Bertanya pada Orang yang Tidak Tepat, Sesat di Jalan

By SHIETRA - Oktober 01, 2019

Bertanya pada Orang yang Tidak Tepat, Sesat di Jalan

Pepatah menyebutkan, “malu bertanya, sesat di jalan.” Namun mengapa, acapkali kita justru menjadi “tersesat” setelah bertanya? Masalahnya, apakah kita telah bernyata kepada orang yang tepat? Sehingga, pertanyaan yang paling relevan mungkin bukanlah lagi : “Sudah bertanya ataukah belum?” namun menjadi, “Bertanya kepada siapa?
Suatu ketika bermula saat KWANG hendak membuat anak kunci duplikat, agar tidak khawatir sewaktu-waktu anak kunci mengalami kerusakan saat mengunci pintu rumah saat ditinggal perlu keluar rumah bila sedang ada urusan di luar rumah. Lebih mengerikan lagi jika anak kuncinya rusak sehingga kita tidak bisa memasuki rumah kita sendiri, sehingga karenanya penting untuk memiliki anak kunci duplikat dapat sewaktu-waktu dipakai sebagai cadangan dikala darurat.
Maka KWANG menempuh perjalanan untuk mencari tukang / ahli kunci, alias pembuat anak kunci duplikat. Setelah berjalan jauh, KWANG tidak lagi melihat kios tempat pembuatan anak kunci duplikat yang dahulu kala sepertinya pernah KWANG lihat, yang sepertinya dahulu pernah ada di daerah yang KWANG sering melintas—ternyata benar ya, kita tidak akan benar-benar menyimak tatkala sedang tidak merasa sedang membutuhkan.
Agar tidak kecewa setelah berjalan jauh, maka KWANG mencoba menanyakan informasi pada salah seorang warga setempat, apakah ada ahli pembuat duplikat anak kunci di daerah tersebut? Dijawab “Tidak”, “Tidak ada?”, “Tidak.”
KWANG melangkah untuk pulang kembali ke kediaman, dengan sedikit kecewa. Namun setelah beberapa jauh, KWANG kembali mencoba bertanya, kali ini dengan salah seorang warga lainnya. Namun, sangat bertolak-belakang kepada warga sebelumnya, warga yang kali ini KWANG mohon bantuan informasi sangat ramah dan menjelaskan sangat detail dan sangat menolong memberikan informasi kepada KWANG.
Sang warga bahkan menjelaskannya hingga sebanyak dua kali, arah dimana terdapat tempat pembuatan kunci duplikat, tanpa KWANG minta, bahkan menjelaskan pula dimana lokasi alternatif lainnya tak jauh dari sana yang menyediakan jasa pembuatan duplikat anak kunci.
Dan benarlah informasi dari sang warga baik hati tersebut, KWANG tidak sia-sia berjalan jauh, dan menemukan tempat pembuatan duplikat anak kunci, sebagaimana petunjuk sang warga yang baik hati tersebut.
Ternyata, pelajaran yang dapat KWANG petik pada hari tersebut, bukanlah persoalan malu atau tidak malu untuk bertanya, namun bertanyalah pada orang yang tepat.
Sama halnya saat kini tatkala kita dibanjiri arus informasi yang mengalir deras lewat media konvensional maupun digital “online”. Bukanlah lagi relevan untuk membuat kriteria, seberapa banyak informasi yang kita dapatkan dan himpun, namun seberapa akurat informasi yang kita dapatkan, dan darimanakah sumber informasi tersebut, dapatkah dipercaya ataukah tidaknya? Jangan-jangan sebagian besar diantaranya hanyalah hoax yang direproduksi pihak-pihak yang tidak bertanggung-jawab, sehingga kita pun jangan turut mereproduksinya—dengan terlebih dahulu mengecek akurasinya.
Begitupula ketika kita hendak berguru. Bergurulah pada guru yang tepat. Sama seperti berkawan, kawan maupun guru yang tidak baik, dapat membuat kita “kehilangan arah” dan “kehilangan jati diri”. Sebaliknya, guru dan teman yang baik, dapat menolong dan membukakan mata kita dari jalan yang hendak kita tempuh.
Orang-orang yang selalu membenarkan perilaku kita, pastilah bukan orang yang benar, karena sama ekstrimnya dengan orang-orang yang selalu mencela dan mematahkan semangat kita. Kawan dan guru yang baik, akan menegur dan memberi kita peringatan ketika kita berbuat keliru, bukan sebaliknya, senang melihat kita berbuat jahat dan keburukan.
Bila kita memiliki karakter pembelajar yang bukan termasuk orang-orang yang yang memiliki intelektual “jenius”, maka dibimbing dan diajarkan oleh guru yang “jenis” akan membuat kita terlihat bodoh, makin rendah diri, dan akhirnya memarahi diri sendiri—disamping makin bingung dibuatnya.
Orang-orang dan guru yang “jenius”, kadang kala meremehkan segala sesuatunya, dengan menganggap segala sesuatunya adalah mudah untuk dipahami, dipelajari, dan dipecahkan—meski sama sekali tidak bagi orang-orang berkecerdasan “rata-rata”.
Karenanya, orang-orang yang “jenius” akan sukar sekali memahami keterbatasan orang-orang dengan kecerdasan “rata-rata”. Maka, yang tepat untuk direkomendasikan ialah, carilah teman belajar untuk bertanya atau guru yang bertipe “pekerja keras”, agar mereka pun mampu memahami kesukaran yang kita hadapi. Lihat, kadang kala orang-orang jenius tidak mampu memecahkan masalah sederhana semacam contoh tersebut.
Prinsip sebaliknya juga berlaku, sebagai contoh, menjadi orang baik itu baik adanya. Namun, ada kalanya kita harus bersikap cermat serta cerdas. Pernahkah Sobat memerhatikan, menjadi orang yang hanya diam ketika diperlakukan seperti apapun, akan cenderung menjadi sasaran empuk objek bully oleh orang-orang yang tidak mampu menghargai harkat dan martabat orang lain.
Mungkin kita berpikir dan berasumsi, sepanjang kita tidak pernah mengganggu dan merugikan orang lain, maka orang lain tidak akan menganggu ataupun menyakiti diri kita. Namun, pernahkan realita kehidupan sosial kita berjalan dengan logika yang logis demikian? Sayangnya, sekaligus kabar buruknya, dunia orang-orang yang penuh kekotoran batin di hatinya, bekerja dengan prinsip sebaliknya, yang kuat memakan yang lemah, menjadi lemah artinya siap-siap akan dimakan oleh yang kuat. Sama sekali tidak logis, bahkan yang berjalan secara melawan arah (berjalan di sisi sebelah kanan) akan marah ketika ditegur pejalan kaki yang berjalan pada sisi sebelah kiri ketika saling berpapasan.
Ada kalanya kita harus bersikap rasional, dengan menjaga diri dengan baik-baik, tidak melulu “positive thinking” terhadap setiap orang yang kita jumpai. KWANG pernah memberikan donasi dalam jumlah yang besar kepada seseorang yang mengaku sedang mengidab penyakit dan butuh berobat, sederhananya minta biaya berobat. Ternyata, setelah diberikan, justru dipakai olehnya untuk memakai barang madat. Berdana yang bijak, harus terlebih dahulu melihat sosok yang akan kita berikan dana.
Ada banyak cara berbuat baik, dan ada “seni” tersendiri untuk menjadi orang baik. Sehingga, kreativitas diperlukan bagi orang-orang yang mampu bersikap bijaksana. Singkat kata, jadilah orang baik dengan cara-cara yang cerdas. Bila dalam Buddhisme, ada semboyan sebagai berikut: “Berbuat baik artinya, tidak menyakiti diri sendiri, dan juga tidak menyakiti orang lain.”
Menjadi keras dan tegas, mungkin tampak kejam, tidak lembut. Namun, ketika kita menjadi seorang guru, ada kalanya seorang guru harus bersikap tegas dan keras kepada murid-murid yang memang perlu “dikerasi”, salah satunya murid-murid bertipe “phlegmatis”. Sebaliknya, bersikap keras terhadap anak-anak bermental “koleris”, sama artinya menebar peperangan mengingat anak bertipe “koleris” sukar dikoreksi watak dan perilakunya, sehingga pendekatannya pun agak berbeda dari murid kebanyakan, tidak bisa “dikerasi”.
Ada saatnya untuk bekerja keras, ada saatnya untuk menenangkan diri. Ada saatnya berpikir, ada saatnya bergerak. Tidak ada rumusan baku untuk segala hal dan setiap situasinya. Menjadi bijaksana artinya, tepat menggunakan cara, tepat pada waktunya, dan tepat pada orangnya.
Sebagai contoh penutup, tentunya banyak kita dengar “rumor”, bahwa mengkonsumsi gula batu sebagai pengganti alternatif dari gula pasir, dianggap sebagian kalangan kita sebagai lebih aman dan lebih sehat. Pastinya kita pernah mendengar cerita demikian dari mulut ke mulut. Masalahnya, mulut siapa yang pertama kalinya berkata seperti itu?
Namun, tahukan Sobat, setelah KWANG melakukan penelurusan, ternyata gula batu berbahan dasar terbuat dari gula pasir yang digodok dalam kuali besar dengan air yang keruh, lalu diproses secara TIDAK HIGIENIS.
Jika gula batu ternyata dibuat dengan bahan dasar dari gula pasir, bahkan dengan proses yang sangat TIDAK HIGIENIS, maka dimana letak lebih sehatnya gula batu ketimbang gula pasir?
Bahkan proses pemanasannya jauh lebih panjang rantai prosesnya ketimbang gula pasir, ditambah cara pembuatannya yang TIDAK HIGIENIS, maka alih-alih mengharap sehat dengan mengkonsumsi gula batu, yang terjadi kemudian ialah berbuah petaka. Informasi, bisa jadi menolong bisa jadi juga berbahaya, terutama informasi yang tidak jelas sumber rujukannya.
Karena KWANG EARRINGS adalah teman terbaik mu! 😊

  • Share:

You Might Also Like

0 comments

Untuk memesan Asesoris Perhiasan Imitasi Impor Berkualitas KWANG EARRINGS. baik eceran maupun dengan grosiran, silahkan kirimkan pemesanan Anda (Mohon cantumkan link url asesoris yang dipesan untuk kami pastikan ketersediaan stok produk). Tidak ada minimum pembelian jumlah item secara eceran, Bagi yang membeli secara grosir, mendapat diskon khusus. namun disertai ongkos kirim kurir JNE dari Jakarta, Indonesia:
- instagram dengan ID kwang_earrings
- email, telepon ataupun chatting online via Google Hangout : kwang.earrings@gmail.com
- LINE : RIANASHIETRA
- WhatsApp : (+62) 0817-4924-150.
- Juga Follow kami di Facebook: kwang_earrings

Syarat & Ketentuan:
- kerusakan dalam proses pengiriman, diluar tanggung jawab kami selaku penjual / supplier.
- tidak disertakan garansi, karena produk yang kami kirimkan dipastikan dalam kondisi baik dan utuh saat proses pengepakan dan pengiriman ke alamat pembeli.
- produk yang telah dipesan dan dikirimkan, tidak dapat dibatalkan ataupun ditukar.
- jika pelanggan puas atas layanan dan produk kami, mohon kesediaannya untuk dipromosikan ke rekan-rekan dan kerabat.

KWANG EARRINGS mengucapkan terimakasih atas kunjungan serta pembeliannya. Kami senang dapat membantu para wanita untuk tampil cantik dan manarik, dimana dan kapan pun berada, berapa pun usianya (tanpa batasan umur).
Berjiwa muda dan tampil belia, adalah keajaiban yang dapat dibantu oleh asesoris yang menawan sekaligus memikat. Kami senang dapat menyediakan pilihan perhiasan imitasi yang terjangkau namun tetap memperhatikan kualitas produk yang kami tawarkan secara eceran maupun grosiran.

Kami tunggu pesanan Anda, akan kami kirimkan pesanan Anda dengan hati yang penuh kehangatan untuk Anda atau untuk buah hati dan keluarga yang Anda kasihi.
Peluk dan Cium Erat!

Khusus untuk keperluan pemesanan dompet impor souvenir resepsi pertunangan / perkawinan, maupun untuk jasa PRIVATE TOUR GUIDE LEADER FREELANCE RIANA di Thailand, contact person:
- WhatsApp : (Thailand prefiks +66) 977-146-077;
- email, telepon, atau chatting online via Google Hangout : kwang.earrings@gmail.com
- LINE : RIANASHIETRA

TESTIMONI PEMBELI

TESTIMONI PEMBELI
Klik Gambar untuk Melihat TESTIMONI Pembeli Produk KWANG EARRINGS