Bahaya Polusi dalam Ruangan bagi Kesehatan Penghuni Rumah

By SHIETRA - Desember 18, 2019

Bahaya Polusi dalam Ruangan bagi Kesehatan Penghuni Rumah

Memasak dengan cara tradisional pakai kayu bakar, memicu resiko kanker nasofaring, atau karsinoma nasofaring. Karenanya, janganlah mencelakai tetangga Anda dengan egois demi perut sendiri dengan memasak makanan menggunakan kayu bakar ataupun membakar sampah.
Jika tetap ingin membakar kayu, arang, atau sampah, silahkan tinggal di hutan bersama monyet liar, jangan berbagi ruang dan berbagi udara di perkotaan.
Selama ini mungkin kita hanya tahu atau pernah mendengar perihal polusi “luar ruangan”, namun siapa yang menyangka, polusi “dalam ruangan” justru bisa menjadi lebih berbahaya karena lebih banyak waktu kita dihabiskan pada aktivitas di dalam ruangan?
Sebagai contoh, dahulu pernah KWANG jumpai pada beberapa buah perkantoran di Jakarta (Indonesia), ketika kantor tersebut membuka kantornya pada pagi hari dan beraktivitas, salah seorang staf kantor menyemprotkan semprotan obat pembunuh nyamuk dan kecoak ke seluruh ruang kantor. Akibatnya, seluruh perabot dipenuhi “debu” kimia beracun yang mengendap dan menumpuk, serta seluruh udara dalam kantor yang sirkulasinya hanya berputar-putar di situ saja (sirkulasi Air Conditioner atau AC, sejatinya hanya menghisap dan mengeluarkan udara yang sama, bukan sirkulasi yang sesungguhnya menggantikan udara lama dan udara baru).
Sehingga, seluruh staf kantor maupun pengunjung kantor, setiap harinya harus menghisap polutan yang bersumber dari obat kimia pembunuh serangga yang sengaja disemprotkan ke seluruh ruangan kantor dengan alasan untuk membunuh nyamuk pengganggu. Jika serangga saja bisa mati menghirupnya, apalagi manusia yang setiap hari terpapar dan terpajan udara beracun demikian?
Lebih berbahaya lagi, ialah obat semprot pembunuh serangga yang mengandung pewangi, ada aroma lemon, aroma harum lavender, dsb. Manusia yang kurang bijaksana, akan menyemprotnya seolah sebagai pengharum ruangan, disemprot lalu dihirup dengan senang dan riang gembira, tanpa mau menyadari perilakunya dapat membahayakan dirinya sendiri maupun bagi orang lain yang menghuni ruangan.
Terlebih ironis, dalam pengamatan KWANG kondisi ruang perkantoran di Indonesia, banyak penghuninya yang membakar tembakau di dalam ruangan, mengakibatkan banyak jatuh korban “per0k0k pasif”—sementara kita ketahui, potensi resiko berbahayanya bagi kesehatan “per0k0k pasif” jauh melampaui “per0k0k aktif” yang hanya memikirkan kesenangan dirinya sendiri (egoistik) dan membahayakan kesehatan orang lain.
Contoh lain, ialah pembakaran dupa. Padahal, saat zaman Sang Buddha, tidak ada ritual pembakaran dupa, juga Agama Buddha bukanlah “agama ritual”. Sang Buddha sendiri telah bersabda, ritual tidak akan dapat mensucikan diri dan pikiran seseorang, namun oleh perilakunya sendiri.
Karenanya, kini di Thailand, pemerintah Thailand dan otoritas setempat di Bangkok, telah melarang warga lokal maupun turis asing untuk membakar dupa di berbagai kuil, sehingga hanya boleh ditancap di tempat penusukan dupa, tanpa boleh dibakar.
Begitupun dengan Master Shih Cheng Yen, pendiri Yayasan Buddha Tzu Chi, telah lama menghimbau agar umat tidak lagi menjalankan tradisi membakar dupa, karena tradisi demikian tidak sesuai pandangan Buddhisme agar turut menjaga kelestarian lingkungan. Betapa tidak, jika satu orang dalam sehari membakar 6 batang dupa (apalagi ada dupa sebesar motor), maka jika dalam hitungan 1 tahun dengan jutaan umat, dapat dijumlahkan berapa ribu pohon harus ditumbangkan sepanjang tahunnya, tentu tidak ramah terhadap lingkungan, selain tidak sehat bagi kesehatan.
Yang tidak kalah kurang “primitif” dari perilaku masyarakat di Indonesia, bahkan dapat dijumpai pada perumahan di perkotaan seperti Jakarta, ialah kebiasaan membakar sampah daun maupun sampah anorganik lainnya seperti plastik di lingkungan perumahan, bahkan dilakukan dekat ventilasi rumah tetangga, dimana polusi bersifat lintas batas dan lintas sekat, maka sekalipun pembakaran sampah dilakukan pada satu titik, namun terdampaknya bisa membuat derita ratusan keluarga pemilik rumah dan penghuninya hingga radius ratusan meter akibat tertiup angin dan udara.
Karena itu jugalah, wajar ketika negara tetangga seperti Singapura sering melakukan komplain atas ulah Pemerintah Indonesia yang selalu gagal mengatasi ulah korporasi pengusaha sawit yang kerap membuka hutan dengan cara membakar lahan gambut (land clearing). Perumahan semestinya bebas dari segala gangguan, termasuk dari gangguan polusi udara, polusi suara, maupun polusi sosial lainnya seperti aktivitas usaha ilegal yang mengganggu ketenteraman warga pemukim.
Patut kita sayangkan, kesadaran sebagian besar masyarakat Indonesia masih hanya sebatas mementingkan diri sendiri, tanpa mau menyadari bahwa setiap penduduk dan warga saling berbagi ruang hidup, berbagi sumber daya alam, dan berbagi nafas.
Bahkan ada seorang tetangga pada rumah KWANG di Jakarta, mengomel karena daun yang berguguran, seolah dirinya tidak membutuhkan oksigen dari pohon untuk bernafas dan berteduh. Berikut KWANG ungkap berbagai fakta perihal bahaya polusi dalam ruangan.
Kebanyakan model rumah modern saat kini dibangun tanpa ventilasi pertukaran udara, dimana para penghuninya hanya mengandalkan alat pendingin udara (AC) untuk menurunkan suhu udara, tanpa menyadari ancaman bahaya tinggal dalam rumah tanpa ventilasi.
Rumah tanpa ventilasi menghambat sirkulasi udara,” tutur Dr. Ong Kian Chung, Respiratory Specialist Mount Elizabeth Hospital, kepada awak media di Singapura. Padahal di rumah ada polutan, macam asap rokok dan lilin, debu mebel mengandung senyawa mikro semacam tungau, semprotan deodoran dan antiserangga yang mengendap dan terakmulasi.
Sekali bernapas, rata-rata manusia menghirup 500 mililiter udara, di mana 20 persen di antaranya berupa oksigen (itupun jika terdapat pepohonan di lokasi perumahan). Dapat kita bayangkan, betapa tersiksa paru-paru kita ketika udara yang harus kita hirup sehari-hari di dalam rumah, ternyata mengandung polutan yang berbahaya yang bagi kesehatan.
Terlebih bila rumah berlokasi di lingkungan sarat polutan yang terdampak dari kepadatan lalu lintas, atau kebakaran hutan. Udara kotor yang masuk dan terperangkap dalam rumah saat jendela dan pintu kebetulan terbuka, tentunya mengganggu pernapasan. Dalam jangka panjang, ditengarai memicu penyakit pernapasan serius.
Bagi mereka yang “berhidung sensitif” dan mudah alergi, semisal mengidap asma, maka polutan dalam rumah, menurut Dr. Ong, bakal memperparah kondisi saluran pernapasan, bahkan paru-parunya. “Mereka bisa mengalami alergi, batuk terus menerus, kesulitan bernapas, dan lebih parah lagi, kanker.”
MASALAHNYA, BANYAK DIANTARA MASYARAKAT INDONESIA YANG TERLAMPAU EGOISTIK, TIDAK MAU MEMAHAMI KONDISI TETANGGA DAN PARA PEMUKIM SEKITARNYA, HANYA MEMENTINGKAN DIRINYA SENDIRI. Pernahkah para pembakar sampah di lingkungan pemukiman tersebut, memikirkan nasib para warga setempat yang mungkin saja mengidap asma ringan maupun asma akut, bahkan setiap hari atau seminggu sekali harus mendapati udara pada perumahan tersebut tercemar oleh seorang warga lainnya yang membakar sampah sembarangan. Kondisi jalan raya yang penuh polusi, semestinya lingkungan perumahan menjadi tempat berlindung dan beristirahat yang bebas dari segala polusi.
Polutan dalam rumah semakin membahayakan bila di antara penghuni ada bayi atau balita. Sistem imun mereka, dikatakan Dr. Ong, masih lemah dan masih berkembang kurang dari separuh dewasa. Maka bila terpapar polutan dalam rumah secara terus-menerus dalam kurun waktu lama, kondisinya bakal parah.
Kanker masih menjadi momok kesehatan di Indonesia. Berdasarkan data dari Kementerian Kesehatan, prevalensi kanker di Indonesia saat ini adalah 4,3 per 1000 penduduk dan penyebab kematian nomor tujuh, 5,7 persen dari seluruh penyebab di Indonesia.
Yang mungkin jarang kita ketahui ialah sejenis kanker bernama kanker nasofaring, atau karsinoma nasofaring (KNF). Dari data statistik, KNF berada pada urutan keempat sebagai kanker terbanyak di Indonesia setelah kanker leher rahim, kanker payudara dan kanker paru.
Di Indonesia sendiri, angkanya mencapai 4-9 kasus per 100 ribu penduduk, menempati peringkat ketiga di dunia. "Kanker Nasofaring disebabkan oleh beberapa hal yakni Epstein-Barr Virus, peningkatan antibodi, genom virus pada sel tumor, bahan kimia termasuk asap, serta mengonsumsi makanan yang menghasilkan kandungan nitrosamine atau precursor nitro yang akan menjadi pemicu untuk terjadinya proses KNF," ujar Dr. dr. Cita Herawati, SpTHT-KL, saat seminar media 'Pengobatan Paripurna pada Kanker Nasofaring'.
Jangan remehkan akibat dampak dari polutan udara, karena yang berbahaya ialah dampak jangak panjang, bukan sekadar dampak jangka pendeknya—itulah sebabnya, akal masyarakat Indonesia kerap sangat pendek akalnya dalam menyikapi suatu kondisi.
Jika hanya mencelakai dirinya sendiri pelaku pembakar sampah ataupun rokok, itu bukanlah urusan kita—hanya saja jika dampaknya membawa konsekuensi resiko kesehatan bagi warga lainnya (dan seringkali demikian), itu barulah patut disebut sebagai “kejahatan terhadap kesehatan publik”. Sayangnya, aparatur penegak hukum kita itu sendiri juga merupakan aktor pelaku yang menghasilkan polusi udara. Cobalah lihat kondisi kantor polisi, para polisi kerap merokok dalam ruangan sekalipun warga pelapor bisa jadi alergi asap rokok.
Asap yang dimaksud oleh dr. Cita ialah seperti rokok, dupa, kemenyan dan kayu bakar, obat anti nyamuk bakar serta pekerjaan yang menghasilkan serbuk-serbuk kimia, seperti peleburan besi dan serbuk kayu. Selain asap, nitrosamine juga bisa dihasilkan oleh beberapa jenis makanan seperti ikan asin, sayuran yang diawetkan, dan makanan yang difermentasi.
"Tak sedikit yang menderita ini bukan karena asap rokok atau polusi, tetapi para Ibu yang masih memasak dengan cara tradisional pakai kayu bakar," katanya.
Gejalanya, dr Cita mengungkapkan, meliputi mimisan ringan sampai berat, terasa sumbatan di hidung, kadang sering dirasakan pilek lama yang seperti gejala sinusitis. “Kemudian ada juga rasa tidak nyaman di telinga karena tumor terletak di dekat muara tuba eustachius atau fossa Rosenmuller, yang rasanya seperti tersumbat, dengung, bahkan rasa nyeri,” sebutnya. Gejala lain bisa jadi terasa di mata serta leher.
"Ketika menemukan benjolan pada leher jangan langsung ke dokter bedah, karena 90 persen benjolan leher berpusat di Nasofaring. Ketika sudah diangkat lebih dulu, maka penyebaran sel kankernya bisa lebih cepat. Kemudian pilek menahun jangan dibiarkan, memang mirip sinusitis tapi lebih baik segera cek," ujarnya.
Di kota-kota besar, seperti Jakarta, apartemen menjadi salah satu pilihan hunian di tengah terbatasnya lahan tempat tinggal. Soal keamanan, tinggal di apartemen cukup terjamin karena dilengkapi dengan sistem canggih dan personil keamanan profesional, sehingga mudah menindak tetangga yang “resek” ataupun “nyeleneh”. Kebersihan serta perawatan gedung juga dilakukan pengembang secara rutin.
Sayangnya, dibalik keindahan hidup pada sebuah apartemen yang terletak pada pusat kota, meski sudah dirawat dan dibersihkan secara rutin, udara apartemen belum tentu bebas dari paparan polusi udara. Bagaimana polusi udara bisa mencemari ruang tempat kita tinggal dan menghuni?
Polusi udara dari luar ruangan bisa menyusup ke dalam ruangan apartemen melalui ventilasi serta jendela terbuka. Polutan-polutan tersebut kemudian menempel di lantai hingga perabot rumah tangga dan dapat terhirup, masuk ke dalam tubuh. Karena itu, kegiatan membuka jendela setiap hari agar udara sehat dan bersih bisa masuk ke dalam ruangan, tidak lagi relevan di kota-kota besar dengan polutan asap pembakaran kendaraan bermotor yang memenuhi dan terperangkap mengambang dalam atmosfer udara perkotaan.
Selain ventilasi, polutan di ruangan dapat bersumber dari asap rokok, material bangunan, hingga perabot rumah tangga. Karenanya, hendaknya tidak segera menempati rumah ataupun apartemen yang baru selesai dibangun, terutama bau cat masih memenuhi ruang udara ruangan.
Melansir artikel di laman theguardian.com, umumnya polusi udara terdiri dari empat polutan utama, yakni particulate matter (PM), ozon, nitrogen dioksida, dan sulfur dioksida. PM merupakan campuran partikel padat dan cair yang tersuspensi di udara. Salah satu polutan yang paling banyak memengaruhi kesehatan manusia adalah PM2.5. Pasalnya, partikel ini ukurannya lebih kecil dari 2.5 mikron (mikrometer) atau 1/30 diameter sehelai rambut manusia.
Karena itu, PM2.5 dapat masuk dengan mudah ke dalam aliran darah, paru-paru, hingga sistem kardiovaskular. Silent killer. Dalam jangka panjang, polusi udara yang terhirup dan masuk ke dalam tubuh dapat meningkatkan risiko penyakit-penyakit tidak menular, seperti stroke, kanker paru-paru, hingga penyakit jantung.
Sementara itu, dalam jangka pendek, polusi udara dapat menjadi salah satu penyebab gangguan kesehatan di kehidupan sehari-hari, misalnya : infeksi saluran pernapasan akut (ISPA), gangguan saluran pernapasan (asma), hingga pneumonia atau paru-paru basah. Inilah mengapa polusi udara dijuluki sebagai silent killer alias si pembunuh dalam senyap, karena dapat menyebabkan berbagai gangguan kesehatan serius tanpa disadari pemilik tubuh.
Bahkan, data World Health Organization (WHO) pada 2018 memperkirakan 7 juta orang meninggal setiap tahun akibat polusi udara. Tak hanya itu, sebuah studi dari Lancet Planetary Health tahun 2019 mengungkapkan, 4 juta anak-anak di dunia setiap tahunnya mengidap penyakit asma karena polusi udara dari kendaraan bermotor.
Penelitian itu menunjukan, peningkatan jumlah penderita asma pada anak banyak terjadi di wilayah-wilayah dengan tingkat pencemaran udara melebihi batas aman yang ditetapkan WHO. Adapun, WHO telah menetapkan bahwa ambang batas aman paparan polutan harian adalah 25 mikrogram per meter kubik.
Mencegah efek buruk polusi udara, dimulai dengan sesama warga saling memahami hak untuk hidup sehat merupakan hak setiap penghuni rumah dalam suatu pemukiman. Untuk mencegah gangguan kesehatan akibat paparan polusi udara di ruangan, terdapat beberapa cara yang bisa dilakukan.
Pertama, dengan rutin membersihkan ruangan apartemen, termasuk ventilasi dari debu menggunakan vacuum cleaner, sapu, atau pel. Selanjutnya, pastikan tubuh menerima asupan air atau terhidrasi dengan baik sepanjang hari, salah satu tips lainnya ialah mengkondumsi buah-buahan sebagai sumber antioksidan alami.
Sebagaimana dilansir oleh Kompas.com, minum banyak air sangat disarankan untuk membilas racun dari tubuh. Terakhir, dengan memastikan ruangan apartemen mendapatkan aliran udara bersih setiap waktu. Pasalnya, sama seperti di luar ruangan, udara dalam ruangan juga tidak luput dari paparan polusi udara. Ventilasi udara, yang sering kali dianggap sebagai tempat pertukaran udara bersih, justru bisa juga menjadi sumber polusi.
Sebabnya, udara kotor dari luar ruangan bisa masuk melalui lubang udara ini. Salah satu cara menjaga kualitas udara ruangan adalah dengan menggunakan pembersih udara (air purifier). Namun, solusi ini tidak disarankan dilakukan untuk jangka panjang. Sebab, jika ruangan selalu dalam kondisi tertutup, udara yang berputar dalam ruangan akan itu-itu saja.
Exhaust fan pun bukanlah solusi ideal, mengingat pertukaran udara sifatnya ialah dengan cara sebagai berikut: udara keluar dan udara yang masuk harus seimbang, siklus pertukaran udara, bukan hanya mengeluarkan ataupun memasukkan udara secara satu arah.
Ketika etnis Tionghua memperingati Tahun Baru Imlek di Indonesia, kita tentu terbiasa mendapati berbagai ornamen berbau oriental sebagai hiasan dan pajangan ruangan. Di beberapa tempat layaknya klenteng, kita juga bisa menemukan benda-benda khas Tahun Baru Imlek, berupa lampion merah atau bahkan dupa yang dibakar di berbagai sudut ruangan hingga membentuk awan asap dupa yang menyakitkan mata dan membakar tenggorokan pernafasan.
Pakar kesehatan ternyata cukup menyoroti asap dari pembakaran dupa yang memang bisa dengan mudah ditemukan di event Tahun Baru Imlek. Terdapat sebuah studi yang bahkan menunjukkan bahwa ada resiko kesehatan andai kita membakar dupa di dalam ruangan yang tertutup. Seperti apakah hasil studi memperlihatkan resiko kesehatan yang mungkin terjadi?
Pakar kesehatan Rong Zhou yang berasal dari South China University of Technology, memimpin sebuah penelitian yang dilakukan pada tahun 2015 silam. Dalam penelitian ini, Zhou dan timnya mencari tahu seberapa besar dampak asap dupa sebagai polusi udara. Sebagai informasi, telah banyak hasil studi yang sebelumnya menyebutkan bahwa asap dupa bisa meningkatkan resiko kanker dan tumor, namun, hasil dari penelitian-penelitian sebelumnya ini belum benar-benar spesifik.
Zhou dan timnya pun kemudian mengidentifikasi zat-zat apa saja yang ada dalam asap dupa. Mereka pun mengambil sampel berupa dupa yang terbuat dari kayu cendana dan kayu gaharu dan membandingkannya dengan asap rokok yang terkurung di dalam ruangan.
Hasilnya adalah, asap dupa ternyata memiliki konsentrasi partikel yang halus dan bahkan sangat halus. Didalamnya ditemukan cukup banyak aromatic, zat iritan, dan juga senyawa beracun. Zhou bahkan menyebutkan jika pada asap dupa ini memiliki zat kimia yang berpotensi mengubah materi genetik layaknya mutasi DNA, sehingga bisa memicu berbagai masalah kesehatan.
Setelah diuji-coba dengan hamster, dampak dari asap dupa bahkan lebih beracun jika dibandingkan dengan asap rokok.
Melihat adanya fakta ini, Zhou pun menyarankan kita yang ingin merayakan Tahun Baru Imlek agar tidak sembarangan membakar dupa di ruangan tertutup karena bisa berbahaya bagi kesehatan tubuh. Pastikan kita membakarnya di ruangan terbuka sehingga berbagai kandungan kimia ini tidak hanya terkonsentrasi di dalam ruangan saja dan terus menerus dihisap oleh pernafasan kita.
Aroma terapi tak hanya berasal dari minyak esensial yang dipanaskan saja. Namun juga bisa berasal dari dupa aroma terapi yang dibakar. Meski memberikan aroma yang menenangkan, namun menghirup asap dupa juga bisa membahayakan kesehatan yang sayangnya tidak para masyarakat sadari.
Peneliti mengklaim bahwa asap yang berasal dari dupa aroma terapi yang dibakar mengandung zat karsinogen seperti benzena, karbonil dan hidrokarbon poli aromatik. Zat ini mampu membahayakan kesehatan tubuh bila seseorang menghirupnya secara berlebihan. Maka, tidaklah perlu kita mencari penyakit sendiri untuk hal-hal yang sejatinya tidak diperlukan.
Asap juga bisa mengiritasi mata dan kulit. Terutama bagi seseoarng yang memiliki kulit sensitif, sa;aj satunya menyebabkan peradangan. Bagi mereka yang menderita asma, berhati-hatilah dengan asap dupa aroma terapi yang terbawa udara sebelum kemudian terhirup, karena bisa menyebabkan radang pada paru-paru. Menghirup asap aroma terapi dalam jangka panjang juga dapat membahayakan sistem pernapasan dan meningkatkan risiko kanker di saluran pernapasan.
Tingginya durasi paparan dan intensitas menghirup asap dupa berperan tinggi dalam mengakibatkan sejumlah kerusakan sel sehat tubuh. Disamping itu, menurut penelitian, paparan asap dupa aroma terapi juga mampu membahayakan fungsi ginjal karena tingginya kandungan zat besi, magnesium, bahkan timbal (yang sangat mengancam keselamatan sel otak). Selain bahaya tersebut, asap aroma terapi disinyalir juga dapat mencemari lingkungan yang kemudian membuat warga mengalami sakit kepala dan masalah neurologis lainnya.
Jadilah warga yang baik, dimulai dengan menghargai hak-hak setiap penghuni pada pemukiman atas kesehatan, bebas dari segala polusi, bebas dari segala polutan lintas batas, bebas dari ancaman bahaya kesehatan, agar tidak menimbun karma buruk selama kita hidup saling bertetangga dan saling berbagi ruang hidup maupun sumber daya air, udara, dsb.
Jadikan lingkungan pemukiman sebagai tempat ter-aman dan tersehat untuk bebas dari segala gangguan maupun polusi, bukan mengalih-fungsikannya menjadi tempat pembakaran sampah terlebih sebagai tempat usaha ilegal yang mengganggu ketenangan hidup warga pemukim.
Sadarilah, apakah perbuatan kita dapat merugikan dan mengancam kesehatan hidup orang lain ataukah tidak. Orang-orang yang tidak waspada pada perbuatannya sendiri, diibaratkan orang dungu yang sedang menggali lubang kuburnya sendiri dengan menimbun banyak karma buruk sepanjang hidupnya.
Karena KWANG EARRINGS adalah teman terbaik mu! 😊
SUMBER RUJUKAN:
https:// www. cnnindonesia .com/gaya-hidup/20160622092931-255-140016/bahaya-polusi-dalam-rumah-tanpa-ventilasi
https:// www. cnnindonesia .com/gaya-hidup/20160526033613-255-133499/asap-jadi-penyebab-utama-kanker-nasofaring?
https:// lifestyle. Kompas .com/read/2019/10/30/090400220/ngeri-bahaya-polusi-udara-juga-mengintai-di-apartemen?page=all
https:// doktersehat .com/jangan-menyalakan-dupa-di-ruangan-tertutup/
https:// www. merdeka .com/sehat/6-bahaya-tak-terduga-dari-menghirup-asap-dupa-aroma-terapi.html

  • Share:

You Might Also Like

0 comments

Untuk memesan Asesoris Perhiasan Imitasi Impor Berkualitas KWANG EARRINGS. baik eceran maupun dengan grosiran, silahkan kirimkan pemesanan Anda (Mohon cantumkan link url asesoris yang dipesan untuk kami pastikan ketersediaan stok produk). Tidak ada minimum pembelian jumlah item secara eceran, Bagi yang membeli secara grosir, mendapat diskon khusus. namun disertai ongkos kirim kurir JNE dari Jakarta, Indonesia:
- instagram dengan ID kwang_earrings
- email, telepon ataupun chatting online via Google Hangout : kwang.earrings@gmail.com
- LINE : RIANASHIETRA
- WhatsApp : (+62) 0817-4924-150.
- Juga Follow kami di Facebook: kwang_earrings

Syarat & Ketentuan:
- kerusakan dalam proses pengiriman, diluar tanggung jawab kami selaku penjual / supplier.
- tidak disertakan garansi, karena produk yang kami kirimkan dipastikan dalam kondisi baik dan utuh saat proses pengepakan dan pengiriman ke alamat pembeli.
- produk yang telah dipesan dan dikirimkan, tidak dapat dibatalkan ataupun ditukar.
- jika pelanggan puas atas layanan dan produk kami, mohon kesediaannya untuk dipromosikan ke rekan-rekan dan kerabat.

KWANG EARRINGS mengucapkan terimakasih atas kunjungan serta pembeliannya. Kami senang dapat membantu para wanita untuk tampil cantik dan manarik, dimana dan kapan pun berada, berapa pun usianya (tanpa batasan umur).
Berjiwa muda dan tampil belia, adalah keajaiban yang dapat dibantu oleh asesoris yang menawan sekaligus memikat. Kami senang dapat menyediakan pilihan perhiasan imitasi yang terjangkau namun tetap memperhatikan kualitas produk yang kami tawarkan secara eceran maupun grosiran.

Kami tunggu pesanan Anda, akan kami kirimkan pesanan Anda dengan hati yang penuh kehangatan untuk Anda atau untuk buah hati dan keluarga yang Anda kasihi.
Peluk dan Cium Erat!

Khusus untuk keperluan pemesanan barang dari Thailand, pemesanan dompet impor souvenir resepsi pertunangan / perkawinan, maupun untuk jasa PRIVATE TOUR GUIDE LEADER FREELANCE RIANA di Thailand, contact person:
- WhatsApp : (Thailand prefiks +66) 977-146-077;
- email, telepon, atau chatting online via Google Hangout : kwang.earrings@gmail.com
- LINE : RIANASHIETRA

TESTIMONI PEMBELI

TESTIMONI PEMBELI
Klik Gambar untuk Melihat TESTIMONI Pembeli Produk KWANG EARRINGS