Ketika Kucing Kecil Melihat Sosoknya di Cermin sebagai seekor Singa

By SHIETRA - Januari 08, 2020

Ketika Kucing Kecil Melihat Sosoknya di Cermin sebagai seekor Singa

Sobat KWANG pasti pernah melihat poster unik yang berisi gambaran seekor kucing sedang berduduk asyik di depan sebuah cermin, mengamati dirinya sendiri. Hanya saja yang membuat poster itu menjadi  “unik-menyentil”, karena sang kucing kecil melihat sosoknya di cermin itu sebagai seekor singa yang perkasa dan bertubuh kekar.
Ada sebagian komentator yang menilai, bahwa poster tersebut berisi pesan “menyindir”, seolah hendak berkata : wahai “kucing” kecil lemah, janganlah memandang dirimu sebagai seekor “singa” si raja hutan yang perkasa.
Namun, entah mengapa dan bagaimana, KWANG memiliki perspektif yang berbeda dari komentar sebagian orang-orang terhadap isi poster yang sama. Bagi KWANG, itulah poster yang melambangkan keberanian sejati. Bayangkan, apa jadinya bila kita balik keadaannya, seekor singa yang besar kuat bertaring, sibuk memandangi dirinya sendiri di cermin, namun yang dilihat olehnya adalah sesosok kucing kecil dibalik cermin itu? Artinya, hati sang singa ternyata “kecil” sekecil seekor kucing yang mini-kecil.
Ternyata memang persoalan “mind set” disini, bukan lagi persoalan “selera”, namun lebih kepada paradigma berpikir dan cara memandang berbagai fenomena sosial maupun kecakapan dalam memahami diri kita sendiri (“kecerdasan intrapersonal”). Sah-sah saja bila ada seseorang yang memandang besar dirinya sendiri, sama sahnya dengan seseorang yang memandang kecil dirinya sendiri.
Potensi dan bakat seseorang manusia pada dasarnya demikian “dalam”, namun banyak diantara mereka yang “pupus” ditengah-tengah jalan akibat mental mereka yang “kerdil”, bukan masalahnya yang besar namun seringkali mental kita yang terlampau kecil sehingga diliputi ketakutan, bukan juga bakat maupun potensi mereka yang “kecil”—sehingga talenta mereka menjadi tumpul tidak terasah, bahkan menjelma “karatan” karena jarang atau bahkan tidak pernah diasah dan ditelantarkan atau disia-siakan begitu saja.
Bisakah Sobat membedakan makna pembeda antara seekor kucing yang melihat sosok dirinya pada sebuah cermin sebagai seekor singa, dan sebaliknya seekor singa yang justru memandang dirinya di depan sebuah cermin sebagai seekor kucing “kecil” yang “menciut” volume tubuhnya?
Lebih baik menjadi yang mana, menjadi sekecil kucing mungil “kecil” yang memandang dirinya sebagai seekor singa, ataukah menjadi sebesar singa besar bertaring yang “bongsor” bobot tubuhnya namun memandang dirinya sendiri sebagai seekor kucing “lemah” dan “penakut”?
Lebih baik yang manakah, iblis berjubah malaikat ataukah malaikat yang berjubah iblis agar tidak di-bully orang-orang serakah dan usil tangannya.
Mari kita beralih pada bahasan selanjutnya untuk menjadi bahan renungan bagi kita bersama. Pada suatu pagi, ketika KWANG keluar dari pintu rumah, tampak seekor tikus hitam besar sedang asyik menjelajahi halaman depan kediaman rumah KWANG. Namun, ketika sang tikus melihat sesosok manusia, dirinya langsung lari terbirit-birit mencari tempat bersembunyi. Tampaknya si tikus hitam, takut pada manusia.
Padahal, jika boleh jujur, sebenarnya si tikus tidak perlu lari pontang-panting saat melihat KWANG, karena KWANG yang akan lari terbirit-birit saat melihat tikus hitam besar itu. Dengan kata lain, KWANG yang sejatinya paling takut pada si tikus hitam—tikus hitam yang paling kecil sekalipun KWANG juga takut.
Namun syukurlah, si tikus rupanya cukup “tahu diri” dan bisa bercermin, bahwa dirinya menjijikkan dan buruk, sehingga merasa “malu” ketika terlihat oleh manusia dan berusaha bersembunyi ketika berjumpa manusia. Sikap “tahu diri”, membuat dirinya “tahu malu”. Bila seekor tikus saja tahu tentang bersikap “tahu diri” dan “tahu malu”, maka kita sebagai manusia juga harus “tahu diri” dan mampu “bercermin diri” sehingga “malu untuk menjadi makhluk yang seburuk tikus”. Jika seekor tikus saja bisa “tahu malu”, maka bagaimana bila seorang manusia “tidak punya malu”?
Kebalikan dengan seekor tikus, seekor nyamuk yang kecil “mini”, begitu beraninya mengganggu manusia untuk menghisap darah, terbang mengelilingi manusia seolah dirinya superman yang super dan “kebal”—alias “sok hebat” dan “sok cari perkara”. Padahal, jika dirinya ditepuk sedikit saja, sudah langsung “K-O” (knock out). Si nyamuk rupanya terlampau “over estimated” kemampuan terbangnya—yang memang sangat gesit dan menyebalkan, terlebih suara dengungnya dan gigitannya.
Esensinya, kita harus mampu dan mau untuk mendidik diri kita sendiri. Panduan utamanya ialah: hal-hal buruk tidak perlu diajari dan tidak perlu belajar, karena watak manusia cenderung menyerupai air yang alamiahnya mengalir ke bawah, bukan ke atas. Sementara itu, hal-hal baik harus senantiasa dipelajari dan diajari, salah satunya kita perlu mendidik diri kita sendiri untuk bersikap baik dan memiliki nilai-nilai kebaikan diri. Singkatnya, pengetahuan serta sifat-sifat baik perlu dipelajari, tidak bisa tumbuh secara sendirinya.
Sejatinya, menurut pembabaran Sang Buddha, seseorang bukanlah menjadi mulia ataupun menjadi terhina akibat kelahiran, namun akibat hasil dari perbuatannya sendiri semasa hidup. Kita bukanlah seekor singa ataupun seekor kucing kecil akibat kelahiran kita, kita menjadi seperti apa dan menjadi siapa adalah karena perbuatan diri kita sendiri, bagaimana kita mendidik diri kita sendiri, serta bagaimana kita mengasuh diri kita sendiri selama ini.
Terdapat sebuah pertanyaan yang mungkin pernah ditanyakan oleh setiap orang kepada diri kita sendiri, yakni : Apakah sebetulnya kita ini orang “pandai” ataukah orang “bodoh”? Sebenarnya, jika kita renungkan lebih jauh lagi, tidak ada yang namanya “pintar” ataupun yang “bodoh”, yang ada ialah kegagalan seseorang untuk menjadi manusia yang betul-betul pandai, sebagaimana tercermin dalam nasehat bijak berikut ini:
“Orang yang mau bertanya dan berguru adalah orang yang ‘bodoh’ selama 5 menit atau selama beberapa tahun lamanya saat proses berguru, sedangkan orang yang tidak bertanya adalah orang yang bodoh selamanya.” (Anonim)
Siapakah diri kita ini sebenarnya? Mungkin itu adalah pertanyaan lain yang lebih mendalam lagi untuk direnungkan. Namun, adalah ironi dan menjelma tragedi satiris ketika seseorang gagal untuk mengajukan pertanyaan demikian dalam hidupnya. Apalah gunanya hidup hingga berumur ratusan tahun, namun tanpa pernah mengajukan pertanyaan penting tersebut?
Over estimated” secara tidak rasional sama tidak bagusnya dengan “under estimated” secara tidak rasional, sama-sama tidak rasional. Meremehkan dan merendahkan diri sendiri adalah “penyakit mental” yang sama kurang baiknya dengan terlampau membanggakan diri sendiri di depan orang lain—berbangga diri boleh, sepanjang itu berbangga diri di hadapan diri kita sendiri. Selengkapnya dapat diilustrasikan lewat pesan berikut:
“Galilah kedalam diri kita, maka kita akan menemukan kekayaan kita yang berlimpah. Galilah lagi, maka kita akan menemukan intan paling berharga di dalam diri kita. Namun bila kita terlampau serakah dan tidak rasional, mungkin kita akan menemukan diri kita sedang berkubang dalam kubangan lumpur, menjadi satu-padu dengan lumpur itu.” (Anonim)
Sepenting itukah menjadi “singa” atau menjadi “kucing”? Mungkin saja singa itu hebat, besar, perkasa dan disegani, bahkan dijuluki raja hutan, namun seekor singa mungkin akan merasa cemburu ketika menyaksikan seekor kucing dibelai dan begitu disayangi oleh manusia, bahkan bisa bermain-main dan diberi makan oleh manusia tanpa perlu repot-repot mengejar dan berburu makanan. Lihat, seekor kucing tidak pernah merasa iri hati ataupun cemburu terhadap seekor singa ataupun harimau si “kucing besar”. Bukanlah itu yang terpenting, namun inilah yang terpenting:
“Hidup ini penuh resiko, masalah dan kesedihan tetapi juga penuh kegembiraan, keberuntungan, dan kebahagiaan.” (Anonim)
Ketika kita mengalami kesalahan dan kegagalan, apakah artinya kita menjadi “sekecil” seekor kucing yang “kecil”? Berkecil hati dan tetap berkecil hati, bukanlah solusi yang paling ideal. Semua orang besar dan orang-orang sukses pastilah juga pernah merasakan pahit-getinya kegagalan dan kekeliruan, hingga diremehkan dan diperlakukan secara tidak patut, namun yang membedakan antar individu ialah respons (alias cara kita bersikap dan menyikapi), bukan masalahnya yang paling esensial, sebagaimana tertuang dalama nasehat yang sudah sangat sering kita dengar, untuk sekadar kembali KWANG ulangi yakni sebagai berikut:
Kegagalan harus menjadi guru bagi kita, bukan sebagai ‘tukang kubur’ kita.” (Anonim)
Sudahkah hari ini kita menjadi diri kita sendiri dan membangun diri kita sendiri menjadi seseorang jati diri yang ideal bagi diri kita sendiri? Tidak penting dahulu kala kita memulainya dari bawah selokan, yang terpenting kita tahu siapa diri kita serta kearah mana kita sedang melangkah dan berjuang naik, membentuk harkat dan martabat diri kita sendiri. Yang terpenting, berjuang untuk naik, bukan menjatuhkan dan membuat terpuruk diri kita sendiri oleh perbuatan-perbuatan "hewani" yang tidak beradab.
Padi, semakin berisi semakin "merunduk". Sebaliknya, tong kosong semakin "kosong" semakin "nyaring" bunyinya. Karena KWANG EARRINGS adalah teman terbaik mu! 😊

  • Share:

You Might Also Like

0 comments

Untuk memesan Asesoris Perhiasan Imitasi Impor Berkualitas KWANG EARRINGS. baik eceran maupun dengan grosiran, silahkan kirimkan pemesanan Anda (Mohon cantumkan link url asesoris yang dipesan untuk kami pastikan ketersediaan stok produk). Tidak ada minimum pembelian jumlah item secara eceran, Bagi yang membeli secara grosir, mendapat diskon khusus. namun disertai ongkos kirim kurir JNE dari Jakarta, Indonesia:
- instagram dengan ID kwang_earrings
- email, telepon ataupun chatting online via Google Hangout : kwang.earrings@gmail.com
- LINE : RIANASHIETRA
- WhatsApp : (+62) 0817-4924-150.
- Juga Follow kami di Facebook: kwang_earrings

Syarat & Ketentuan:
- kerusakan dalam proses pengiriman, diluar tanggung jawab kami selaku penjual / supplier.
- tidak disertakan garansi, karena produk yang kami kirimkan dipastikan dalam kondisi baik dan utuh saat proses pengepakan dan pengiriman ke alamat pembeli.
- produk yang telah dipesan dan dikirimkan, tidak dapat dibatalkan ataupun ditukar.
- jika pelanggan puas atas layanan dan produk kami, mohon kesediaannya untuk dipromosikan ke rekan-rekan dan kerabat.

KWANG EARRINGS mengucapkan terimakasih atas kunjungan serta pembeliannya. Kami senang dapat membantu para wanita untuk tampil cantik dan manarik, dimana dan kapan pun berada, berapa pun usianya (tanpa batasan umur).
Berjiwa muda dan tampil belia, adalah keajaiban yang dapat dibantu oleh asesoris yang menawan sekaligus memikat. Kami senang dapat menyediakan pilihan perhiasan imitasi yang terjangkau namun tetap memperhatikan kualitas produk yang kami tawarkan secara eceran maupun grosiran.

Kami tunggu pesanan Anda, akan kami kirimkan pesanan Anda dengan hati yang penuh kehangatan untuk Anda atau untuk buah hati dan keluarga yang Anda kasihi.
Peluk dan Cium Erat!

Khusus untuk keperluan pemesanan barang dari Thailand, pemesanan dompet impor souvenir resepsi pertunangan / perkawinan, maupun untuk jasa PRIVATE TOUR GUIDE LEADER FREELANCE RIANA di Thailand, contact person:
- WhatsApp : (Thailand prefiks +66) 977-146-077;
- email, telepon, atau chatting online via Google Hangout : kwang.earrings@gmail.com
- LINE : RIANASHIETRA

TESTIMONI PEMBELI

TESTIMONI PEMBELI
Klik Gambar untuk Melihat TESTIMONI Pembeli Produk KWANG EARRINGS