Jangan Malu untuk Meminta Maaf dan Menyesali Perbuatan Ketika Membuat Kekeliruan

By SHIETRA - Desember 25, 2019

Jangan Malu untuk Meminta Maaf dan Menyesali Perbuatan Ketika Membuat Kekeliruan

Bila kita sepakat bahwa perbuatan baik adalah baik adanya, dan mengakui kesalahan serta meminta maaf adalah baik, maka kita tidak perlu malu ataupun merasa “gengsi” untuk meminta maaf dan melakukan penyesalan diri.
Sebaliknya, jika kita justru membuat kesalahan baru dengan cara berkilah, berdalih, menutupi satu dusta dengan dusta baru lainnya, melakukan tipu-muslihat baru untuk berkelit dari tanggung-jawab, serangkaian kebohongan, tidak mengakui kesalahan yang bahkan “buktinya sudah jelas di depan mata”, balik menuduh dan membuat akrobatik “putar balik fakta” yang sangat membuat jengkel bagai menyiram bensin ke dalam sekam api, atau bahkan “maling teriak maling”, maka itu artinya kita bukan hanya telah membuat satu kali kesalahan, namun menjelma serangkaian dan berkali-kali kesalahan dari satu buah kesalahan—bahkan menabuh genderang peperangan. Bersikap “defensif” boleh, namun landasannya tetap adalah sikap penuh kejujuran dan tanggung-jawab.
Hendaknya kita juga tidak membuat kekeliruan fatal akibat sikap bertanggung-jawab. Contoh sederhananya, sebagai ilustrasi untuk memudahkan pemahaman, kita yang semestinya bertanggung-jawab dengan turut memiliki sikap tanggung-jawab, janganlah berjalan dengan cara berjalan mundur, sehingga bila kita tertabrak atau ditabrak oleh pejalan kaki lainnya, kita tidak dapat melontarkan tuduhan secara tidak bertanggung-jawab : “Mata kamu di mana, sampai-sampai saya tertabrak atau kamu menabrak saya?” Mata Anda sendiri ditaruh di mana, siapa suruh berjalan dengan cara mundur, bertanggung-jawablah dengan memiliki tanggung-jawab dan bersikap penuh tanggung jawab.
Karenanya, seseorang yang masih mampu mengakui kesalahan tanpa berkelit dan tanpa banyak berbelit-belit, sejatinya dalam hati nuraninya masih memiliki secercah tanggung-jawab, sehingga mau dimintakan pertanggung-jawaban atas kejadian ataupun insiden yang terjadi. Dirinya masih memiliki harapan, namun tidak bagi mereka yang “gagal untuk merasa bersalah”.
Bila kita sendiri tidak bertanggung-jawab, maka kita pun tidak bisa meminta pertanggung-jawaban atas sikap dan perbuatan orang lain. Kita sendiri yang terlebih dahulu perlu bersikap penuh tanggung-jawab terhadap diri kita sendiri dan bertanggung-jawab atas sikap kita terhadap orang lain, dengan begitu kita baru dapat meminta pertanggung-jawaban orang lain yang telah melanggar hak-hak kita.
Menyalahkan orang lain itu paling mudah sekaligus paling “menggoda” untuk dilakukan (penghakiman menyerupai sifat gemar “bullying” itu sendiri), meminta pertanggung-jawaban orang lain juga sama mudahnya. Namun, untuk menjadi penuh tanggung-jawab, mengakui kekeliruan diri, serta dapat dimintai pertanggung-jawaban setelah meminta maaf (jangan hanya sekadar mudahnya meminta maaf lalu kabur pontang-panting atau hanya sekadar “besar di mulut” tanpa realisasi tanggung-jawab), hanya dapat dilakukan oleh seseorang yang berjiwa ksatria.
Entah mengapa, banyak masyarakat di Indonesia yang sekalipun telah berpendidikan tinggi, namun soal pertanggung-jawaban dan sikap ksatria demikian, sangat minim bila tidak dapat disebut sebagai “miskin sikap ksatria”.
Kontras dengn sikap kebanyakan diantara masyarakat Indonesia, warga Bangkok dan Thailand sangat tahu betul makna sikap hidup penuh tanggung-jawab, sebagaimana dilukiskan dengan sangat kongruen dengan sebuah peribahasa Belanda yang menyebutkan: "Een goed verstaander heeft maar een half woord nodig."—Artinya, orang yang pandai memahami, (cukup) membutuhkan separuh perkataan. Jika masih belum jelas, tahu berbuat apa yang diharapkan dari dia. Mereka yang pernah dan tinggal di Thailand, tahu betul karakter istimewa warga Thailand ini, dan masyarakat Indonesia perlu “cemburu” terhadap budaya karakter masyarakat lokal di Thailand.
Kesalahan adalah kesalahan, ia tidak dapat di-“sulap” menjadi kebenaran layaknya “cuci uang”. Kesalahan tidak dapat menjelma kebenaran sekalipun dibungkus oleh kemasan bernama dusta yang menutupi dusta lainnya, alias serangkaian kebohongan. Fakta adalah fakta, bila kebenarannya ialah adanya pengingkaran atas kesalahan, maka pengingkaran itu menjadi kesalahan kedua setelah melakukan kesalahan.
Sungguh malang seseorang yang hidup dari cara-cara tipu-muslihat maupun rangkaian kebohongan—seolah-olah dirinya tiak dapat hidup dengan kejujuran. Bukankah untuk bisa tidur tenang dan lelap penuh kedamaian pada malam hari, hanya bisa terjadi bila kita tahu siapa diri kita yang sebenarnya? Peribahasa berikut sangat tepat mencerminkan yang KWANG maksudkan:
Besi baik tiada berkarat. Perbuatan baik akan dipuji selamanya.”
Tong kosong selalu nyaring bunyinya, tiada yang benar-benar dapat kita bohongi ataupun tutupi. Dusta tetap adalah sebuah dusta, dan itu keliru membiarkan dusta ditutupi oleh dusta lainnya. Mereka yang hidup dari dusta, akan mati terkubur serta tercekik oleh segala dusta yang ditimbunnya semasa hidup—itu barulah dapat disebut sebagai “bad ending”, si dungu yang bernasib tragis akibat menggali lubang kuburnya sendiri, dengan penuh kebanggaan pula.
Ketika kita mencoba menutupi dusta dengan rangkaian kebohongan lainnya, sama artinya kita ingin mengatakan bahwa lawan bicara kita adalah “orang bodoh yang mudah untuk dibodohi”. Janganlah pernah kita melecehkan orang lain yang telah kita sakiti / rugikan dengan turut kembali melecehkannya dengan cara demikian. Peribahasa berikut secara khusus KWANG suguhkan, karena cukup relevan untuk kita simak bersama:
“Berani malu, takut mati. Berani melakukan pekerjaan terlarang, setelah ketahuan baru menyesal.”
Terkadang sangat lucu bila dipikirkan, orang merasa lebih senang disibukkan menyusun serangkaian kebohongan untuk menutupi kebohongan lain, ketimbang mengakui kesalahan dan meminta maaf serta melakukan introspeksi guna perbaikan diri. KWANG menyebutnya sebagai “kesalahan yang tidak perlu namun tetap dibuat juga”.
Ataukah, orang-orang yang lebih memilih untuk melakukan serangkaian kebohongan, merasa dirinya tidak perlu diperbaiki karena sudah “benar”, dan orang lain yang dimanipulasi dirinya yang justru perlu “diperbaiki”? Bukankah itu sikap yang mencerminkan sikap kekanak-kanakan? Selamanya akan kekanak-kanakan, tidak akan pernah tumbuh menjadi dewasa kecuali hanya tubuh yang membesar.
Ataukah, sesungguhnya mereka yang tidak berani mengakui kesalahannya, merupakan seorang “pengecut ulung”, alias ulung dalam hal sikap pengecut untuk mengakui kesalahan? Triston Cylberd pernah menuturkan:
“Mengerti adalah tahu apa yang akan dilakukan, kebijaksanaan adalah tahu apa yang akan dilakukan selanjutnya, dan keberaniaan adalah benar-benar melakukannya.”
Di Thailand, kita tidak akan demikian “capek hati” meladeni segala bentuk “tontontan” kilah-berkilah, ataupun tipu-daya sebagaimana harus kita hadapi setiap kali mendapati perilaku tidak baik dari orang-orang yang kita hadapi selama tinggal dan menetap di Indonesia. Di Thailand, salah adalah sebuah kesalahan, tidak perlu mencari pembenaran diri terlebih berkelit. Mereka akan penuh tanggung-jawab secara sendirinya, tanpa perlu kita minta.
Jiwa ksatria terpatri dalam setiap benak warga lokal di Thailand, dan itulah yang kemudian menjadi ciri khas warga Thailand, yang meyakini bahwa tiada seorang pun yang dapat menipu Hukum Karma, apalagi mencoba mencurangi hidup, dimana berbohong kelak akan dibohongi sehingga umat di Thailand takut dan malu untuk berbuat buruk (istilah Pali : hiri dan ottapa). Itulah yang patut ditiru oleh masyarakat di Indonesia pada khususnya.
Sikap dusta dan berkilah, semestinya menjadi watak yang memalukan dan bahkan membuat jijik diri kita sendiri mendapati bahwa diri kita adalah seorang pendusta ulung. Jangan pernah, menjadikan sikap unggul dalam menipu sebagai suatu prestasi terlebih kebanggaan, sebagaimana dituturkan oleh sang tokoh bernama Abraham Lincoln:
“Yang paling saya prihatinkan bukan apakah Anda telah gagal, tetapi apakah Anda telah puas dengan kegagalan Anda?”
Adalah sebentuk kegagalan besar bila seseorang menggali lubang dusta untuk dirinya sendiri membenamkan diri hingga ke dalam liang nista demikian. Sikap berbohong adalah buruk, mengapa juga seseorang memilih untuk mendekati dirinya dan melekat pada sifat buruk bagi dirinya sendiri? Ibarat memilih makanan yang kotor dan beracun, sudah tahu buruk, masih juga dimakan dan ditelan untuk dirinya sendiri. Pintar, ataukah bodoh jika sudah demikian? Atau ibarat mengenakan jubah, jubah kebohongan, atau tinggal dalam istana yang didirikan dari puing-puing dusta.
Dapat dikatakan, mereka yang selalu memilih menutupi kesalahannya, adalah seorang “pengecut” yang senantiasa memilih lari dari tanggung-jawab, ibarat pepatah “lempar batu sembunyi tangan”. Sesukar itukah, hidup secara jujur transparan apa-adanya, hidup tanpa menipu dan tanpa melecehkan orang lain dengan segala sikap tidak bertanggung-jawab diri kita?
Kita ingin menjadi seperti apa, ditentukan oleh kebiasaan kita sendiri sehari-hari. Bila gemar berdusta, jadilah pendusta. Gemar menipu, tidak akan mungkin menjelma seorang mulia terlebih suciwan, sekalipun dirinya memiliki banyak pengikut yang mudah ditipu dan dibodohi, karena dirinya sendiri sadar betul dirinya adalah seorang pendusta, hidup dari berkata dusta, tidak lebih dari itu.
Kita masih ingat betul “tragedi kemanusiaan” Mario Teguh di Indonesia, yang bahkan hendak menggugat anak kandungnya sendiri ketika sang anak kandung meminta pengakuan dari sang ayah kepada publik, yang ternyata adalah darah-daging sang Mario Teguh itu sendiri yang selama ini dikenal sebagai seorang “suciwan” (karena kerap mencatut nama Tuhan dalam setiap ceramahnya, seolah dirinya kenal betul siapa Tuhan) yang mana kerap diminta tampil untuk memberi “pencerahan” bagi para penggemar beratnya.
Hendak menjadi seperti apa kita, bukanlah penilaian orang lain, namun perlakuan kita dalam mendidik dan membina diri kita sendiri, seperti kalimat bijak berikut ini:
“Orang lain adalah cermin bagi kita, namun seperti apa hidup kita ditentukan oleh kita sendiri, bukan oleh banyaknya pengikut ataupun pengakuan dari orang lain.” (Anonim)
Merasa banggalah hidup sebagai orang yang jujur, apapun konsekuensi dan beratnya hidup secara jujur, karena konsekuensi bagi orang yang tidak jujur hidupnya akan jauh lebih berat lagi dimasa mendatang—yang sayangnya, diri para pembohong bahkan “egois terhadap dirinya sendiri” di masa mendatang karena bersikap “masak bodoh” terhadap segela konsekuensi yang harus ditanggung olehnya.
Dapat dikatakan, merasa hebat dapat menipu dan memperdaya orang lain, memanipulasi orang lain, mengeksploitasi orang lain, adalah sebentuk penyakit yang berbahaya, karena si pelakunya sendiri tidak sadar bahwa dirinya sedang sakit dan perlu penanganan khusus. Sebagai penutup, KWANG akhiri dengan mengutip kalimat bijak lainnya berikut ini:
 “Kadang-kadang tidak ada salahnya membuat kesalahan tetapi lakukanlah perbaikan diri dan jangan mengumpulkan gunung kesalahan yang suatu hari bisa longsor dan menimbun diri kita sendiri.” (Anonim)
Karena KWANG EARRINGS adalah teman terbaik mu! 😊

  • Share:

You Might Also Like

0 comments

Untuk memesan Asesoris Perhiasan Imitasi Impor Berkualitas KWANG EARRINGS. baik eceran maupun dengan grosiran, silahkan kirimkan pemesanan Anda (Mohon cantumkan link url asesoris yang dipesan untuk kami pastikan ketersediaan stok produk). Tidak ada minimum pembelian jumlah item secara eceran, Bagi yang membeli secara grosir, mendapat diskon khusus. namun disertai ongkos kirim kurir JNE dari Jakarta, Indonesia:
- instagram dengan ID kwang_earrings
- email, telepon ataupun chatting online via Google Hangout : kwang.earrings@gmail.com
- LINE : RIANASHIETRA
- WhatsApp : (+62) 0817-4924-150.
- Juga Follow kami di Facebook: kwang_earrings

Syarat & Ketentuan:
- kerusakan dalam proses pengiriman, diluar tanggung jawab kami selaku penjual / supplier.
- tidak disertakan garansi, karena produk yang kami kirimkan dipastikan dalam kondisi baik dan utuh saat proses pengepakan dan pengiriman ke alamat pembeli.
- produk yang telah dipesan dan dikirimkan, tidak dapat dibatalkan ataupun ditukar.
- jika pelanggan puas atas layanan dan produk kami, mohon kesediaannya untuk dipromosikan ke rekan-rekan dan kerabat.

KWANG EARRINGS mengucapkan terimakasih atas kunjungan serta pembeliannya. Kami senang dapat membantu para wanita untuk tampil cantik dan manarik, dimana dan kapan pun berada, berapa pun usianya (tanpa batasan umur).
Berjiwa muda dan tampil belia, adalah keajaiban yang dapat dibantu oleh asesoris yang menawan sekaligus memikat. Kami senang dapat menyediakan pilihan perhiasan imitasi yang terjangkau namun tetap memperhatikan kualitas produk yang kami tawarkan secara eceran maupun grosiran.

Kami tunggu pesanan Anda, akan kami kirimkan pesanan Anda dengan hati yang penuh kehangatan untuk Anda atau untuk buah hati dan keluarga yang Anda kasihi.
Peluk dan Cium Erat!

Khusus untuk keperluan pemesanan barang dari Thailand, pemesanan dompet impor souvenir resepsi pertunangan / perkawinan, maupun untuk jasa PRIVATE TOUR GUIDE LEADER FREELANCE RIANA di Thailand, contact person:
- WhatsApp : (Thailand prefiks +66) 977-146-077;
- email, telepon, atau chatting online via Google Hangout : kwang.earrings@gmail.com
- LINE : RIANASHIETRA

TESTIMONI PEMBELI

TESTIMONI PEMBELI
Klik Gambar untuk Melihat TESTIMONI Pembeli Produk KWANG EARRINGS