pembelian jumlah item secara eceran, Bagi yang membeli secara grosir, mendapat diskon khusus. namun disertai ongkos kirim kurir JNE dari Jakarta, Indonesia:
- instagram dengan ID kwang_earrings
- email, telepon ataupun chatting online via Google Hangout : kwang.earrings@gmail.com
- LINE : RIANASHIETRA
- WhatsApp : (+62) 0817-4924-150.
- Juga Follow kami di Facebook: kwang_earrings

Syarat & Ketentuan:
- kerusakan dalam proses pengiriman, diluar tanggung jawab kami selaku penjual / supplier.
- tidak disertakan garansi, karena produk yang kami kirimkan dipastikan dalam kondisi baik dan utuh saat proses pengepakan dan pengiriman ke alamat pembeli.
- produk yang telah dipesan dan dikirimkan, tidak dapat dibatalkan ataupun ditukar.
- jika pelanggan puas atas layanan dan produk kami, mohon kesediaannya untuk dipromosikan ke rekan-rekan dan kerabat.

KWANG EARRINGS mengucapkan terimakasih atas kunjungan serta pembeliannya. Kami senang dapat membantu para wanita untuk tampil cantik dan manarik, dimana dan kapan pun berada, berapa pun usianya (tanpa batasan umur).
Berjiwa muda dan tampil belia, adalah keajaiban yang dapat dibantu oleh asesoris yang menawan sekaligus memikat. Kami senang dapat menyediakan pilihan perhiasan imitasi yang terjangkau namun tetap memperhatikan kualitas produk yang kami tawarkan secara eceran maupun grosiran.

Kami tunggu pesanan Anda, akan kami kirimkan pesanan Anda dengan hati yang penuh kehangatan untuk Anda atau untuk buah hati dan keluarga yang Anda kasihi.
Peluk dan Cium Erat!

Khusus untuk keperluan pemesanan dompet impor souvenir resepsi pertunangan / perkawinan, maupun untuk jasa PRIVATE TOUR GUIDE LEADER FREELANCE RIANA di Thailand, contact person:
- WhatsApp : (Thailand prefiks +66) 977-146-077;
- email, telepon, atau chatting online via Google Hangout : kwang.earrings@gmail.com
- LINE : RIANASHIETRA

TESTIMONI PEMBELI

TESTIMONI PEMBELI
Klik Gambar untuk Melihat TESTIMONI Pembeli Produk KWANG EARRINGS