Dunia Impian, Dunia yang Damai

By SHIETRA - Oktober 12, 2019

Dunia Impian, Dunia yang Damai
Dunia Impian, Dunia yang Damai

Sky above,
Earth below,
PEACE within.
Wish our country will always cover with compassion, kindness, love, and peace.
Bila kita memang menginginkan perdamaian, maka mengapa orang-orang dewasa di seluruh belahan dunia ini selalu berperang dan bertempur dengan senjata mematikan hingga senjata pemusnah massal yang juga mampu meluluh-lantakkan bumi tempat kita hidup ini? Untuk siapa dan untuk apakah semua peperangan itu? Apakah sesukar itu, hidup damai tanpa saling mengganggu dan tanpa saling menyakiti satu sama lain?
Mengapa bangsa dan warga negara dunia ini begitu melekatkanya pada berbagai upaya pengrusakan alam dan lingkungan hidup, seperti galian pertambangan, kerusakan hutan, hingga peperangan demi peperangan yang tidak berkesudahan. Benarkah penduduk dunia ini tidak mengidamkan hidup dalam damai dan memilih hidup dalam penuh ketegangan dan konflik? Apakah dunia seperti itu yang akan kita wariskan pada generasi penerus?
Mungkin ilustrasi kisah berikut, dapat cukup menginspirasi. Untuk itu KWANG kutipkan penggalan kisah dari seorang Bhikkhu bernama Ajahn Brahm, dalam bukunya Opening the Door of Your Heart (Judul versi Bahasa Indonesia: Si Cacing dan Kotoran Kesayangannya), Penerjemah : Chuang, Awareness Publication, 2009, Jakarta, sebagai berikut:
Si Cacing dan Kotoran Kesayangannya
Sebagian orang memang kelihatannya tidak ingin untuk terbebas dari masalah. Jika memang sedang tidak punya cukup masalah yang bisa dikhawatirkan, mereka akan menyetel sinetron televisi untuk mengkhawatirkan persoalan tokoh-tokoh fiksi di dalamnya.
Banyak juga yang merasa bahwa ketegangan membuat mereka lebih “hidup”; mereka menganggap penderitaan sebagai hal yang mengasyikkan. Agaknya mereka tidak ingin bahagia, karena mereka mau-maunya begitu melekat pada beban mereka.
Dua orang biksu merupakan teman dekat sepanjang hidup mereka. Setelah mereka meninggal, satu terlahir sebagai dewa di sebuah alam surga yang indah, sementara temannya terlahir sebagai seekor cacing yang kini berliang di seonggok tahi.
Sang dewa segera merasa kehilangan kawan lamanya, dan bertanya-tanya di manakah dia terlahir kembali. Dia tidak bisa menemukannya di alam surga yang ditinggalinya, lalu dia pun mencari-cari temannya di alam-alam surga yang lain. Temannya tidak ada di sana pula.
Dengan kekuatan surgawinya, sang dewa mencari temannya di dunia manusia, namun tidak ketemu juga. Pastilah, pikirnya membatin, temanku itu tidak akan terlahir di alam hewan, tetapi dia memeriksa alam hewan juga pada akhirnya, siapa tahu? Masih saja tidak ada tanda-tanda temannya.
Lalu, berikutnya, sang dewa mencari ke dunia serangga dan jasad renik, dan, kejutan besar baginya..., dia menemukan temannya ternyata terlahir kembali sebagai seekor cacing di dalam seonggok tahi yang menjijjikkan!
Namun karena ikatan persahabatan mereka yang begitu kuat, sampai-sampai melewati batas kematian, sang dewa berasa dia harus membebaskan kawan lamanya ini dari kelahirannya yang mengenaskan tersebut, entah karma apa yang membawanya ke situ.
Sang dewa lalu muncul di depan onggokan tahi tersebut dan memanggil, “Hei, cacing! Apakah kamu masih ingat siapa aku? Kita dahulu sama-sama jadi biksu pada kehidupan sebelumnya dan kamu adalah teman terbaikku saat itu. Aku kini terlahir kembali di alam surga yang menyenangkan, sementara kamu terlahir di tahi sapi yang menjijikkan ini. Tetapi jangan khawatir, karena aku akan membawamu ke surga bersamaku. Ayolah, kawan lama!”
“Tunggu dulu!” sergah si cacing, sok jual mahal. “Apa sih hebatnya ‘alam surga’ yang kamu ceritakan itu? Aku sangat bahagia di sini, bersama tahi yang harum, nikmat, dan lezat ini. Jika tahi ini tidaklah lezat, maka mengapa juga kami, kaum cacing memakannya?! Terima kasih banyak, aku sudah puas di sini.”
“Kamu tidak mengerti!” kata sang dewa, tidak mau kalah. Lalu dia melukiskan betapa menyenangkan dan bahagianya berada di alam surga.
“Apakah di sana ada tahi untuk dijadikan sarang dan dimakan?” tanya si cacing, langsung to the point.
“Tentu saja tidak ada!” dengus sang dewa.
“Kalau begitu, aku emoh pergi,” jawab si cacing dengan nada mantap, teguh, sok sibuk. “Sudah ya!” Dan si cacing pun betul-betul membenamkan dirinya ke tengah onggokan tahi tersebut tanpa lagi menghiraukan si dewa.
Sang dewa berpikir, mungkin kalau si cacing sudah melihat sendiri alam surga itu, barulah dia akan mengerti. Lalu sang dewa menutup hidungnya dan menjulurkan tangannya ke dalam tahi itu, mencari-cari si cacing. Begitu ketemu, dia menariknya dengan paksa.
“Hei, jangan ganggu aku!” jerit si cacing memprotes. “Tolooong, Darurat! Aku diculiiiiik!”
Cacing kecil yang licin itu menggeliat dan meronta sampai terlepas, lalu kembali menyelam ke dalam onggokan tahi untuk bersembunyi.
Tidak percaya bahwa sang cacing memilih seonggok tahi ketimbang surga, sang dewa yang baik hati ini kembali merogohkan tangannya ke dalam tahi, dapat, dan mencoba menariknya keluar sekali lagi.
Nyaris bisa dikeluarkan, tetapi karena si cacing berlumuran lendir dan terus menggeliat membebaskan diri, akhirnya terlepas lagi untuk kedua kalinya, dan bersembunyi makin dalam lagi di dalam tahi.
Seratus delapan kali sang dewa mencoba mengeluarkan cacing malang itu dari onggokan tahinya, namun si cacing begitu melekat dengan tahi kesayangannya, sehingga dia terus meloloskan diri!
Akhirnya, sang dewa menyerah dan kembali ke rumahnya di alam surgawi, meninggalkan si cacing bodoh di dalam onggokan kotoran kesayangannya.
“There are two primary choices in life : to accept conditions as they exist, or to accept the responsibility for changing them.”
(Dennis Waitley)
Seringkali, kita tidak pernah dapat memilih kapan dan di negara manakah kita akan terlahir dan tumbuh besar. Entah di sebuah negara yang damai dan beradab, atau bahkan di sebuah negeri yang luluh-lantak akibat perang saudara.
Namun, itu semua tidaklah sepenting bagaimana kita menyikapi kondisi dan situasi diluar diri kita dengan membuat pengkondisian secara mandiri didalam diri kita sendiri.
Ilustrasi kisah berikut ditulis oleh Sarah C. Hummell dalam artikel singkatnya dalam buku “Chicken Soup for the Soul : Kekuatan Berpikir Positif—101 Kisah Inspiratif tentang Mengubah Hidup dengan Berpikir Positif”, Editor Jack Canfield dkk., versi terjemahan Indonesia oleh Penerbit Gramedia Pustaka Utama, Jakarta, Cetakan ke-14 November 2018, dengan cuplikan ispiratif sebagai berikut:
Menjalani Hidup Impian
Tak satupun yang dahsyat yang telah tergapai kecuali oleh mereka yang berani meyakini bahwa sesuatu di dalam diri mereka lebih kuasa ketimbang situasi di luar sana.” (BRUCE BARTON)
Di kelas delapan, aku masih belum bisa membaca. Merangkai kalimat terasa bagaikan pertarungan yang mustahil. Guru-guruku sudah menyerah, mencoreng namaku sebagai anak yang keterlaluan bodoh. Aku divonis bahwa ujung-ujungnya aku akan tinggal di dalam kardus dan makan dari sisa-sisa seumur hidupku. Itulah vonis yang sudah harus aku cicipi selagi masih muda di umur yang masih sangat belia.
Aku yakin, ini hanya upaya untuk menakut-nakutiku agar aku mencoba lebih keras lagi, tetapi semua itu hanya makin memperburuk citra-diriku yang sudah rendah.
Akhirnya, setelah menonton film tentang seorang bocah lelaki yang kena disleksia, aku pun paham apa yang menimpaku. Aku ternyata tidaklah seorang diri. Aku sama sekali bukan bodoh. Aku hanya melihat segala sesuatu secara berbeda dari orang-orang lain kebanyakan.
Yang harus kulakukan adalah melatih otakku, untuk beradabtasi dengan apa yang kulihat, dengan cara seperti orang-orang lain di dunia membaca. Aku melihat semua huruf-huruf yang simetris secara normal tetapi aku melihat seluruh huruf-huruf yang tidak simetris secara terbalik.
Rasanya seperti menjalani hidup dimana semua orang tahu tentang kode rahasia, dan kemudian tiba-tiba membayangkan punya kode sendiri. Perlu bertahun-tahun bagiku untuk membiasakannya. Bahkan kini, dalam situasi stres yang tinggi, aku masih saja melakukan kesalahan.
Di SMA, aku sudah mulai bekerja sebagai barista di Clarence Center Coffee Co. Kupikir pekerjaan itu akan menjadi pekerjaan yang keren dan mudah dilakukan semasa liburan di musim panas. Ya ampun aku ternyata keliru! Pemiliknya sudah berkeliling dunia mempelajari kopi, dan dia akan memastikan bahwa pasukan baristanya paham betul produk yang dijualnya.
Kami dibekali dengan tugas membaca dan diharapkan lulus tes mingguan untuk bisa bertahan bekerja di sana. Aku begitu takutnya bahwa guruku benar tentang aku. Aku akan dipecat dari pekerjaan pertamaku karena kemampuan bacaku yang payah.
Entah bagaimana caranya aku bisa lulus dari tes yang diujikannya. Membaca tentang kopi tidaklah susah karena aku tertarik pada topik itu! Beberapa minggu kemudian, aku sadar tinggal aku saja yang tinggal di sana di antara para pegawainya semula. Untuk sekali ini aku bisa terampil dalam satu hal. Pada waktu aku sedang mengelap meja pada suatu hari, tiba-tiba terpikir olehku. “Aku bisa melakukan ini seumur hidupku dan sudah cukup senang!” begitu kataku membatin dalam hatiku sendiri.
Untuk pertama kalinya dalam hidup, aku menetapkan target bagi diriku sendiri. aku akan punya warung kopiku sendiri. kebanyakan orang menertawakan lamunanku itu. Aku sudah biasa ditertawakan, jadi aku tak perduli. Aku akan berusaha mencapainya dengan mati-matian.
Ketika itu, Internet mulai gampang diakses oleh publik. Sekarang karena sudah tahu membaca, aku bisa mencari apa pun yang kuinginkan! Aku bisa merasakan bahwa rasa laparku akan pengetahuan mulai tumbuh dalam jiwaku, terutama tentang kopi.
Karena sekarang bisa membaca, aku pun bisa mulai mengambil kuliah! Itu terasa mustahil bagiku sebelumnya. Bidang apa yang akan kutekuni? Di tahun 1998, jurusan yang paling dekat dengan pengelolaan coffee shop adalah managemen hotel dan restoran. Aku melamar ke lima college yang memiliki jurusan itu, dan aku ternyata bisa juga lulus kelima-limanya yang kulamar!
Sewaktu kuliah di Niagara University, aku berjumpa dengan bakal calon suamiku yang hebat ini. dia juga punya mimpi sendiri. dia ingin jadi pemadam kebakaran yang profesional. Dia memahami minatku dan kami saling dukung satu sama lain dalam mencapai impian kami.
Setiap aku pergi makan atau minum kopi dengan teman-teman, mereka melihat perhatianku pada detail-detail karena aku memperhatikan kualitas dan pelayanan yang diberikan. kebanyakan teman mendorongku untuk menulis, tetapi aku tidak menanggapinya. Membayangkan pekerjaan menulis serasa mustahil, terutama membayangkan tulisanku diterbitkan!
Pada usia 26 tahun, aku mendapatkan pekerjaan yang menyenangkan sebagai general manager yang mengelola properti hotel. Suamiku menjadi pemilik perusahaan keamanan yang bereputasi baik yang mengkhususkan diri pada sistem pengamanan khusus. Kami memiliki rumah yang indah, dengan mebel dan peralatan elektronik mutakhir, mengendarai mobil yang bagus, makan malam di restoran mewah, bepergian ke tempat-tempat eksotik, dan seluruh tagihan bulanan kami terbayar!
Dengan semua yang kami miliki itu, kami berdua masih saja merasa tidak puas. Kami menjadi manja. Kami terjebak dalam gaya hidup yang mengikuti standar-standar orang lain, bukan standar kami sendiri. Yang paling parah, kami sudah melepaskan mimpi-mimpi kami semula.
Secara spontan, kami pun melepaskan setiap hal yang kami tahu. Suamiku membuat perubahan drastis, menjual bisnisnya, dan aku pun mengikuti langkahnya dengan berhenti dari pekerjaanku, dan kami pindah ke kota lain dalam rangka untuk mengejar mimpi-mimpi kami, dan mendekatkan kami pada impian-impian kami semula.
Kini, kami adalah pemilik Cafe Roche Espresso Bar yang bahagia di Winston-Salem, North Carolina. Suamiku menjadi petugas pemadam kebakaran di bagian Pemadaman Kebakaran paling sibuk di Departemen Pertahanan.
Setelah bertahun-tahun mencoba dan tanpa hasil, dalam setahun setelah kami pindah, kami pun dianugerahi dengan kelahiran anak pertama dan kini sedang menunggu yang kedua. Mimpi kami kini sudah jadi kenyataan, bukan sekadar mimpi demi impian itu sendiri, dan kami sudah sangat puas.
Aku diminta menulis di Fresh Cup Magazine, sebuah terbitan internasional tentang kopi! Kenyataan bahwa aku kini termasuk salah satu pakar di dalam industri kopi dan tulisanku bisa diterbitkan di sebuah publikasi internasional, itu benar-benar di luar mimpi-mimpi terliarku.
One day, the people who don’t believe in you, will tell everyone how they met you.
(Johnny Depp)
Rasanya tidak pernah ada, seorang bocah yang bermimpi ketika dewasa akan pergi bertempur dan melukai orang lain, terlebih merusak bumi ini. Namun, bagai melupakan impian semacam kecil mereka, kebanyakan orang dewasa menyerah pada dunia yang indah dan damai, lalu mulai menjadi pragmatis dan justru menentang mimpi dan impian mereka sendiri.
Apakah kita pun meniru jejak yang sama dengan para pendahulu kita, atau mulai menyadari kembali impian-impian kita semasa belia dan mewujudkannya? Tidak akan ada yang jatuh begitu saja dari atas langit, upaya kita sendiri untuk bisa menjadikannya kenyataan. Selamat berjuang untuk kita semua!
Karena KWANG EARRINGS adalah teman terbaik mu! 😊

  • Share:

You Might Also Like

0 comments

Untuk memesan Asesoris Perhiasan Imitasi Impor Berkualitas KWANG EARRINGS. baik eceran maupun dengan grosiran, silahkan kirimkan pemesanan Anda (Mohon cantumkan link url asesoris yang dipesan untuk kami pastikan ketersediaan stok produk). Tidak ada minimum pembelian jumlah item secara eceran, Bagi yang membeli secara grosir, mendapat diskon khusus. namun disertai ongkos kirim kurir JNE dari Jakarta, Indonesia:
- instagram dengan ID kwang_earrings
- email, telepon ataupun chatting online via Google Hangout : kwang.earrings@gmail.com
- LINE : RIANASHIETRA
- WhatsApp : (+62) 0817-4924-150.
- Juga Follow kami di Facebook: kwang_earrings

Syarat & Ketentuan:
- kerusakan dalam proses pengiriman, diluar tanggung jawab kami selaku penjual / supplier.
- tidak disertakan garansi, karena produk yang kami kirimkan dipastikan dalam kondisi baik dan utuh saat proses pengepakan dan pengiriman ke alamat pembeli.
- produk yang telah dipesan dan dikirimkan, tidak dapat dibatalkan ataupun ditukar.
- jika pelanggan puas atas layanan dan produk kami, mohon kesediaannya untuk dipromosikan ke rekan-rekan dan kerabat.

KWANG EARRINGS mengucapkan terimakasih atas kunjungan serta pembeliannya. Kami senang dapat membantu para wanita untuk tampil cantik dan manarik, dimana dan kapan pun berada, berapa pun usianya (tanpa batasan umur).
Berjiwa muda dan tampil belia, adalah keajaiban yang dapat dibantu oleh asesoris yang menawan sekaligus memikat. Kami senang dapat menyediakan pilihan perhiasan imitasi yang terjangkau namun tetap memperhatikan kualitas produk yang kami tawarkan secara eceran maupun grosiran.

Kami tunggu pesanan Anda, akan kami kirimkan pesanan Anda dengan hati yang penuh kehangatan untuk Anda atau untuk buah hati dan keluarga yang Anda kasihi.
Peluk dan Cium Erat!

Khusus untuk keperluan pemesanan dompet impor souvenir resepsi pertunangan / perkawinan, maupun untuk jasa PRIVATE TOUR GUIDE LEADER FREELANCE RIANA di Thailand, contact person:
- WhatsApp : (Thailand prefiks +66) 977-146-077;
- email, telepon, atau chatting online via Google Hangout : kwang.earrings@gmail.com
- LINE : RIANASHIETRA

TESTIMONI PEMBELI

TESTIMONI PEMBELI
Klik Gambar untuk Melihat TESTIMONI Pembeli Produk KWANG EARRINGS